Menyusul pembunuhan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai, oleh rezim Israel bulan Oktober 2025 lalu, sebuah bom pintar GBU-39 buatan AS ukuran kecil dilaporkan gagal meledak.
Unit keamanan Hizbullah segera mengirimkan komponen-komponen pentingnya, terutama bagian elektronik ke Iran, untuk dilakukan rekayasa balik (reverse engineering).
Pada Juni lalu, jet tempur AS juga menggunakan bom penghancur bunker GBU-57 berukuran sangat besar seberat 13 ton, saat serangan ke fasilitas nuklir Iran.
Salah satu bom tersebut dilaporkan gagal meledak dan kemudian jatuh ke tangan para ahli di Kementerian Pertahanan Iran.
Sumber-sumber Iran sejak itu telah mengkonfirmasi, bahwa Teheran telah berhasil merekayasa balik bom raksasa tersebut. Meskipun Iran dilaporkan telah berhasil mereplikasi bom GBU-57 yang sangat besar itu.
Sumber-sumber di Kemenhan Iran mengindikasikan, bahwa akses terhadap bom GBU-39B yang lebih ringan, yang diberikan oleh Hizbullah lebih penting bagi doktrin rudal Iran, karena Iran belum punya pesawat bomber strategis yang mampu membawa bom itu. Juga karena strategi Iran yang lebih mengutamakan rudal daripada pesawat pembawa bom.
Iran dilaporkan bermaksud untuk menggabungkan teknologi penetrasi dan pemandu dari bom tersebut ke dalam hulu ledak rudal balistiknya.
Para insinyur militer Iran kini dilaporkan telah berhasil merancang hulu ledak yang mirip dengan GBU-57, yang dimaksudkan untuk dipasang pada rudal hipersonik/balistik “Fattah”, yang berjangkauan 1.400 Km.
Selain itu, versi yang lebih modern sedang dikembangkan untuk rudal “Khoramshahr-4”, dengan jangkauan 2.000 Km.
Uji lapangan menunjukkan hulu ledak Iran dapat menembus hingga kedalaman 20 meter ke dalam beton bertulang dan benteng bawah tanah, meskipun buatan AS dilaporkan mampu mencapai kedalaman penetrasi hingga 60 meter. Itu karena ukuran versi AS yang lebih besar.
Teheran, kadang-kadang, melakukan rekayasa balik terhadap senjata AS yang direbut, termasuk drone Lockheed Martin RQ-170 yang berhasil dijatuhkan di wilayah Iran melalui perang siber pada tahun 2021.
Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada bulan Juni, negara tersebut telah bekerja keras untuk menutup kekurangan militernya, dan lebih memajukan alat pertahanan terpentingnya, terutama rudal-rudalnya.
Rudal-rudal Iran terbukti mampu memaksa Israel dan AS untuk meminta gencatan senjata, setelah menimbulkan kerusakan ditarget-target strategis di Israel, selama perang 12 hari.
Meskipun mendapat sensor ketat dari Israel, sejumlah besar rekaman telah dirilis yang menunjukkan bagian-bagian lingkungan Israel yang hancur total.
Israel telah menempatkan sebagian besar infrastruktur militer dan intelijennya di dalam lingkungan yang padat penduduk.

Namun, tuntutan Washington agar pemerintah Lebanon mengembalikan senjata tersebut menuai kemarahan di Lebanon. Di media sosial, warga Lebanon meledek AS yang “tanpa malu-malu” menginginkan Lebanon mengembalikan bom yang belum meledak, agar dapat digunakan untuk membunuh lebih banyak orang.
Media Israel berbahasa Ibrani menulis, para pejabat Pentagon memandang situasi ini sebagai “sensitif”, dan mencatat bahwa bahkan akses sebagian ke komponen internal bom dapat mengungkap metode desain yang diandalkan AS, yang dapat dimanfaatkan Iran untuk mendukung persenjataan serang modernnya.


















