ASSAD BICARA SOAL PERAN AS, EROPA DAN TURKI DI SURIAH

 

Dalam sebuah wawancara dengan RT (Russia today), Presiden Suriah Assad berbicara soal ‘false flag” serangan kimia,   militan asal Eropa, penjarahan minyak,sanksi ekonomi dan gagalnya fihak barat merebut hati rakyat Suriah dengan cara kekerasan.

“Yang paling berbahaya adalah ketika Eropa mendukung para teroris di Suriah, ini adalah bagian yang paling berbahaya”.

“Jadi, ini adalah sebuah kemunafikan; bagaimana  bisa sekarang anda  (Eropa) takut pada para militan yang mayoritas  adalah orang-orang moderat dan beberapa diantaranya berfaham teroris, sementara Anda sendiri secara langsung mendukung paling tidak  puluhan ribu dan mungkin ratusan ribu para teroris itu untuk datang ke Suriah,  dan kini Anda takut ketika  mereka akan  kembali ke negara Anda, ” kata Assad dalam wawancara dengan Afshin Rattansi dari RT.

 

Sanksi ekonomi sebagai senjata perang

Assad kemudian mengkritik penyitaan  kapal tanker Iran oleh Inggris yang terkait dengan pengiriman Minyak ke Suriah pada awal tahun ini, Assad menyebut  penyitaan tanker itu sebagai tindakan “pembajakan” yang dimaksudkan untuk menghukum rakyat Suriah karena mereka berpihak pada pemerintah dan bukan pada fihak teroris.

“Mereka ingin mempengaruhi rakyat Suriah, mengapa? Karena mereka mengharap rakyat Suriah mau  bangkit melawan pemerintah,  selama berbagai tahap perang itu, tetapi mereka tidak berhasil melakukannya”.

Mereka (rakyat Suriah) itu diharapkan akan mendukung teroris, ‘pemberontak moderat,’ dan malaikat penyelamat “White helmet”, tetapi ternyata tidak , mereka tetap berdiri bersama fihak pemerintah.

Jadi,(dengan sanksi ekonomi itu) mereka ingin agar rakyat Suriah harus dibuat menderita, mereka harus membayar harganya.

Pertama-tama, Eropa ingin agar rakyat Suriah  belajar untuk mau berdiri dengan agenda mereka (Eropa). Kedua, ini mungkin sebagai upaya terakhir untuk mendorong agar rakyat Suriah mau menentang pemerintah mereka, ”kata pemimpin Suriah itu.

Pada tahun 2011, saat pemberontakan mulai merebak luas di dunia Arab yang dikenal sebagai “Arab spring”, kemudian juga menyebar ke Suriah tetapi keadaan malah berubah semakin buruk setelah pemberontakan itu, dan mengakibatkan perang yang berkepanjangan dan disebut  oleh PBB  sebagai bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.

Menurut presiden Assad,  AS mengambil pendekatan berbeda dalam upaya menggulingkan pemerintahannya,  perang dilakukan dengan proksi jihadis. Bertentangan dengan deklarasi public AS bahwa kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaeda, Front Nusra atau Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) harus dihancurkan. AS sama sekali tidak ragu untuk mendukung mereka selama mereka mau mengikuti tujuan AS.

“Al-Qaeda adalah proksi AS untuk melawan pemerintah Suriah, melawan pemerintah Rusia dan pemerintah Iran,” jelasnya. Bagaimana bisa tiba-tiba ISIS muncul pada tahun 2014? Entah dari mana datangnya, mereka bisa muncul dari ketiadaan baik di Irak dan Suriah pada saat yang sama, dengan persenjataan Amerika ?  ini sangat jelas.

 

Pendidikan Dan Kesehatan sudah lama digratiskan

Suriah secara tradisional memiliki sektor pelayanan publik yang kuat, yang menyediakan banyak layanan seperti layanan kesehatan atau pendidikan gratis atau dengan harga subsidi. Dengan ekonomi yang lumpuh akibat perang, semakin banyak orang yang bergantung pada pemerintah untuk mendapatkan hal-hal mendasar seperti makanan atau minyak pemanas (ruangan).

 

AS dan Turki dan ISIS Bekerjasama dalam menjarah minyak

Saat dulu ISIS di puncak kekuatannya, tidak mungkin mereka bisa menyelundupkan minyak yang bernilai jutaan dolar per bulan dari Suriah tanpa  diketahui oleh AS “.  Sejak ISIS  mulai menjarah minyak Suriah pada 2014, mereka memiliki dua mitra: yaitu presiden Turki Tayyip  Erdogan dan kroninya, dan AS baik dari CIA atau yang lain,” kata presien Assad.

Penjarahan minyak dan kekayaan Suriah itu secar terbuka diawasi  oleh AS, dan masih berlanjut hingga hari ini, penjarahan itu tidak berhenti sampai  perang berakhir.” Tambahnya.

“Amerika selalu berusaha menjarah setiap negara lain dengan cara yang berbeda,  tidak hanya minyak atau uang mereka, tapi juga sumber daya keuangan mereka. Mereka menjarah hak-hak mereka, hak-hak politik mereka, dan semua hak lainnya. Itulah peran historis mereka setidaknya setelah Perang Dunia 2.”

 

Tentara dan rakyat Suriah mau berjuang jika presidennya diktator

Narasi tentang perubahan rezim di Suriah biasanya berfokus pada Assad dan lingkaran dalamnya, dengan mengklaim bahwa dengan mengganti pemimpin yang disebut AS sebagai  ‘diktator’, maka akan memastikan perubahan positif di Suriah.

“Assad must go” telah lama menjadi “mantra” di Barat. Assad sendiri mengatakan gagasan itu sebagai “konyol” karena ratusan ribu warga Suriah yang bertempur di pihak Damaskus tentu saja tidak mempertaruhkan nyawa mereka untuk dia, tapi untuk negara Suriah.

“Orang (rakyat dan tentara) akan rela mati, untuk suatu tujuan membela negara mereka, mempertahankan keberadaan mereka, dan masa depan mereka.”

“Perang di Suriah adalah soal merebut hati rakyat, dan Anda tidak bisa merebut hati rakyat dengan membombardir mereka,” katanya. “Bagaimana orang-orang Suriah dapat mendukung negara mereka dan presiden mereka dan pasukan mereka, jika presidennya membunuhi mereka?”

This entry was posted in Info Lain and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *