
Departemen Pertahanan AS yang kini bernama “Departemen perang”, baru saja merilis sebuah laporan setebal 100 halaman, berisi asesmen tahunan yang wajib diserahkan kepada Kongres.
Secara umum, laporan yang dirilis 23 Desember 2025 itu menyatakan bahwa raksasa Asia China sedang memperluas kemampuannya di beberapa domain strategis utama, termasuk dibidang siber, ruang angkasa, dan nuklir, dalam persiapan menghadapi hambatan dari AS atas rencananya mengakuisisi Taiwan kedalam wilayahnya.
China disebut sedang dalam perjalanan untuk memenuhi arahan pemimpin Xi Jinping agar mampu mencapai “kemenangan strategis yang menentukan atas Taiwan pada tahun 2027″, jika perintah Invasi diberikan.
Laporan tahunan DoD (Departemen of Defence) itu secara terbuka menyebut, bahwa China berharap dapat berperang dan memenangkan perang di Taiwan pada akhir tahun 2027.
Bahwa pada tahun 2024 China “menguji komponen-komponen penting” dari opsi invasi Taiwan, “termasuk melalui latihan untuk menyerang target laut dan darat, menyerang pasukan AS di Pasifik, dan memblokir akses ke pelabuhan-pelabuhan utama.”
Sekilas Tentang Agenda “Rejuvenasi 2049”
Laporan penilaian DoD itu, meski tidak secara eksplisit namun juga menyinggung soal ambisi strategis China pada tentang apa yang disebut sebagai rencana “Rejuvenasi 2049”.
Rejuvenasi 2049 (National Rejuvenation 2049) merujuk pada visi jangka panjang Xi JinPin untuk mencapai pemulihan nasional secara penuh, menjadikan China kekuatan sosialis modern yang makmur, kuat, demokratis, beradab, dan harmonis pada peringatan seratus tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 2049.
China di bawah kepemimpinan Xi Jinping dinilal oleh laporan ini terus mengejar “Mimpi China” untuk mencapai peremajaan bangsa pada tahun 2049. Ambisi ini didukung oleh pembangunan militer “kelas dunia” yang dirancang untuk menggeser posisi AS sebagai kekuatan dominan global.
Ambisi “Perang Total”, Obsesi Taiwan, dan Tantangan Internal
Dalam laporan setebal seratus halaman itu, Departemen Pertahanan AS (DoD) memaparkan penilaian paling mutakhir, terutama mengenai transformasi militer China, lonjakan kemampuan teknologi dan nuklir Beijing yang luar biasa, ambisinya menyatukan China, sampai korupsi sistemik yang melumpuhkan sebagian kepemimpinan militer tertinggi.
- Strategi Nasional: Menuju “Perang Total”
Yang dianggap paling mengkhawatirkan bagi perencana pertahanan AS adalah pergeseran konsep strategi China menuju apa yang disebut Beijing sebagai “Perang Total Nasional” (National Total War). Dimana konsep ini memandang konflik masa depan bukan sekadar bentrokan militer, melainkan mobilisasi seluruh sumber daya negara, sipil, ekonomi, dan militer, untuk mengalahkan musuh yang kuat.
China (PLA) dinilai sedang mengukur konsep dan kemampuannya secara langsung terhadap “musuh kuat” dan utamanya, yaitu AS.
Secara regional, fokus utama China tetap pada “Rantai Pulau Pertama” (First Island Chain), namun seiring bertambahnya kekayaan dan kekuatan, PLA mulai memproyeksikan kekuatan secara global.
- Taiwan: Titik Didih dan Target 2027
Fokus paling tajam dalam laporan ini adalah persiapan China menghadapi potensi atau kontingensi konflik di Taiwan. PLA dinilai terus membuat kemajuan stabil menuju tujuannya di tahun 2027, yang menuntut kemampuan militer untuk melakukan penyatuan paksa dengan Taiwan jika perlu.
Opsi Militer China
Beijing dinilai oleh DoD sedang menyempurnakan berbagai opsi militer untuk memaksa penyatuan Taiwan, mulai dari blokade maritim hingga invasi amfibi skala penuh:
- Kampanye Blokade Gabungan: Memutus akses maritim dan udara Taiwan untuk memaksa kapitulasi ekonomi dan politik.
- Kampanye Serangan Senjata Gabungan: Serangan rudal presisi terhadap infrastruktur pemerintah dan militer Taiwan untuk memenggal kepemimpinan dan mematahkan moral.
- Invasi Amfibi (Joint Island Landing Campaign): Opsi paling berisiko namun paling menentukan, melibatkan serangan tiga matra yang kompleks untuk menduduki pulau tersebut.
Eskalasi “Joint Sword”
Sepanjang 2024, PLA meningkatkan tekanan militer melalui latihan militer “Joint Sword-2024A” (Mei) dan “Joint Sword-2024B” (Oktober) sebagai respons terhadap pidato pelantikan dan pidato nasional Presiden Taiwan Lai Ching-te.
Latihan ini untuk pertama kalinya melibatkan Penjaga Pantai China (China Coast Guard/CCG) yang melakukan patroli penegakan hukum di sekitar pulau-pulau terluar Taiwan, menandakan integrasi strategi militer dan sipil.
Laporan mencatat rekor aktivitas PLA di sekitar Taiwan pada 2024, dengan sekitar 2.771 pesawat terdeteksi di ADIZ Taiwan, meningkat tajam dari 1.703 pada tahun 2023. China juga semakin sering melintasi garis tengah Selat Taiwan, mengikis norma tidak resmi yang telah bertahan puluhan tahun.
- Ekspansi Nuklir, Ruang Angkasa, dan Siber
Peningkatan Arsenal Nuklir
China dinilai sedang dalam jalur untuk memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030.
Pada September 2024, PLA meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) ke Samudra Pasifik untuk pertama kalinya sejak 1980, sebuah sinyal pencegahan strategis yang kuat. China juga sedang membangun kemampuan “Early Warning Counterstrike” (serangan balik peringatan dini), yang memungkinkan peluncuran nuklir segera setelah mendeteksi serangan rudal musuh.
Dominasi Ruang Angkasa dan Siber
Tahun 2024 menandai perubahan organisasi besar dengan pembubaran “Strategic Support Force” (SSF). Fungsinya kini dipecah menjadi unit-unit yang melapor langsung ke CMC: Pasukan Ruang Angkasa (Aerospace Force), Pasukan Dunia Maya (Cyberspace Force), dan Pasukan Dukungan Informasi.
- Siber: China dinilai tetap menjadi ancaman siber paling persisten bagi AS. Kampanye spionase seperti “Volt Typhoon” dinilai telah menyusup ke infrastruktur kritis AS, yang dianggap sebagai persiapan untuk mengganggu mobilisasi militer AS jika terjadi konflik.
- Luar Angkasa: China memiliki lebih dari 500 satelit ISR (Intelijen, Pengawasan, Pengintai) di orbit, meningkatkan kemampuannya memantau pasukan AS di seluruh Pasifik. Mereka juga mengembangkan senjata anti-satelit (ASAT), termasuk laser penghancur dan satelit dengan lengan robotik yang dapat menangkap satelit lain.
- Hubungan dengan Rusia dan Diplomasi Global
Hubungan pertahanan China-Rusia dinilai semakin dalam, didorong oleh kepentingan bersama untuk menyaingi AS. Meskipun belum membentuk aliansi pertahanan formal, kedua negara meningkatkan kompleksitas latihan gabungan mereka.
- Patroli Pembom Nuklir: Pada Juli 2024, pembom China dan Rusia melakukan patroli gabungan di dekat Alaska. Kemudian pada November 2024, untuk pertama kalinya China mengerahkan pembom berkemampuan nuklir dalam patroli bersama Rusia.
- Dukungan Perang Ukraina: Beijing dianggap terus menjadi pendukung kritis bagi upaya perang Rusia dengan menyediakan komponen penggunaan ganda (dual-use) seperti semikonduktor dan sensor, meskipun berhenti memberikan bantuan senjata mematikan secara langsung.
Di luar Rusia, China dinilai memperluas jejak militernya dibelahan bumi selatan (Global South). China sedang membangun fasilitas logistik dan pelatihan di Kamboja (Pangkalan Ream) dan dikabarkan menjajaki pangkalan militer di negara-negara seperti Gabon, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, hingga Kepulauan Solomon.
- Anggaran Pertahanan – Soal Angka yang Sebenarnya
China mengumumkan anggaran pertahanan 2024 sebesar $231 miliar. Namun, DoD memperkirakan belanja pertahanan China yang sebenarnya jauh lebih tinggi, yakni antara $304 miliar hingga $377 miliar. Angka ini mencakup pengeluaran tersembunyi untuk Litbang (R&D), paramiliter, dan inisiatif fusi militer-sipil.
Kemandirian Teknologi dan Spionase
China berusaha keras melepaskan diri dari ketergantungan teknologi Barat, terutama dalam hal semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
- AI dan Chip: China dituduh menggunakan metode penyelundupan, perusahaan cangkang, dan penimbunan untuk menghindari kontrol ekspor AS terhadap chip AI canggih.
- Spionase: Layanan intelijen China dinilai secara aktif merekrut ilmuwan dan meretas institusi penelitian AS untuk mencuri teknologi penggunaan ganda demi modernisasi PLA. Kasus spionase melibatkan pencurian data sensitif militer AS, termasuk informasi radar dan kesiapan tempur.
Taktik “Zona Abu-abu” – Dominasi Tanpa Perang Terbuka
Laporan tersebut juga memuat penilaian (assessment) yang sangat rinci mengenai taktik ini, yang dalam laporan disebut sebagai “Konflik Intensitas Rendah dan Koersi” (Low Intensity Conflict and Coercion) serta taktik koersi paramiliter.
Penilaian Dephan AS itu menjelaskan, bahwa China menggunakan kekuatan militer dan paramiliternya secara selektif untuk mengintimidasi negara lain tanpa memicu konflik bersenjata skala penuh. Strategi ini sangat bergantung pada keunggulan jumlah armada maritim mereka.
- Aktor Utama: Penjaga Pantai dan Milisi Maritim
China dinilai menggunakan dua ujung tombak dlam “taktik zona abu-abu” ini, bukan Angkatan Laut (PLAN), melainkan dua kekuatan paramiliter, yaitu:
- China Coast Guard (CCG): Bertindak sebagai penegak hukum di garis depan untuk menegaskan klaim maritim China.
- Milisi Maritim (China Maritime Militia – PAFMM): Ini adalah pasukan cadangan bersenjata yang terdiri dari warga sipil (biasanya nelayan). Mereka mempertahankan pekerjaan sehari-hari mereka tetapi dilatih dan dapat dimobilisasi untuk misi negara. Peran utama mereka di masa damai adalah memajukan klaim teritorial China di wilayah sengketa.
- Taktik Fisik yang Agresif
China dinilai telah menyempurnakan Taktik, Teknik, dan Prosedur (TTP) pasukan paramiliternya menjadi semakin agresif selama sepuluh tahun terakhir. Taktik yang digunakan meliputi:
- Manuver Berbahaya: Menabrak kapal (ramming), memotong jalur pelayaran, dan membayangi kapal lain dengan jarak yang tidak aman.
- Penggunaan Alat Non-Lethal: Menembakkan meriam air (water cannons) dan menggunakan perangkat akustik jarak jauh (noisemakers) untuk mengganggu awak kapal lawan.
- Insiden Spesifik: Laporan mencatat insiden pada Juni 2024 di mana personel China menaiki kapal Filipina, menggunakan kapak dan tombak, yang mengakibatkan seorang pelaut Filipina kehilangan ibu jarinya.
- “Lawfare” (Peperangan Hukum)
China dinilai telah menggunakan hukum domestik untuk membenarkan tindakan agresif di perairan internasional atau sengketa:
- Aturan Penahanan: Pada Juni 2024, China memberlakukan aturan baru yang mengizinkan CCG untuk menahan orang asing yang dicurigai melanggar perairan yang diklaim China hingga 60 hari tanpa pengadilan.
- Penerapan di Lapangan: Aturan ini langsung digunakan untuk membenarkan tindakan menaiki dan menyita kapal negara lain di Laut China Selatan.
- Kehadiran yang Persisten (Swarming)
DoD menilai China menggunakan pos-pos terluarnya di Kepulauan Spratly dan Paracel sebagai pangkalan aju. Hal ini memungkinkan kapal-kapal CCG dan Milisi Maritim untuk merespons dengan cepat dan mempertahankan kehadiran terus-menerus di lokasi sengketa, seperti di Second Thomas Shoal dan Sabina Shoal. Sebagai contoh, kapal CCG menghabiskan 313 hari di sekitar Luconia Shoals pada tahun 2024, meningkat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
- Obfuskasi (Pengaburan Identitas)
China dinilai sering mematikan data pelacakan publik (AIS) pada kapal-kapalnya, termasuk kapal penjaga pantai terbesar di dunia (dijuluki “monster ship”), untuk menyembunyikan operasi mereka. Selain itu, kapal Milisi Maritim kadang dicat putih menyerupai kapal Penjaga Pantai untuk membingungkan lawan mengenai status kombatan mereka.
Strategi ini dirancang untuk mencapai tujuan militer dan politik Beijing, yaitu menguasai wilayah sengketa melalui cara-cara koersif yang berada tepat di bawah ambang batas yang dapat memicu respons militer AS atau perang terbuka.
Ulasan
Laporan tahun 2025 Dephan AS ini, menggambarkan China sebagai sebuah negara adidaya militer yang sedang bangkit dengan ambisi global yang jelas, meski di saat yang sama sedang bergulat dengan masalah internal yang serius, terutama korupsi.
PLA dnilai secara agresif telah meningkatkan kemampuan nuklir, ruang angkasa, dan maritimnya untuk mempersiapkan “kemenangan strategis” atas Taiwan pada 2027 dan menghadapi intervensi AS.
Bagi AS dan sekutunya, pesan dari laporan ini jelas, bahwa Beijing sedang mempersiapkan diri untuk konflik jangka panjang dan berskala besar, menggunakan segala cara mulai dari intimidasi zona abu-abu hingga persiapan perang total.
Satu hal yang perlu digaris bawahi bagi pembaca aaz.com adalah soal penyatuan Taiwan 2027. Ini adalah artikel kita ketiga yang memuat & menguatkan bahwa tahun 2027 berpotensi menjadi tahun gawat yang perlu diwaspadai.
Lampiran
Dephan AS telah memetakan posisi & kekuatan militer China dalam beberapa theatre atau wilayah komando : teater pusat, teater utara, teater barat, teater timur, dan teater selatan. Berikut posisi-posisi pusat komando tersebut:
- Southern Theater Command

Komando Teater Selatan China, dinilai DoD AS bertanggung jawab atas operasi di Laut China Selatan dan dukungan kepada Komando Teater Timur selama keadaan darurat Taiwan.
Komando Teater Selatan juga bertanggung jawab untuk mengamankan klaim maritim ilegal atas perairan di “garis putus-putus” yang diklaim China yang mengelilingi sebagian besar Laut Cina Selatan.
DoD menilai, unit-unit PLA yang berada di dalam Komando Teater Selatan meliputi Angkatan Darat Grup ke-74 dan ke-75; dua pangkalan Angkatan Udara PLA, kapal induk, dua flotilla kapal perusak, tiga flotilla fregat, satu flotilla kapal pendaratan, dua flotilla kapal selam, satu pangkalan kapal selam, dan dua pangkalan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLARF).
Dalam dekade terakhir, Cina telah memperkuat 90 pos terdepan yang didudukinya di Laut Cina Selatan dengan pengerahan kemampuan udara, maritim, dan darat untuk mendukung dan mempertahankan operasi militer dan paramiliter di wilayah tersebut.
2. Western Theater

Komando Teater Barat China, secara geografis merupakan komando teater terbesar disekitar China, dan bertanggung jawab untuk menanggapi konflik dengan India, interaksi perbatasan dengan negara-negara Asia Tengah, dan apa yang disebut China sebagai “tiga kekuatan jahat” yaitu terorisme, separatisme, dan ekstremisme di Tibet dan Xinjiang.
Unit-unit PLA yang berada di dalam Komando Teater Barat meliputi Angkatan Darat Grup ke-76 dan ke-77 serta pasukan darat yang berada di bawah Distrik Militer Xinjiang dan Xizang, tiga pangkalan Angkatan Udara PLA, dan dua pangkalan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLARF).
3. Central Theater

Komando Teater Pusat China dinilai bertanggung jawab untuk mempertahankan ibu kota dan kepemimpinan China, sekaligus menyediakan cadangan strategis bagi komando teater lainnya. Komando ini terletak di tengah dan berbatasan dengan keempat komando teater lainnya.
Unit-unit militer utama di bawah Komando Teater Pusat meliputi Angkatan Darat Grup ke-81, ke-82, dan ke-83 PLAA; dan Divisi Transportasi ke-13, Divisi Transportasi VIP ke-34, Divisi Pengebom ke-36, Korps Lintas Udara PLAAF, Pangkalan Wuhan dan Datong, dan Akademi Penerbangan Shijiazhuang; serta satu pangkalan PLARF.
4. Northern Theatre














Semakin panas menuju tahun 2030
Kira-kira siapa yang menang min antara AS dan China?
Menurut admin, apakah zionis bisa menumbangi pasukan imam mahdi di iran (pemerintah iran)?? Sekarang mereka diguncang dari dalam.
Sejak revolusi 1979, Iran sdh mengalami puluhan kali unjuk rasa besar dengan berbagai macam tuntutan termasuk tuntutan penggulingan pemerintah, dan yg terakhir dan termasuk unjuk rasa terbesar pada 2023 saat tuduhan meninggalnya Mahsa Amini didalam tahanan. Namun Iran selalu bisa mengatasi setiap unjul rasa.