ARAB SAUDI BISA DEKAT DENGAN ISRAEL TAPI TIDAK MUNGKIN DENGAN IRAN

 

Apakah mungkin Penguasa Arab Saudi dan Iran menjalin persahabatan yang sejati? Jawabannya adalah tidak mungkin terjadi diakhirzaman ini, tapi kalau untuk tataran umat hal itu sangat mungkin.

Artikel kita kali ini akan membahas bagaimana hubungan 3 negara Iran, Arab Saudi dan Israel yang merupakan bagian dari 7 titik sentral geoplitik akhirzaman selain Suriah, Yaman, Iraq dan Turki.

Diakhir artikel kita sajikan pendapat putra Mahkota Saudi, MBS dan pendapat ulama Suni Iran tentang polemik akhir zaman ini, khususnya soal Imam Mahdi.

 

 

Perbedaan Visi Arab Saudi dan Iran

Perbedaan visi kedua penguasa Arab Saudi dan Iran banyak difahami orang karena perbedaan mazhab Shiah dan Suni, padahal  sebenarnya bukan sama sekali,. tapi lebih kepada :

  1. “Penguasa Saudi menafikkan akan kemunculan Imam Mahdi diakhirzaman, sementara penguasa Iran meyakini bahwa kemunculannya sudah dekat”. Penguasa Arab Saudi tidak akan mungkin membicarakan Hadits soal Imam Mahdi.
  2. Karena Iran merasa kemunculannya dirasa sudah dekat, Iran merasa wajib untuk mempersiapkan segala sesuatunya bagi kemunculan Khalifah akhir zaman.

Keyakinan sebagian besar umat Islam dan juga para penguasa Iran itu tentu saja akan menjadikan penguasa Saudi gelisah, karena bisa jadi mereka juga sudah membaca Hadits Nabi soal Al-Mahdi, dimana kemunculannya akan bermakna selesailah dinasti Al-Saud. 

Penguasa Saudi kemudian memelintir akar masalahnya adalah karena perbedaan aliran Shiah-Suni. Padahal bukan sama sekali, karena baik aliran Shiah maupun Suni keduanya meyakini akan kemunculan Imam akhirzaman itu.

Dari visi geopolitik akhirzaman, sangat mudah disimpulkan, bahwa adalah tidak mungkin terjadi persahabatan sejati antara Iran dan Arab Saudi. Karena berdasar hadist Nabi, kemunculan Imam Mahdi akan didahului dengan perang, yaitu akan bergeraknya pasukan dari arah timur (Yaman), dan hadits menyebut fihak yang pertama menyerang pasukan al Mahdi adalah Pasukan Arab Saudi (baca HR. Abu Dawud 3737)

Kenapa itu bukan soal perbedaan Shiah – Suni ?

“Karena baik aliran Shiah maupun Suni sama-sama meyakini akan  kemunculan Imam Mahdi,  yang akan muncul dan membentuk Khilafah Islam yang berpusat dikota Mekkah.”

Jadi, jika kemudian isu yang dibesarkan adalah perbedaan antar Shiah-Suni, maka itu hanyalah propaganda politik dari Arab Saudi.

 

 

Apakah Imam Mahdi Versi Shiah dan Suni Berbeda?

Memang ada sedikit perbedaan pandangan tentang Imam Mahdi, tapi perbedaan itu tidak prinsipil dan hanya akan menjadi sumber perselisihan yang tidak ada gunanya jika dipermasalahkan.

Misalnya umat Shiah menganggap Imam Mahdi adalah imam terakhir dari 12 Imam, sementara Suni tidak memiliki landasan soal itu.

Perbedaan kedua, Shiah meyakini Imam Mahdi sudah dilahirkan sejak lebih 1000 tahun lalu, dan hanya tinggal menunggu kemunculannya. Sementara Suni tidak punya referensi soal kapan Al Mahdi dilahirkan.

Lalu apakah persamaanya?

Dari silsilah keturunannya, dimana kemunculan, dan dimana pusat pemerintahannya, kedua mazhab Shiah dan Suni sependapat sama, bahwa beliau adalah keturunan dari putri bungsi Nabi, Fatimah dan kemunculan dan pemerintahannya akan berpusat di Makkah.

Itulah kenapa diparagraf pertama  kita sangat yakin bahwa ditataran umat, keduanya akan terjadi persatuan, karena meski ada perbedaan soal Imam Mahdi, tapi juga ada persamaaannya.

 

 

Bagaimana kita mensikapinya?

Sama halnya ketika diantara umat Suni sendiri ada perbedaan tentang dimana Dajjal akan muncul,  kita meyakini hadits sahih yang menyebut diperbatasan antara Iraq dan Suriah, tapi ada yang bersikukuh dengan meyakini hadits lemah yang menyebut di Khurasan atau Isfahan.

Jadi mensikapi perbedaan pandangan soal Imam Mahdi, adalah kita tunggu saja informasi langsung dari Imam Mahdi, dan sementara ini yang harus menjadi pegangan adalah kesamaannya.

Jika masih terjebak dengan mencari perbedaanya, maka beresiko kita akan menjadi korban fitnah akhirzaman yang tidak tahu siapa musuh Islam sebenarnya.

Resiko lainnya adalah, kita akan ketinggalan kereta untuk menjadi pengikut Imam Mahdi yang sangat-sangat disarankan oleh Nabi, sampai-sampai mengibaratkannya “meski harus dengan merangkak diatas salju”.

 

 

Saudi Bisa Dekat Dengan Israel Tapi Tidak Dengan Iran

Jika PM Israel Netanyahu pernah bilang bahwa Israel  bisa dekat dengan Arab Saudi karena menganggap Iran adalah musuh bersama, maka itu ada benarnya.

Bukan saja karena berdasar pernyataan Iran yang secara vulgar menyebut akan meratakan 2 kota terbesar Israel Tel Aviv dan Haifa, tapi hadits memang sudah mengisyaratkan bahwa akan bergerak pasukan dari Khurasan (provinsi di Iran) yang tidak bisa dihentikan sebelum merebut kota Iliya (Yerusalem).

Jadi, Israel dan Arab Saudi bisa akrab karena kedua negara yang saat ini menguasai 2 Kota suci itu merasa senasib bahwa Iran adalah ancaman terbesarnya, yaitu sama-sama kota suci yang mereka kuasai saat ini akan dibebaskan oleh pasukan Imam Mahdi yang berasal dari Khurasan Iran, dan dari Yaman yang juga didukung Iran.

 

 

Pendapat MBS Soal Hubungan Saudi – Iran

Dalam wawancara dengan jurnalis terkemuka Saudi, Dawood Al-Shirian, yang disiarkan di televisi nasional Saudi, MBS yang saat itu (mei 2017) adalah wakil Putra Mahkota berkata: “Ada perbedaan yang mendasar antara kami dan Iran.”

Dimasa lalu, Arab Saudi pernah berdialog dengan Iran, yaitu ketika Iran memiliki kepemimpinan yang relatif moderat (era sebelum revousi Iran), kemudian upaya tersebut menjadi gagal ketika kepemimpinan di Teheran digantikan oleh kelompok garis keras, kata MBS.

MBS menunjukkan bahwa ada ‘masalah inheren’ dengan ideologi Iran yang mencegahnya bisa bertetangga baik dengan Arab saudi.

“Iran percaya bahwa sebelum Imam Mahdi muncul kembali, maka Iran harus menyiapkan situasi kondusif  baginya, dan harus mengontrol dunia Muslim,” katanya.

“Bagaimana saya bisa memahami hal ini? Bagaimana Anda bisa berdialog dengan mereka yang punya latar belakang seperti ini?” Sedang tujuan Iran adalah untuk menguasai Dua Masjid Suci.” Kata MBS.

 

 

MBS : Tidak Ada Peluang Berdialog Dengan Iran

Setiap perjuangan teokrasi Syiah revolusioner untuk mempengaruhi kerajaan Saudi yang beraliran muslim Sunni, harus terjadi “di dalam Iran, bukan di Arab Saudi“.

Ditanya apakah Arab Saudi siap untuk membuka dialog langsung dengan Teheran, MBS mengatakan :

“Tidak mungkin untuk berbicara dengan kekuatan yang merencanakan kembalinya Imam Mahdi, yang diyakini Syiah adalah keturunan Nabi yang tersembunyi sejak1.000 tahun yang lalu dan akan kembali menegakkan aturan Islam global sebelum akhir dunia”, kata MBS.

“Bagaimana Anda bisa berdialog dengan rezim yang dibangun di atas ideologi ekstremis … dimana mereka harus menguasai negara-negara Muslim dan menyebarkan sekte 12 Jaafari mereka di dunia Muslim,” kata MBS dalam wawancara dengan televisi MBC, yang juga disiarkan di televisi pemerintah Saudi.

MBS mengatakan, bahwa ideologi Iran didasarkan pada keyakinan bahwa “Imam Mahdi akan datang, dan mereka harus mempersiapkan lingkungan yang kondusif bagi kedatangannya … dan mereka harus menguaai dunia Muslim.”

“Kami tahu bahwa tujuan Iran adalah untuk mencapai titik fokus Muslim (Mekkah dan Madinah) dan kami tidak akan menunggu sampai pertempuran itu terjadi di dalam wilayah Arab Saudi, dan kami akan bekerja agar pertempuran ada di pihak mereka, di dalam Iran, bukan di Arab Saudi.” kata MBS.

 

 

Ulama Suni Iran : MBS Tidak Tahu Jika Suni Juga Meyakini Al-Mahdi

Ulama Suni pendiri pesantren Al-Zahra di Iran, Akhound Toy Qoli Gol Cheshme dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Kantor Berita Taqrib (TNA) menyindir Putra mahkota Saudi MBS atas pernyataannya tentang Imam Mahdi, dia mencatat, bahwa :

“Pada akhirnya, umat Sunni yakin akan kemunculan kembali Imam Mahdi,  dan inilah yang tidak disadari oleh putra mahkota Saudi.”

“Putra mahkota Arab Saudi masih belum tahu bahwa orang-orang Sunni memiliki keyakinan kuat pada keluarga Nabi (SAW) dan kemunculan kembali Imam Mahdi (SAW),” katatanya.

MBS dalam ucapannya mengatakan, tidak mungkin untuk berdialog dengan kekuatan yang merencanakan soal kedatangan Imam Mahdi. Dalam hubungan ini, ulama Sunni di Golestan Iran itu memberi kritikan kepada putra mahkota MBS atas pernyataannya itu, dengan menekankan, bahwa :

“Dalam hal ini, dia (MBS) harus membaca sumber dalil Suni dan kemudian berbicara tentang Imam yang sempurna itu”, tegas ulama Suni Iran itu.

Dia mencatat, pernyataan MBS seperti itu akan mengobarkan api pertikaian dan kebencian di antara negara-negara Muslim. “Kurangnya pengalaman dan usianya yang masih muda akan berdampak negatif bagi umat Islam,” katanya.

“Adalah kewajiban ulama, elit dan pemikir agama untuk menentang pernyataan seperti itu,” tegasnya sambil mendesak para ulama untuk tidak tinggal diam dengan hubungan ini.

Syiah dan Sunni percaya bahwa Imam Mahdi adalah pemimpin yang telah dinubuatkan, yang akan membawa perdamaian dan keadilan bagi dunia.

Ajaran yang ada mendalilkan bahwa, Imam Mahdi akan muncul kembali begitu dunia sudah dikuasai kezaliman dan tirani, dan dia akan membebaskannya dari cengkeraman kejahatan itu. Kata Ulama Suni Iran itu.

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *