DROPSHIP, “PERDAGANGAN ANEH” KHAS AKHIR ZAMAN

 

Beberapa tahun  terakhir menjamur fenomena “perdagangan” dengan sistem Dropship atau Drop shipping, sebuah fenomena akhir zaman yang merebak seiring hadirnya perdagangan online atau Toko online atau (eCommerce), Fenomena Dropship online kemudian muncul mendompleng perdagangan online itu.

Sebelum ada internet istilah “perdagangan dropship” tidak dikenal orang, tapi sebenarnya transaksi berbau riba  ini sudah banyak dipraktekkan secara offline, dan pelakunya biasa disebut dengan Calo atau Makelar.

Berbeda dengan istilah “Reseller”,  reseller merupakan praktek perdagangan normal , dimana pedagang membayar barang yang disuply oleh agen, artinya  reseller telah membeli/ memiliki/ menguasai/ menstok barang yang akan dia jual secara online dengan mengambil dari sumber lain, tapi pedagang dropship tidak menstok barang alias tanpa diperlukan kapital.

Kita akan mengkaji transaksi abu-abu jenis ini karena  juga tidak kalah dahsyat dengan jual beli Valas online , transaksi sistem dropship ini bisa dilakukan oleh siapapun yang berada dipelosok manapun , bahkan saat ini juga menjamur dikalangan Ibu rumah tangga dan anak sekolah. 

Kita sebut “Perdagangan aneh” , karena pedagangnya tidak memiliki barang, artinya  tidak memerlukan modal sama sekali, hanya dengan HP dan quota internet siapapun dan dipelosok manapun bisa terlibat menjadi dropshipper online ini.  

 

 

Jual Beli Yang Benar

Mari kita simak beberapa hadist  yang mengatur bagaimana suatu transaksi jual beli seharusnya dilakukan :

عن عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلاَ شَرْطَانِ فِى بَيْعٍ وَلاَ رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ وَلاَ بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah halal transaksi utang-piutang yang dicampur dengan transaksi jual beli, tidak boleh ada dua syarat dalam satu transaksi jual beli, tidaklah halal keuntungan yang didapatkan tanpa adanya tanggung jawab untuk menanggung kerugian, dan engkau tidak boleh menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud)

 

إِنَّ رَسُولَ اللهِ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan barang-barang dagangan di tempat dibelinya barang-barang itu hingga para pedagang mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (HR. Abu Dawud)

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُزْهِىَ قَالُوا وَمَا تُزْهِىَ قَالَ تَحْمَرُّ. فَقَالَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ فَبِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟. متفق عليه

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga menua? Para sahabat bertanya ; ‘Apa maksudnya telah menua?”. Beliau menjawab ; ‘Bila telah berwarna merah.’ Kemudian beliau bersabda ; ‘Bila Allah menghalangi masa panen buah-buahan tersebut, maka apa alasannya engkau mengambil harta saudaramu ?” (HR. Bukhari : 2198, Muslim : 1555).

 

Tiga Hadist diatas menjelaskan larangan dalam transaksi jual beli :

  1. Bahwa transaksi jual beli tidak boleh dicampur dengan transaksi hutang-piutang.
  2. Bahwa dalam transaksi jual beli tidak boleh ada dua syarat.
  3. Bahwa dalam transaksi jual beli tidak boleh menghilangkan resiko dagang.
  4. Bahwa seseorang tidak boleh menjual barang yang bukan miliknya.
  5. Bahwa pedagang tidak boleh menjual barang ditempat/ lokasi/ pasar yang sama saat membeli barang.
  6. Bahwa menjual barang yang belum pasti keadaannya (mutu dan takarannya) adalah haram. (digambarkan dalam jual beli ijon buah-buahan yang belum pasti hasil panennya)

 

 

Skema Transaksi Dropship

Mari kita lihat dulu bagaimana sebuah transaksi dropship itu dilakukan dengan mendompleng perdagangan online atau Ecommerce dari penjual yang memang memiliki barang.

 

 

Paling tidak ada  empat masalah dalam transaksi dropship online yang banyak dilakukan orang  ; 

  1. Dropshipper berlaku sebagai penjual yang seakan telah memiliki barang dan berhak menentukan harga jual.
  2. Dengan tidak diperlukan modal,  maka Dropship meniadakan resiko dagang, seperti  tidak ada lagi resiko barang tidak laku, barang rusak karena lama disimpan, atau rugi karena harga jual turun.
  3. Pada kasus skema-1 dropshipper menjual barang bukan menjadi miliknya itu ditempat/ pasar/ eCommerce yang sama, 
  4. Penjual  belum tahu pasti (tidak menjamin)  keadaan (kualitas & takaran) barang yang ditawarkan.

 

Kita simak juga beberapa  hadist lain sebagai pendukung :

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku lantas ia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, At Tirmidzi)

 

       يَارَسُولَ اللهِ، يَأْتِينِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ، أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ؟ فَقَالَ: لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, seorang pria datang kepadaku lalu ia ingin bertransaksi jual beli denganku yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku belikan untuknya dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu jangan menjual apa yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi)

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu jual hingga kamu menggenggamnya.” (HR. Ahmad)

 

 

Dimiripkan Dengan Transaksi Wakalah

Beberapa  orang mencoba menyamarkan transaksi Dropship ini dengan transaksi Wakalah atau mewakilkan penjualan, padahal ini sangat berbeda, karena pada transaksi Wakalah terjadi akad :

  1. Pemberian kuasa untuk Menjualkan barang sesuai harga yang diinginkan pemilik barang.
  2. Penerima kuasa dijanjikan untuk menerima imbalan jasa atau pembagian keuntungan yang disepakati jumlahnya dengan pemilik barang.

 

Mereka memakai dasar hukum :

. وَلَمْ يَرَ ابْنُ سِيرِينَ وَعَطَاءٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَالْحَسَنُ بِأَجْرِ السِّمْسَارِ بَأْسًا . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : لا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ : بِعْ هَذَا الثَّوْبَ فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا فَهُوَ لَكَ . وَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ : إِذَا قَالَ بِعْهُ بِكَذَا فَمَا كَانَ مِنْ رِبْحٍ فَهُوَ لَكَ ، أَوْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ . وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِم

Dibolehkan oleh Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim, dan Al Hasan. Ibnu Abbas mengatakan: tidak mengapa seorang berkata: jualkanlah baju ini, kelebihannya sekian-sekian silakan engkau ambil. Ibnu Sirin mengatakan: jika seseorang berkata: jualkanlah barang ini dengan harga sekian, keuntungannya sekian menjadi milikmu, atau antara engkau dan aku bagiannya sekian, maka ini tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: kaum Muslimin wajib menepati syarat-syarat yang mereka sepakati”. (HR.Bukhari)

 

Tapi , dalam praktek dropship lewat eCommerce baik yang dengan skema-1 ataupun skema-2 tidak ada akad perjanjian yang dilakukan sebelumnya antara pemilik barang dengan Dropshipper.

Yang ada adalah bahwa dengan tanpa izin pemilik barang, dropshipper menjual dengan menaikkan harga jual.

Transaksi Wakalah yang benar adalah penerima kuasa (untuk menjual barang) hanya boleh mendapat pembagian keuntungan yang telah disepakati dengan pemilik barang, atau hanya mendapat upah untuk jasa pejualan,

Jelas Dropship  tidak ada kesamaan dengan transaksi wakalah, tapi lebih mirip transaksi samsarah atau percaloan atau makelaran. Dimana cirinya si calo bertindak seakan pemilik barang yang berhak menentukan harga jual.

 

 

Dimiripkan Dengan Transaksi Salam

Beberapa orang mencoba menyamakan transaksi dropship dengan transaksi Ba’i as-salam atau biasa disingkat transaksi salam atau salaf , yaitu transaksi pemesanan barang. Mereka “bersikukuh” menggunakan dasar hadist berikut :

 
قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ »

“Ketika Rasulullah SAW  tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistem salaf (salam), yaitu membayar di muka dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempraktekkan salam dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)

 

Hadist ini  menjelaskan transaksi yang unik yang berlaku sementara yaitu saat Nabi baru memasuki Madinah setelah hijrah dari Makkah.  Ini sebenarnya praktek  jual beli Ijon yang rupanya biasa dilakukan oleh penduduk Madinah sebelum Nabi Hijrah keMadinah. Nabi masih mentolelir karena mereka baru mengenal Islam, tapi dengan syarat takaran dan waktunya harus ditepati.

Sama dengan cara Nabi melarang minum Khamr dengan tahap demi tahap, maka akhirnya  Nabi  melarang jual beli Ijon dengan hadist berikut :

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُزْهِىَ قَالُوا وَمَا تُزْهِىَ قَالَ تَحْمَرُّ. فَقَالَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ فَبِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟. متفق عليه

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga menua? Para sahabat bertanya ; ‘Apa maksudnya telah menua?”. Beliau menjawab ; ‘Bila telah berwarna merah.’ Kemudian beliau bersabda ; ‘Bila Allah menghalangi masa panen buah-buahan tersebut, maka apa alasannya engkau mengambil harta saudaramu ?” (HR. Bukhari : 2198, Muslim : 1555).

 

Hadist terakhir, menjelaskan bahwa barang yang diperjual belikan harus sudah jelas keadaaannya (kualitasny dan takarannya), bukan menjual barang yang penjualnya saja belum menyaksikan sendiri kualitas dan ukurannya, apalagi telah memilikinya.  

Celakanya, orang-orang yang berupaya “mencari  pembenaran” atas dropshipping itu justru  :

  1. Hanya mengutip Hadist Bukhari No.2240 dan Muslim No.1604 itu secara terpisah sebagai rujukan , dan tidak pernah mau mengutip  hadist Bukhari No.2198 dan Muslim 1555.
  2. Tidak mau mengutip Hadist2 yang melarang percaloan.  Yaitu Hadist2 yang melarang mengambil untung dari perdagangan tanpa modal  atau  tanpa memiliki barang itu. seperti hadist yang telah kita kutip diatas :

“Wahai Rasulullah, seorang pria datang kepadaku lalu ia ingin bertransaksi jual beli denganku yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku belikan untuknya dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu jangan menjual apa yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi)

  

 

Kesimpulan

Transaksi dropship lebih memanfaatkan ketidaktahuan orang dalam menggunakan teknologi, pembeli tidak seharusnya mendapat harga yang lebih tinggi dari seharusnya. Sebuah transaksi riba selalu mengandung unsur penipuan/pembodohan dan penindasan kepada lawan transaksi.

Dropship jelas bukan masuk katagori  perdagangan yang dibenarkan , karena  tanpa modal atau barang belum dalam kepemilikan, yang ujungnya bertujuan mendapat keuntungan dengan menghilangkan aspek resiko, 

Transaksi dropship bisa disamakan dengan transaksi percaloan. Sah saja seorang perantara diminta jasanya untuk menjualkan barang milik orang lain dengan mendapat pembagian keuntungan sesuai perjanjian , atau mendapat imbalan jasa penjualan.

Tapi jika perantara itu menaikkan lagi harganya diluar perjanjian, maka perantara itu telah bertindak seakan pemilik barang yang berhak menentukan harga.

Paling tidak, ada 4 kaidah jual beli yang sering diabaikan :

  1. Bahwa barang yang kita jual harus sudah dalam penguasaan/kepemilikan kita. Artinya barang itu telah anda beli dan berada ditangan anda sebelum konsumen mentransfer/ menyerahkan uang.
  2. Bahwa dalam perdagangan tidak boleh meniadakan resiko, seperti pengaduan karena cacat, atau penggantian barang jika barang rusak atau bahkan pembatalan transaksi.
  3. Bahwa Penjual dan pembeli harus sudah memastikan kualitas dan takaran barang yang ditransaksikan.
  4. Jika kita bertindak sebagai perantara (transaksi wakalah), maka hanya berhak memperoleh pembagian keuntungan yang telah disepakati dengan pemilik barang. Atau mendapat upah jasa atas penjualan, bukan menaikkan harga sendiri (bertindak seolah pemilik barang). 

Diakhir zaman ini banyak upaya untuk mengkaburkan hukum agama yang jelas dalam  upaya mencari pembenaran atas transaksi  yang haram, sebuah upaya untuk memutihkan yang abu-abu.

Salah  satu agenda  Dajjal adalah membuat jalan keneraka seolah-olah jalan kesorga dan sebaliknya. Meski Jual-beli adalah halal, tapi Hadist menyebut Setan selalu hadir dalam setiap transaksi ekonomi, artinya kita harus hati-hati dalam transaksi jual beli.

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa hadir dalam jual-beli. Maka sertailah jual-belimu dengan banyak bersedekah” (HR. Tirmidzi 1208)

 

WaAllahualam, mudah-mudahan bermanfaat.

 

This entry was posted in Extend, recent post, Islamic View and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 22 = 31