
Ilustrasi perebutan kekuasaan oleh 3 anggota Kerajaan paska meninggalnya Raja
Kita sedang menyaksikan sebuah paradoks di mana Kerajaan Arab Saudi yang dianggap berdiri di atas fondasi agama, sejak beberapa dekade ini justru tampak paling takut pada realitas eskatologis agamanya sendiri.
Para penguasa Saudi merasa terjepit di antara dua kekuatan mesianik besar, Zionisme dari arah Barat, dan nubuwah kemunculan pasukan Imam Mahdi dari arah Timur.
Dari barat ada Israel yang sibuk menyiapkan kemunculan “al-Masih” mereka, sementara dari timur ada Houthi Yaman yang memiliki keyakinan sama dengan Iran tentang sudah dekatnya kemunculan Imam Mahdi.
Yaman dan Iran jelas disebut dalam hadits-hadits sahih akan menjadi wilayah asal kemunculan pasukan Imam Mahdi. Belum lagi Hadits tentang Api dari Yaman.
Situasi pelik yang dihadapai Kerajaan Arab Saudi saat ini, memaksa mereka untuk memilih untuk “memusuhi” Iran & Yaman yang dianggap paling mengancam tahta mereka, dan “merangkul” Israel & AS yang dianggap “memberi perlindungan”, guna mempertahankan kelanggengan Kerajaannya, paling tidak untuk sementara.
Penguasa Saudi pastilah juga tahu, bahwa keyakinan Mesianik Israel juga membawa ancaman lain dengan agenda “Israel Raya-nya”, yang akan mencaplok sebagain wilayah baratnya. Namun, untuk sementara nampaknya mereka lebih memilih menghadang lebih dulu kemunculan pasukan dari Timur.
Sementara itu, Israel nampaknya juga sadar, bahwa ada sebuah negara bernama Iran yang memiliki keyakinan eskatologis “tak bisa ditawar” tentang pasukan Imam Mahdi, yang akan membebaskan Yerusalaem.
Kesamaan kepentingan merasa terancam Iran itulah yang mendasari para penguasa Saudi rela bersekutu dengan musuh Islam Israel & AS, bahkan sejak akhir perang dunia ke2 merelakan wilayahnya ditempati basis militer AS.
Sehingga, disaat pertempuran akhir zaman itu kini sudah mulai terjadi, Kerajaan Saudi terang-terangan mendukung AS-Israel, bahkan ada info menggelontorkan dana milyaran dolar untuk mendukung serangan AS-Israel ke Iran.
MBS dan Netanyahu sama-sama meyakini, sekarang inilah saatnya kesempatan bersejarah untuk “membentuk kembali Timur Tengah”. Dan yang mereka maksud dan mereka mau adalah, bahwa hanya tinggal Israel satu-satunya pemain utama di Timur Tengah.
Arab Saudi Dalam Dilema Geoplitik Akhir Zaman
- Dilema Antara Teks Hadits dan Kelanggengan Kekuasaan
Nubuwah Hadits-hadits populer dimana kekuasaan Arab Saudi akan runtuh ketika muncul Imam Mahdi, menjadi momok pertama dan utama penguasa Arab Saudi.
Bagi Arab Saudi, aliansi militer dengan Barat (Amerika Serikat) nampaknya dipandang sebagai “pilihan darurat” atau mungkin “pilihan utama” untuk menjaga kedaulatan negara, sebelum kemuculan Imam Mahdi.
Dari sudut pandang kritis, hal ini memang tampak bertentangan dengan prinsip teologis akhir zaman. Namun “skenario Allah tidak mungkin bisa dilawan”, meski dari sudut pandang penguasa, ini adalah upaya mencegah “kehancuran kerajaan” yang diramalkan dalam teks-teks Hadits.
Dengan merangkul kekuatan super power, mereka berharap bisa menunda atau menghindari skenario kekacauan yang akan mengakhiri kekuasaan dinasti mereka.
- Dilema Dengan Israel: Antara Sekutu & Ancaman
Di Israel, kelompok religius kanan dan faksi-faksi tertentu dalam pemerintahan semakin vokal mengenai persiapan era Mesianik. Beberapa langkah nyata yang mereka lakukan meliputi:
- Pemindahan Kedubes ke Yerusalem: Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota tunggal Israel dipandang sebagai langkah kunci untuk memulihkan kejayaan kerajaan Daud masa lalu. Negara-negara sahabat Israel didorong memindahkan Kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
- Abraham Accords: Perjanjian normalisasi dengan negara-negara Arab (UEA, Bahrain, dll.) bukanlah soal ekonomi seperti yang diucapkan Israel, tetapi untuk menciptakan “lingkungan regional yang damai & kondusif” yang dianggap perlu sebelum pembangunan Bait Suci Ketiga.
- Proyek Sapi Merah (Red Heifer): Upaya nyata mengimpor sapi merah dari Texas untuk ritual pentahiran adalah persiapan teknis bagi para imam Yahudi agar dapat beribadah kembali di lokasi Bait Suci.
Persiapan itu sebagai bagian dari upaya Israel menyambut “al Masih” mereka, dengan menciptakan situasi dan lingkungan yang kondusif sebelum kemunculannya.
Messianic agenda Israel akan menjadi ancaman lain bagi Arab Saudi, diaman dalam agenda “Israel Raya’ (the greater Israel), wilayah baru Israel akan memotong sebagian wilayah barat Arab Saudi.
Namun entah karena takut atau dianggap mungkin bisa dinegosiasikan, ancaman agenda “Israel Raya” untuk sementara seperti diabaikan oleh Arab Saudi, dan lebih fokus pada menghadapi persiapan Iran menyiapkan jalan bagi kemunculan Imam Mahdi.
Strategi MBS menghadang kemunculan Pasukan Imam Mahdi
MBS tentunya sangat tahu, bahwa Hadits-hadits sahih yang juga diyakini umat Suni menyebut, bahwa pasukan Imam Mahdi akan muncul dari dua wilayah: dari wilayah Aden Abiyan yang secara simbolik mewakili wilayah Yaman, dan dari wilayah Khurasan yang fakta geopolitik perannya mengerucut pada Iran.
Kekhawatiran akan munculnya pasukan Imam Mahdi mendorong penguasa Saudi untuk mengambil langkah-langkah politis dan militer pada dua wilayah yang akan menjadi ancaman: Yaman dan Iran.
- Strategi Saudi hadang Pasukan Imam Mahdi Dari Yaman
Intervensi militer Arab Saudi di Yaman dimulai pada 25 Maret 2015, melalui operasi yang disebut “Operasi Badai Yang Menentukan” (Operation Decisive Storm).
Koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangan udara dan blokade untuk melawan pemberontak Houthi, dan mengembalikan kekuasaan Presiden Yaman Abdrabbuh Mansur Hadi yang bersekutu dengan Kerajaan Saudi.
Arab Saudi melihat, pergantian kekuasaan di Sanaa ke kelompok Houthi yang didukung Iran merupakan ancaman besar bagi Kerajaannya, sehingga meski melanggar hukum internasional dengan melakukan agresi ke wilayah negara lain, namun hal itu dianggap harus dilakukan.
Bahkan alasan yang dikemukakanpun sangat tidak masuk akal: “karena ada permintaan langsung dari Presiden Yaman Abdu Rabuh Mansour Hadi melalui surat resmi,” padahal saat itu Mansour Hadi sendiri sudah bukan lagi presiden.
Strategi MBS itulah yang mendorong Kerajaan Saudi memutuskan menginvasi Yaman, dan sampai sekarang masih menancapkan taring militernya di Yaman selatan.
“Kami tahu bahwa kami adalah target utama dari Iran, kami tidak akan menunggu sampai pertempuran mencapai wilayah Arab Saudi, jadi kami akan mengupayakan agar pertarungan terjadi diwilayah mereka, di Iran (dan Yaman) dan bukan di Arab Saudi”.
- Strategi Saudi hadang Pasukan Imam Mahdi Dari Iran
Diantara seluruh negara Arab Teluk, Arab saudi adalah negara yang paling punya kepentingan sama dengan Israel, ingin kehancuran militer Iran, dan pergantian penguasa di Iran.
Strategi yang diterapkan Saudi masih sama dengan di Yaman, yaitu ingin agar wilayah asal pasukan Imam Mahdi dilemahkan, perang harus terjadi bukan diwiayah saudi. Namun, karena Iran memiliki kekuatan militer besar, yang bisa dilakukan adalah “membeli” kekuatan super power AS untuk menyerang Iran.
Sebelum perang 40 hari yang dimulai 28 Maret lalu, Putra Mahkota Saudi MBS terus mendorong Presiden Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran, dengan alasan bahwa ini adalah kesempatan bersejarah untuk “membentuk kembali Timur Tengah”.
Menurut laporan itu, dalam serangkaian panggilan telepon itu, MBS mengatakan kepada Trump bahwa dia harus mendorong “penghancuran” rezim Iran.
MBS berpendapat, bahwa Iran merupakan ancaman bagi negara-negara Teluk, dan hanya dengan menyingkirkan penguasa Iran maka ancaman itu dapat dihilangkan.
Potongan pernyataan MBS dalam interview berikut menggambarkan bagimana kebuntuan MBS menghadapi pemikiran Iran, bagimana dia merasa tidak mungkin terjadi hubungan selaras dengan Iran, mengingat keyakinan eskatologis Iran yang gencar menyiapkan jalan bagi kemunculan Imam Mahdi
“Bagaimana mungkin kita bisa berdialog dengan negara dan pemimpin yang dalam konstitusinya menyebut mereka harus menguasai muslim dan dan dunia Islam (menundukkan Kerajaan Saudi). Dan menyebarkan 12 doktrin Shiah tertentu tentang kemunculan Imam Mahdi?”
“Bagimana mungkin kita bisa berdialog dengan mereka tentang kepentingan kami masing-masing? Bagimana bisa kami berkomunikasi degan mereka? Seperti misalnya soal ekonomi, apa yang anda inginkan, apa yang kami inginkan, apakah ada masalah politik, seperti yang kita lakukan dengan kesefahaman kami dengan Rusia di Suriah, dan juga di Yaman.”
“Bagaimana mungkin kita bisa mencapai kesefahaman dengan Iran, jika yang mereka fikirkan tentang sudah dekatnya kemunculan Imam Mahdi? Dan mereka harus menyiapkan lingkungan yang baik (kondusif) bagi Imam Mahdi?”

















