
Seorang pensiunan jendral Israel, MayJen. Itzhak Brik, menulis di media Israel Maaariv.co.il, yang memperingatkan bahwa negara Israel mungkin tidak akan bertahan hingga 100 tahun, melihat perselisihan internal yang terus mendalam, dan isolasi internasional yang makin meningkat.
Itzhak Brik berpendapat bahwa entitas Israel saat ini berada di “jalan menuju kehancuran”, yang hanya dapat dihindari melalui perubahan kepemimpinan yang radikal.
“Selama beberapa dekade, Israel telah menjadi masyarakat yang “terpecah dari dalam,” ditandai oleh “kebencian mendalam antara kelompok-kelompok sosial, antara kanan dan kiri, dan antara Yahudi dan Arab,” sebuah keretakan yang meresap ke dalam semua aspek kehidupan”.
Merujuk pada PM Netanyahu, Brik mengatakan Israel dipimpin oleh kepemimpinan yang “memprioritaskan kelangsungan politik di atas kepentingan publik,” yang dia gambarkan sebagai “berpandangan sempit dan tanpa arah.”
Mengenai posisi Israel di kancah global, Brik mengatakan bahwa negara tersebut semakin dipandang secara internasional sebagai negara yang “menimbulkan rasa jijik dan penolakan,” dan makin banyak warga Israel memilih untuk beremigrasi ke luar negeri.
Data yang dirilis pada 28 Januari oleh Biro Statistik Pusat Israel menunjukkan peningkatan 39% dalam emigrasi dari Israel pada tahun 2024, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Ketahanan Israel terkikis di semua sektor, termasuk keamanan, ekonomi, pendidikan, perawatan kesehatan, infrastruktur, dan sains,” katanya.
Dia menyerukan “pemberdayaan generasi muda untuk mengambil alih kepemimpinan, dan mengarahkan negara keluar dari krisis saat ini.”
Tantangan yang kita hadapi, mulai dari memulihkan keamanan di utara (perbatasan dengan Lebanon dan Suriah), dan di selatan (dengan Gaza) hingga membangun kembali ekonomi dan hubungan internasional, membutuhkan energi yang hanya ada di antara mereka yang masih muda, yang memiliki puluhan tahun kehidupan di depan mereka,” tulis Brik.
Menurutnya Israel masih bisa melampaui usia 100 tahun “jika generasi muda berhasil mengubah keputusasaan menjadi tanggung jawab dan polarisasi menjadi kemitraan intelektual.”
Selama hampir dua tahun perang genosida Israel di Gaza, para pejabat Israel berulang kali mengakui bahwa rezim tersebut menghadapi krisis politik, keamanan, ekonomi, dan media yang serius.
Kemarahan publik dan pejabat global juga meningkat atas tindakan Israel di seluruh wilayah tersebut.
Hanya ada satu cara untuk selamatkan Negara Israel
Menurutnya, hanya ada satu jalan keluar dari kesulitan ini: generasi muda yang akan mengambil alih kendali dan memimpin negara menuju keselamatan.
Ini adalah generasi yang telah mengalami perang yang berat, kelelahan mental, dan kekhawatiran eksistensial akan mata pencaharian mereka dan keluarga mereka dalam dua tahun terakhir.
Tetapi jika kita ingin hidup, kita harus melihat kepada “generasi Nephilim” yang mendirikan negara ini. Mereka yang muncul dari neraka Holocaust kehilangan seluruh dunia mereka, namun menemukan kekuatan baru dalam diri mereka untuk membangun negara yang gemilang dari reruntuhan.
Saya berharap generasi muda Israel akan mengambil inspirasi dari visi yang dianggap mustahil itu, dan untuk memperjuangkan misi menyelamatkan negara. Inilah harapan terakhir yang kita miliki.
Generasi muda saat ini tidak hanya membutuhkan contoh sejarah, tetapi juga pengakuan bahwa justru dari perpecahan terbesar itulah kepemimpinan sejati tumbuh.
Perang sulit yang telah kita alami selama dua tahun terakhir tidak hanya menelan korban jiwa dan kelelahan, tetapi juga menyingkap kedok.
Perang ini telah mengungkap kelemahan sistem, tetapi pada saat yang sama juga mengungkapkan kekuatan luar biasa dari masyarakat sipil, dari kaum muda yang bergegas ke garis depan dan siap bergabung dengan militer sipil tanpa ragu-ragu.



















Padahal tujuan perang agar al masih mereka yang dimpikan bakal datang. Si satanyahu juga pernah ngommong.