Kegagalan Strategi Koalisi Pimpinan Arab Saudi di Yaman

People carry the body of a woman they recovered from under the rubble of a house destroyed by a Saudi-led airstrike in Sanaa, Yemen, Aug. 25, 2017.

Kegagalan manuver  Koalisi pimpinan Arab Saudi di Suriah dan Iraq nampaknya akan terulang lagi di Yaman, sudah hampir tiga tahun intervensi militernya di Yaman  negara paling miskin diteluk arab ini . Sampai saat ini belum ada tanda tanda Saudi akan memenangkan pertempuran melawan milisi Houthi yang didukung Iran. 

Keberhasilan besar Saudi  adalah mampu membungkam Negara Negara Muslim lain diseluruh dunia dan Negara2 konferensi Islam OKI untuk tidak mengkritik atau mengutuk kebrutalannya di Yaman. Baca juga kajian hadistnya atas 3 negara segitiga akhir zaman tersebut.

 

Intervensi militer Arab Saudi di Yaman terbukti merupakan “kegagalan strategis”, namun penarikan penuh dan resmi  Arab Saudi dari perang Yaman  tersebut tidak mungkin terjadi, kata para analis.

Pekan lalu, serangkaian email yang bocor mengungkapkan bahwa pangeran mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi  Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud menyatakan keinginan untuk mengakhiri perang di Yaman selama pembicaraan dengan mantan pejabat AS.

Dalam email yang bocor, Mohammed bin Salman mengatakan bahwa dia  ingin keluar dari perang dua tahun yang dia mulai di Yaman itu dan bahwa dia tidak menentang pendekatan AS terhadap Iran untuk mengakhiri konflik tersebut.

Adam Baron, seorang analis politik Yaman mengatakan bahwa penarikan diri  yang dikeluarkan Saudi tidak akan menuntaskan (masalah) karena keamanan Arab Saudi sangat bergantung pada keamanan Yaman.

“Ya, orang Saudi ingin keluar dari perang  tapi hanya dengan syarat yang  mereka tetapkan sendiri,” kata Baron kepada Al jazeera.

 

Pada awalnya kepentingan kerajaan Arab Sudi yang mereka katakan adalah untuk mencegah konflik Yaman menyebar lebih jauh dan mengembalikan pemerintahan Mansour Hadi, Tapi sebenarnya  adalah mencegah pengaruh Iran semakin kuat di Yaman , tapi sialnya intervensinya itu  malah memperparah situasi di Yaman dan menimbulkan delima serius yang membingungkan mereka sendiri sehingga memunculkan  opsi untuk menarik diri dari perang Yaman.

Disatu sisi ketidak profesionalan pasukan daratnya menyebabkan kekelahan demi kekalahan mereka derita dan nampaknya mereka sadar tidak akan bisa mengalahkan milisi Houthi yang didikung Iran. Juga ketidak profesionalan angkatan udaranya menimbulkan kutukan internasional dan PBB karena serangan udaranya yang tidak akurat dan banyak menghantam warga sipil sehingga hasilnya hanya krisis kemanusiaan yang parah.

 

Konflik diYaman tersebut telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan telah melukai lebih dari 40.000 orang sampai saat ini.

Yaman adalah Negara diteluk Arab yang paling miskin, Uang dari cadangan minyak di negara itu telah banyak terbuang sia-sia atau bahkan dilarikan saat menggulingkan pemerintahan  Presiden Ali Abdullah Saleh yang berkuasa 33 tahun. Sebuah laporan PBB tahun 2015 membeberkan akumulasi kekayaan Abdullah Saleh mencapai hingga $60 miliar yang dia dapatdari korupsi, pemerasan dan penggelapan uang.

Setelah penggulingan Abdullah Saleh, perang saudara  meletus antara pemberontak Houthi dan pendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional (baca AS). Pada bulan September 2014, pejuang Houthi menguasai ibukota, Sanaa, dan meransek masuk ke kota terbesar di Yaman, Aden.

Aspek lain perang Yaman  adalah bahwa sudah menjadi metode standar AS yang juga mendukung Saudi diYaman , bahwa setiap intervensi atas suatu Negara mereka selalu membentuk kelompok teroris, Dan dikembangkanlah Al Qaeda di Yaman untuk membantu melawan Houthi.

Sebagai tanggapan atas kemajuan milisi Houthis, sebuah koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi mulai melancarkan intervensi (didukung AS) dengan memulai serangan militer pada bulan Maret 2015 untuk mengusir milisi Houthi dari Sanaa.

Perang telah meninggalkan berbagai daerah yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan dan telah memungkinkan al-Qaeda tumbuh di tengah kekosongan keamanan (yang membantu melawan milisi Houthi).

Yaman yang berpenduduk lebih dari 27 juta orang, saat in berada di ambang wabah kelaparan dan di tengah wabah kolera paling parah didunia  yang  “belum pernah terjadi sebelumnya” . Mengacu pada perang yang dipimpin Saudi di Yaman, PBB telah memperingatkan bahwa negara tersebut menuju “keruntuhan total”.

Saat ini  lebih dari 7 juta orang berada di ambang kelaparan akibat blokade perbatasan dan pemiskinan dari akibat perang, sementara sekitar 80 persen penduduk bergantung pada beberapa bentuk bantuan kemanusiaan. Menurut PBB krisis kemanusiaan terbesar di dunia ada di Yaman.

Keterlibatan Arab Saudi telah berkontribusi terhadap krisis kemanusiaan di negara ini, yang merusak citra Mohammed bin Salman baik secara internasional maupun regional, kata Luciano Zaccara, peneliti politik Teluk di University of Qatar.

Mundur dari perang  berarti kekalahan (bagi Saudi). Ini juga berarti runtuhnya tujuan yang dicapai koalisi di Yaman. Kata analis politik Yaseen al-Tamimi.

“Kritik yang meningkat dari seluruh dunia terhadap serangan koalisi  (Saudi) yang dianggap sebagai penyebab utama (dalang) di balik epidemi kolera yang membunuh ribuan warga sipil, situasi para tahanan yang tidak jelas, dan blokade bandara Sanaa dan pelabuhan Hudaida yang mencegah pasokan kemanusiaan sampai ke tempat yang diblokir. daerah yang dikuasai oleh Houthi, membuat perang ini sangat tidak populer, “kata Zaccara kepada Al Jazeera.

“Membuat  bandara Sanaa beroperasi kembali akan membantu meringankan situasi kemanusiaan secara signifikan, meski masih berada di tangan Houthi. Membuka bandara juga akan memungkinkan ribuan orang meninggalkan negara tersebut untuk mendapat perawatan khusus,” katanya.

Milisi Houthi menutup bandara internasional Sanaa karena mereka khawatir akan dipakai untuk menyelundupkan bantuan militer ke pasukan pemerintah yang masih loyal kepada mantan presiden Mansour hadi.

Sebuah laporan rahasia yang dibuat oleh panel ahli Dewan Keamanan PBB telah meyakinkan  bahwa kelanjutan koalisi Saudi hanya  memiliki “sedikit dampak operasional ataupun taktis di lapangan”.

Meskipun salah satu tujuan utama serangan koalisi Suadi adalah untuk mengembalikan Abd-Rabbu Mansour Hadi kembali ke kursi  presiden , tapi fakta politik di lapangan ternyata pendukungnya makin   terbelah bahkan banyak  diantaranya sekarang malah mempertanyakan  legitimasinya , Menurut laporan tersebut.

Laporan tersebut juga menyebut  bagaimana kelompok milisi proksi  yang dipersenjatai oleh koalisi pimpinan Arab, sekarang banyak yang mengejar agenda individual (kepentingan masing2)  yang membuat makin lemahnya posisi Mansour Hadi lebih jauh.

“Penarikan mundur  berarti kekalahan,”  “Ini juga berarti runtuhnya tujuan yang ingin  dicapai koalisi Saudi di Yaman . Penarikan koalisi tidak akan membantu Kerajaan Saudi dalam mencipakan perbatasan yang aman [dengan Yaman],” kata kata analis Yaseen Al Tamimi kepada Al Jazeera.

“Tidak ada solusi yang  yang bisa mengisi kekosongan pemerintahan di negara yang dilanda perang ini. Pemerintah  lama (Mansour hadi) tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk melanjutkan perang atau memenangkannya,” Tamimi menambahkan.

 

Btn260817

This entry was posted in Analisa Geopolitik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 37 = 38