INTI DARI RIBA , UANG DIGITAL, MASIH ADA KESEMPATAN

 

Terhitung sejak 15 januari kemarin. Malaysia akhirnya telah mulai melegalkan penggunaan Uang digital (uang Virtual/ Digital Currency) , meski beberapa waktu lalu Malaysia sempat ragu apakah akan melegalkan penggunaan uang digital ini atau tidak.

Malaysia belum mengeluarkan peraturan tentang ICO (Initial Currency Offering/ semacam IPO), tapi melihat bahwa per 15 januari lalu itu telah  dimulai pemberlakuan mata uang digital sebagai “asset” yang terkait dengan “efek” atau “sekuritas” , jelas ini mengindikasikan bahwa mereka memberlakukan digital currency sebagai  sesuatu yang bisa diperjual belikan. 

 

Ehmm….ironis ya. Bagaimana bisa hal ini terjadi disebuah Negara mayoritas Muslim yang banyak memiliki ahli ekonomi syariah???.

 

Tidak ada daya upaya apapun yang bisa membendung pergeseran mata uang global menuju  mata uang digital. Sebelum terlambat marilah kita gunakan sedikit waktu  yang tersisa untuk mengintrospeksi diri atas kekhilafan kita lebih 50 tahun ini,

Paling tidak ada dua hal penting yang harus menjadi fokus   perhatian   kita dengan perubahan tren Global didunia mata uang ini. Dalam kajian hadist pada artikel sebelumnya kita semua telah tahu bahwa inti daripada Riba  bisa terkandung dalam sebuah sistem mata uang , jika tidak mempunyai kualifikasi :

  1. Sebuah mata uang harus diterbitkan dengan  dukungan cadangan emas.
  2. Mata uang tidak boleh diperlakukan sebagai Aset yang bisa diperjual belikan untuk mengambil keuntungan.  

Dua poin diatas bisa anda pakai sebagai syarat minimal  untuk mengidentifikasi apakah  sebuah mata uang  mempunyai kualifikasi yang benar . dan perlakukan dengan benar menurut kaidah agama.

Harapan kita  jika suatu Negara Muslim terpaksa harus mengadopsi penggunaan Mata uang digital, maka para pengambil keputusan itu mau menggunakan Panduan agama  sehingga  kita tidak mengulangi lagi kesalahan dan kebodohan fatal 70 tahun diombang ambingkan sistem keuangan Brettenwoods ,  yang Hadist menyebutnya sebagai Inti dari Riba itu.

 

Sandainya dari dulu kita telah  menyadari dan  benar benar mau menerapkan petunjuk agama dan tidak larut dalam sistem keuangan global bentukan Ya’juj Ma’juj , maka tidak akan ada cerita buruk  menjadi Obyek riba sistem keuangan global itu ,  dimana suatu negara bisa jatuh miskin dalam sekejap karena anjloknya nilai mata uangnya, dan kemudian … lagi dan lagi hanya  sibuk membuang sisa sisa cadangan devisanya  untuk menstabilkan nilai tukar. Sebuah kekonyolan yang terus berulang itu.

Selama ini kita  secara sempit hanya mendefiniisikan   Riba sebagai    membungakan uang, padahal   Hadist  menyebut bahwa  ‘Inti dari pada Riba’ justru  terkandung dalam mata uang yang tidak mempunyai kualifikasi sebagai mata uang dan memperlakuan Mata uang sebagai sebagai aset yang boleh diperdagangkan.

 

Artikel ini akan membahas Inti daripada Riba yang disebutkan Hadist itu, tapi untuk memudahkan  kita akan paparkan dulu potret gambar besarnya sebelum mengerucut kepada pokok bahasan yaitu  Inti dari Riba yang terkandung dalam sistem keuangan global, kebodohan selama 70 tahun terakhir menjadi budak  sistem uang kertas Ya’juj Ma’juj dan potensi yang sama  dalam sistem keuangan global yang baru, uang digital. 

 

 

 

Gambar Besarnya

Ketika Amerika mulai mengambil alih peran Inggris sebagai super power dunia maka bersamaan itu dikukuhkanlah US$ sebagai mata uang tunggal dunia lewat Konferensi Brettenwood 1944. Sebuah Negara super power tentu akan tidak akan dianggap sebagai pengendali ekonomi dunia tanpa memiliki senjata andalan sebuah  sistem mata uang yang lengkap dengan sistem Perbankan penggelontor utang berbunga.

Kini kita sedang memasuki apa yang disebut umat Yahudi sebagai era Messianik, sebuah era menyongsong kedatangan “Al Masih” mereka yang diyakini akan memimpin dunia dari Yerusalem.  Mereka sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk secara pelan tapi pasti melakukan perpindahan Penguasa dunia dari AS ke Israel yang biasa disebut  “Messianic agenda”,

Dalam tempo dua tahun terakhir, persiapan mereka terlihat semakin diintensifkan , dimana paling tidak sudah ada tiga langkah aneh dan misterius yang  dilakukan :

  1. Mulai dipropagandakannya pemindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
  2. Mulai dilakukan Perang mata uang Oleh AS.
  3. Mulai diterapkannya penggunaan Uang digital oleh seluruh Negara didunia.

Langkah pertama propaganda pemindahan Ibukota Israel keYerusalem ini telah mulai dilakukan AS tahun lalu  dengan pengakuan AS bahwa ibukota Israel sebagai  Yerusalem dan disusul langkah memindahkan Kedubesnya keYerusalem, yang diikuti kemudian  oleh Guatemala sebagai Negara kedua, dan tentunya akan semakin banyak Negara boneka AS yang melakukannya.

Langkah kedua adalah AS secara sengaja melakukan perang dagang dan perang mata uang agar semua Negara mulai meninggalkan US$ dalam transaksi globalnya. Atas dasar tujuan inilah  kenapa AS mau melakukan kebijakan aneh yang jelas sangat  kontraproduktif itu.

Langkah ketiga , secara pelan tapi  pasti  beberapa tahun ini mereka mulai membiasakan masyarakat dunia dengan apa yang disebut dengan “mata uang Digital” (Crypto Currency). Seperti halnya Super power AS yang dilengkapi dengan senjata mematikan US$ maka Super power yang diagendakan berikutnya yaitu Israel juga harus dilengkapi dengan system mata uang baru yang lebih dahsyat  yang sesuai era milenial yaitu mata uang digital.

Bukan rahasia lagi,  bahwa super power AS hanyalah kendaraan Ya’juj Ma’juj yang menurut Hadits  saat ini mereka bercokol diIsrael, dan itu  makin dipertegas dengan   langkah langkah  AS  yang  makin mengumbar manuver manuver besar yang aneh dan misterius itu demi kepentingan Israel.

Dalang  dibalik layar yang luar biasa ini  (Ya’juj Ma’juj) bisa membuat para petinggi AS itu  mau melakukan langkah langkah  konyol seperti perang dagang  dan perang mata uang  yang meski sebenarnya juga merugikan Negara mereka  sendiri, semuanya demi “Messianic agenda”nya  Israel.

 

 

Peta Uang Digital Saat Ini

Sama seperti ketika Inggris menjadi Superpower Dunia (Pax Britanica) yang dilengkapi dengan senjata ekonominya mata uang Pundsterlingnya, kemudian AS menjadi superpower dunia dengan senjata ekonominya US$, maka nantinya  Superpower baru yang “mereka agendakan” itu yaitu Israel  juga akan dipersenjatai dengan dengan mata uang baru,  mata uang digital.

Yah, semuanya tidak terjadi begitu saja tapi memang “by designed”, ada segerombolan orang yang telah kita identifikasi sebagai “Ya’juj Ma’juj” dibelakang   semua peristiwa besar dunia itu, merekalah “master mind”nya

Dalam paparan diartikel tentang mata uang terdahulu , kita telah tahu bahwa dengan mata uang kertas  US$ yang masih bisa dipegang secara fisik saja , kita telah melihat dan mengalami dahsyatnya perbudakan dan penindasan  yang bisa ditimbulkan oleh sebuah mata uang yang tidak didukung emas itu. Apalagi dengan mata uang digital , dimana para “dalang” dibelakang sana  bahkan bisa menciptakan  “kekayaan” dari “ketiadaan”, bahkan tidak lagi diperlukan kertas dan tinta untuk mencetak US$ saat era AS menjadi superpower.

Karena instrument baru  ini  nantinya  berinterkoneksi dalam jaringan global yang disebut dengan teknologi “Block chain” , maka tidak akan ada lagi apa yang dikenal 70 tahun terakhir dengan istilah “kerahasiaan bank”. Para dalang itu dari pusat komandonya diIsrael  bisa melihat seberapapun saldo simpanan uang digital setiap orang/institusi/negara  diujung dunia manapun. Dan hanya dengan ketikan tombol bisa  mengendalikan (membolehkan/ menggagalkan dan memblokir) atas  transaksi apapun dan dimanapun.

Jadi nantinya , mereka (Ya’juj Ma’juj) yang bercokol diIsrael itu bisa mengendalikan setiap orang/institusi/negara   cukup  hanya dengan mengetikkan tombol diKeyboard. Dan bahkan mereka bisa menciptakan “kekayaan” cukup dengan ketikan keybord. Ehm… jauh lebih dahsyat dari instrument US$ mereka sebelumnya  ya.

Sebelum  semuanya terlambat kita akan terus mengingatkan, bagaimana seharusnya sebuah sistem mata uang itu diciptakan dan bagaimana seharusnya mata uang itu diperlakukan menurut panduan agama, karena Hadist menyebut Inti dari pada riba adalah justru  terkandung dalam mata uang yang tidak memenuhi  kualifikasi sebagai mata uang.

Untuk memberikan gambaran betapa mengerikannya sebuah mata uang misterius yang tidak jelas penerbitnya dan tidak jelas apakah  didukung emas kita lihat  contoh tren fluktuasi Bitcoin yang saat ini bebas diperdagangkan diseluruh dunia. Pada desember 2017 mencapai  level tertinggi hampir $20.000 , kemudian  turun menjadi $7.000 pada bulan Februari 2018 , dan saat tulisan ini dibuat hanya bernilai  $3732. 

Beberapa contoh Negara dibawah ini menggambarkan bahwa seluruh  dunia  sedang memasuki era baru , Era perubahan menuju Uang digital dimana Dajjal akan memasuki “tahap ketiga”  setelah dilepasnya yaitu apa yang disebut Hadist sebagai “Sehari sama dengan Seminggu”. Jika anda belum tahu tahapan hidup Dajjal setelah dilepas, silahkan baca kajian Hadistnya di artikel “Kajian Dajjal sang alMasih palsu”.

 

 

Malaysia

Malaysia sudah melegalkan penggunaan Mata uang digital  sejak 15 januari 2019 kemarin. Tapi yang kita lihat Malaysia malah menjadikan mata uang digital itu sebagai “Asset” yang bisa ditransaksikan sebagai “efek” atau ”sekuritas”. 

Ehmm… sayang sekali ya sebuah Negara mayoritas muslim bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya mata uang itu diperlakukan. Padahal Agama telah memandu dengan sangat detail.

 

Singapura

Pada 2018 lalu , Perusahaan fintech yang berbasis di Singapura  HelloGold  telah menerima sertifikasi guna menjalankan sistem Mata uang virtual yang didukung emas yang diklaim sepenuhnya mematuhi hukum Syariah. Perusahaan itu telah diberikan izin untuk mengoperasikan produk cryptocurrency GOLDX oleh konsultan keuangan Islami Malaysia Amanie Advisors. Mata uang digital baru diperkenalkan oleh HelloGold pada akhir 2017.

Sebuah perusahaan diberi kekuasaan mengelola mata uang suatu Negara ??? O oh….. bisa anda bayangkan siapa ya orang orang hebat dibelakang perusahaan itu.

Menggunakan Konsultan keuangan Malaysia yang diklaim sepenuh Islami ??? Haa .. Bagaimana bisa diklaim seperti itu  padahal  Malaysia sendiri memperlakukan Uang virtualnya sebagai “Aset” atau “Sekuritas”. Ini membuat kita kehabisan kata kata dan hanya bisa berucap  “Selamat datang diera akhir zaman” yang sarat  perilaku manipulatif  ala Dajjal.     

 

Arab Saudi dan UEA

Desember 2018 lalu Arab Saudi dan UEA telah mengumumkan akan menerbitkan mata uang digital bersama yang akan berlaku sebagai alat transaksi kedua Negara. Padahal sebelumnya Arab Saudi  telah melarang penggunaan uang digital dinegaranya. Belum ada informasi, apakah mata uang digital yang akan diterbitkan bersama antar Arab Saudi dan UEA itu akan dibuat dengan dukungan emas.

 

Rusia

Tahun 2017 lalu Rusia akan membuat mata uang digital yang benar benar didukung oleh cadangan emas. Ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi efek perbudakan uang digital yang resikonya jauh lebih dahsyat dari resiko uang kertas yang bisa memiskinkan suatu Negara dalam sekejap hanya oleh permainan Kurs.

Tapi langkah Rusia ini juga akan sia sia jika kemudian mata uang digitalnya itu di“Link” kemata uang digital lain yang tidak berbasis emas. Rusia juga harusnya juga hanya mau me”link” mata uang digitalnya dengan mata uang digital negara lain yang benar2 didukung cadangan emas.

Tapi kita melihat langkah Rusia  dengan Mata uang digital berbasis emas ini  adalah hal yang luar biasa , aneh ya… justru Rusia yang bukan Negara Muslim tampaknya malah jauh lebih cerdas dari Malaysia yang mayoritas Muslim yang punya banyak ahli ekonomi syariah yang diberi Allah panduan tentang mata uang.

 

 

 

Apa Yang Bisa Dilakukan

Tidak ada yang bisa mengalahkan Ya’juj Ma’juj, langkah demi langkah pelan tapi pasti setiap Negara akan digiring untuk masuk kesistem keuangan baru ini, Kita sedang berada diera  sistem mata uang kedua dan terakhir dari Ya’juj ma’juj yang sedang menyiapkan kemunculan Dajjal didunia nyata pada “tahapan ketiga” (istilah hadist : Sehari  sama dengan seminggu).

Lalu apa yang bisa dilakukan sebelum kita memasuki era uang digital agar terhindar dari dosa Riba (salah satu dosa level teratas) dan terhindar dari resiko menjadi bulan bulanan Ya’juj Ma’juj dengan instrument barunya uang digital itu?

Agama  sudah memandu kita  dengan dua hadist penting tentang mata uang yang telah kita kaji itu. Jika anda tidak tahu bagaimana seharusnya mata uang menurut Islam, silahkan baca artikel itu.

Tapi dalam kaitannya dengan mata uang digital ini kita akan mengungkap beberapa poin penting dari Hadist itu yang tidak bisa ditawar lagi dan seharusnya menjadi pertimbangan utama  para penentu kebijakan dari sebuah Negara Mayoritas Muslim sebelum mengadopsi dan melegalkan  uang digital.

  1. Bahwa penerbitan mata uang apapaun bentuknya harus didukung dengan cadangan emas.
  2. Bahwa  Transaksi perdagangan  dan konversi mata uang dengan mata  uang  negara lain hanya boleh dilakukan jika mata uang  Negara lawan transaksi telah dijamin hanya benar benar  didukung emas.
  3. Bahwa sebuah mata uang   adalah haram untuk diperdagangkan untuk mengambil keuntungan..
  4. Bahwa suatu mata uang  hanya boleh dikonversikan kemata uang digital lain dengan nilai yang setara (istilah Hadist : takaran yang sama).  Konsekuensi dari poin3 dan adalah : Bahwa negara harus memfasilitasi pertukaran Kurs antar mata uang tanpa mengambil untung.

 

Baik, untuk menjelaskan poin poin tersebut , kita kutip kembali dua hadist  yang telah kita kaji dalam artikel sebelumnya itu :

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (sejenis padi) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran ) harus sama dan dibayar kontan . Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

 “Bilal datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa kurma, lalu beliau bersabda: “Dari mana engkau dapatkan kurma ini?” maka Bilal menjawab; “Aku mempunyai kurma yang jelek, lalu aku menjualnya (menukarkan) dengan kurma ini, ” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Celakah kamu, ini adalah riba, ini adalah riba, Jangan sampai engkau mendekatinya. Akan tetapi juallah dahulu kurma milikmu sesukamu, setelah itu belilah apa yang engkau inginkan dengan uang penjualan tersebut.”(HR. Ahmad No.11167)

 

Poin Pertama

Poin pertama berimplikasi bahwa otoritas keuangan suatu Negara harus menjamin bahwa uang digital yang diterbitkan adalah benar benar didukung cadangan emas.

Poin pertama ini adalah sebuah syarat bahwa sebuah Mata Uang Digital yang diterbitkan adalah benar benar mata uang “asli” , yaitu mempunyai nilai intrinsik. Bukan mata uang abal abal yang diciptakan dari “ketiadaan”.

 

 

Poin Kedua

Poin kedua Ini akan mencegah unsur “RIBA” atas suatu transaksi pertukaran (konversi) dengan  mata uang digital lain yang “abal abal” (tidak didukung emas). Untuk mencegahnya, maka suatu negara yang menerbitkan mata uang digital “Asli”  (yang didukung emas) , harusnya tidak  sembarangan me”Link” mata uang digitalnya dengan mata uang digital Negara lain yang tidak dijamin “keasliannya” (tidak didukung emas).

Digambarkan dalam Hadist kedua, dimana Bilal menukarkan Kurma “kualitas jelek” dengan Kurma “kualitas bagus” sebagai perumpamaan atas Uang “palsu” (yang tidak  didukung emas) dan uang “asli” (yang didukung emas).

Pengalaman 70 tahun menjadi obyek  penindasan  yang diakibatkan oleh permainan kurs  superpower AS dengan “mata uang abal abal” nya itu ,  dimana US$ yang sejak 1971 ternyata tidak didukung emas  lagi  harusnya menjadi pelajaran berharga  yang tidak boleh terulang lagi.

Harusnya  ada aturan internasional dimana  secara periodik  sebuah negara yang memegang  devisa berupa mata uang digital Negara lain harus bisa menukarkan/menebus  mata uang digitalnya menjadi emas ke otoritas keuangan Negara penerbitnya.

Tapi , jika nantinya ternyata semua Negara digiring untuk hanya menggunakan satu “mata uang tunggal dunia”, maka disinilah mulai malapetaka serupa akan sangat makin sulit dihindari, Karena mata uang kertas lokal nantinya masih akan dipakai dalam transaksi internal, maka  perubahan kurs dengan mata uang lokal masih akan menjadi celah penindasan ribawi itu.

 

Poin Ketiga

Hadist pertama tegas menyebut bahwa suatu  mata uang adalah haram untuk diperdagangkan atau dikonversikan kemata uang lain dengan mengambil keuntungan.  Digambarkan dalam hadist itu bahwa, jika emas ditukar dengan emas dst…maka harus dengan takaran yang sama dan dibayar tunai. Keuntungan yang didapat dari memperjual belikan mata uang adalah inti dari riba.

Dalam skala makro antar Negara, maka konversi antar mata uang digital adalah haram untuk mendapat tambahan (keuntungan) atas transaksi itu.

Negara  harus memfasilitasi agar setiap orang bisa menukarkan secara gampang dan instan atas sejumlah mata uang digitalnya dengan dengan mata uang kertas  dan harus  tanpa biaya apapun.  Hadist pertama menyebut mengutip tambahan (keuntungan) dari transaksi konversi antar mata uang adalah “RIBA”.

 

 

Poin Keempat

Bahwa jika  mata uang digital suatu Negara dipertukarkan (dikonversikan) dengan mata uang digital dari negara lain , maka nilainya (takarannya) harus setara (baca Hadist pertama).

Contohnya begini , jika dalam suatu Negara A untuk menebus 1 gram emas dibutuhkan senilai 10A (A adalah satuan uang digital Negara A), dan dinegara B untuk menebus 1gram emas dibutuhkan 20B (B adalah satuan uang digital Negara B) , maka  jika kita mengkonversi 10A uang  digital kita kenegara B maka harus mendapatkan uang digital  senilai 20B.

Dan perubahan kurs itu hanya boleh terjadi  hanya karena adanya perubahan harga emas, bukan oleh perubahan suku bunga oleh bank sentral  Negara super power atau permainan spekulatif Ya’juj Ma’juj yang memiliki kekuatan finansial tak tertandingi itu.

 

 

 

Kesimpulan

Lebih dulu  kita akan merefresh kembali ingatan kita. Kita ingat  ketika AS yang memprakarsai perjanjian Brettenwood 1944  dan dengan seenaknya  mengkhianati sendiri  dengan  pengumuman Presiden Nixon pada 15 Agustus 1971 yang  menyatakan US$ tidak lagi didukung emas. Sebuah pidato yang seakan terlihat sangat manis , tapi sebenarnya menggiring pemutar balikan akal sehat. Secara implisit dia menyebut US$ yang sejak 1944  itu diklaim didukung emas telah menjadi ladang permainan para spekulator dan membuat ekonomi AS tidak stabil … ehmm terdengar sangat manis ya, tapi sangat berbisa.

 

Kita  mungkin tidak pernah menyadari , bahwa paling tidak sejak 1971 dimana saat itu Kurs Rupiah  hanya  Rp.391,88/US$   dan sekarang sudah Rp.14.000,00/US$ , maka kita seharusnya  telah  35 kali lebih kaya dari saat ini. Sebuah penindasan ribawi yang sangat dahsyat, Hadist menjamin, bahwa ujung dari dari perilaku ribawi adalah kemiskinan:

 

مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

“Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit.” (HR. Ibnu Majah)

 

Pengalaman bodoh dan kekhilafan besar yang telah kita lakukan selama ini harusnya tidak terulang kembali pada saat nanti  mata uang digital telah total menggantikan US$ sebagai mata uang global. Ini adalah kesempatan terakhir kita , karena ini adalah mata uang terakhir dalam tatanan global Ya’juj Ma’juj. 

Dan berikut adalah poin poin penting yang harus dipertimbangkan ketika sebuah Negara mayoritas muslim terpaksa harus mengadopsi mata uang digital :

 

  1. Bahwa penerbitan sebuah mata uang apapun bentuknya oleh suatu Negara manapun harus didukung dengan cadangan emas. Bukan uang digital yang diciptakan oleh “ketiadaan”.
  2. Bahwa Transaksi dagang dan Konversi mata uang digital yang berbasis emas harusnya hanya dilakukan dengan Negara yang benar benar menerbitkan mata uang digitalnya dengan dukungan cadangan emas. Jika tidak justru akan menjadi langkah bodoh menjadi bulan2an dari perilaku  Ribawi lawan transaksi.  
  3. Bahwa mata uang apapun bentuknya termasuk mata uang digital adalah haram hukumnya untuk diperdagangkan untuk mengambil keuntungan. (lihat hadist pertama)
  4. Bahwa perubahan Kurs suatu mata uang (termasuk mata uang digital) hanya boleh terjadi karena adanya perubahan harga emas. Bukan oleh permainan suku bunga bank sentral sebuah Negara super power atau hanya karena ulah spekulan.

Terakhir, Marilah melangkah kearah yang lebih baik , masih ada kesempatan untuk berubah,  tapi setelah kita tahu itu adalah Inti daripada Riba  dan masih terus kita lakukan maka Allah juga tidak akan mengurangi hak kita  untuk  kekal didalam neraka :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan  riba  tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu  ,  dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (memakan  riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah: 275)

 

Mudah mudahan bermanfaat.

 

This entry was posted in Extend, recent post, Islamic View and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to INTI DARI RIBA , UANG DIGITAL, MASIH ADA KESEMPATAN

  1. ian says:

    Oooh , baru tahu ternyata justru inilah inti dari Riba . Dari dulu sy gagal faham dngn Hadits itu, dan cuman bingung saja membacanya.

    • The admin says:

      Hehe , paling tidak akhirnya anda termasuk sedikit dari yg mampu memahami. Lihat saja para ekonom syariah Malaysia saja ternyata gagal faham kedua hadist itu dan malah melegalkan uang virtual sebagai efek/sekuritas.

  2. toni says:

    hmmm ….berlaku untuk semua org,termasuk pegawai dan org miskin….gmn klo tak punya rekening

    • The admin says:

      Ya.. , kita sudah masuk era penuh riba sejak diterapkan Konferensi Brettenwoods 1944, dan kita segera akan (sudah) memasuki era puncaknya, dimana digambarkan Hadist tidak ada lagi orang yg tidak memakan Riba, orang yang tidak terlibat ribapun akan terkena debunya :

      Akan datang pada manusia suatu zaman tidak akan tersisa kecuali pemakan riba. Siapa yang tidak makan riba ketika itu, ia bisa memakan debunya.” (HR. Ibnu Majah, no. 2278; Abu Daud, no. 3331)

      Sebuah era dimana setiap orang bisa melakukan Riba level tertinggi dengan “perdagangan mata uang digital” hanya dengan lewat Smartphonenya , bahkan sambil jongkok diToilet sekalipun. Bagi yang tidak melakukannyapun (mungkin krn tidak memakai Smartphone/Laptop/PC) akan terkena imbas “debuya” karena perubahan kurs yang membuat bergejolaknya harga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 62 = 70