BERDAGANG UANG DIGITAL, PANDANGAN ULAMA BEBERAPA NEGARA

Egypt’s Grand Mufti Bans Bitcoin Trading

Kita akan mengungkap pandangan  beberapa Ulama dari beberapa negara yang  tentang  perdagangan dan investasi dalam uang digital atau Uang Virtual atau disebut juga cryptocurrency,

Saat ini sudah hampir 1500 jenis mata uang digital diluncurkan oleh fihak yang tidak jelas siapa dibelakangnya karena semuanya datang dan dikendalikan dari luar negeri dan diakui  tanpa campur tangan dan keterlibatan pemerintah manapun.

Diantara ribuan jenis uang digital itu BitCoin menempati urutan teratas didunia . Pemerintah Indonesia sendiri  pada Januari 2018 kemarin telah resmi melarang transaksi Bitcoin diIndonesia. tapi  aneh dan lucunya, meski pemerintah mengaku tidak ada keterlibat didalamnya, tapi faktanya Bitcoin bisa interkoneksi dengan  bank bank resmi bahkan juga dengan Bank  milik pemerintah.

 

Sebenarnya sangat gamblang dan tidak perlu Fatwa Ulama untuk menyimpulkan halal atau haramnya berinvestasi dalam Uang Digital, karena  ada unsur yang sama persis  dengan  spekulasi atau  perjudian , yaitu memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat  atau sebaliknya  bisa   memperoleh kerugian besar atau  bangkrut  dalam waktu singkat.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).

Islam  sebenarnya telah memandu secara detail  tentang apa saja yang boleh dijadikan mata uang (alat pembayaran) , bagaimana  ciri ciri mata uang yang seharusnya  dan bagaimana transaksi tukar menukar  antar mata uang yang dihalalkan.  .

Walaupun para Ulama dari beberapa Negara dibawah ini  tidak mengkaji mata uang dari berbagai aspek dan semuanya hanya melihat dari adanya unsur spekulasi dan dimanfaatkan untuk pencucian uang hasil kejahatan, namun  paling tidak  bisa menjadi referensi  tambahan bagi yang berniat  atau  yang sudah melakukan investasi dalam  uang virtual ini.

Dibagian akhir artikel ini kita coba kaji beberapa Hadist tentang  larangan perdagangkan uang yang selama ini gagal difahami  karena  memang agak sulit diambil maknanya. Mudah mudahan memberikan pencerahan.

Silahkan  juga ikuti  Ceramah  Seikh Imran Hosein tentang mata uang dan bagaimana beliau telah memperingatkan akan munculnya Uang digital ini sejak belasan tahun lalu yang juga telah kita simpulkan diakhir artikel untuk memudahkan memahaminya. Silahkan baca dengan cermat artikel itu karena dari Ceramah SIH itu kita mendapat banyak hal yang selama ini kita tidak bisa fahami.

 

 

1.Pandangan Ulama Arab Saudi Sheikh Assim Al Hakim , Agustus 2017.

Ulama  Arab Saudi  Assim al-Hakeem menyatakan keprihatinannya atas penggunaan bitcoin, beliau mengklaim bahwa hal itu dilarang menurut hukum Islam.

Alasannya? “Kami tahu bahwa bitcoin saat bertansaksi anda akan tetap anonim  … yang berarti bahwa itu adalah gerbang terbuka bagi pencucian uang, uang obat-obatan dan uang haram,” kata al-Hakeem.

Al-Hakeem juga menunjukkan bahwa karena bitcoin adalah mata uang modern, belum pernah dibahas oleh para Ulama di masa lalu.

“Bitcoin adalah sesuatu yang baru dan baru dan ada banyak masalah serius dalam hal berurusan dengannya … apakah itu dari segi asal muasalnya  atau juga dari aspek keberlanjutan dan keamanannya,” kata al-Hakeem.

Beliau  mempertanyakan peningkatan nilai bitcoin yang dramatis dalam semalam.

Seperti  hari ini (12/8/17), satu bitcoin yang tadinya bernilai 0,1 sen sekarang melonjak setara dengan $ 11.000 plus Ini konyol, ini bukan sesuatu yang fisik yang bisa Anda sentuh,” tambahnya.

Bitcoin dilarang di bawah hukum Islam karena “ambigu” (bermakna ganda) dan memberikan kesemapatan transaksi anonimitas (tanpa nama) bagi para penjahat”

“Seorang Muslim seharusnya tidak terlibat dalam transaksi yang meragukan seperti itu, yang  hanya ingin untuk menghasilkan uang dengan cepat, untuk menghasilkan keuntungan yang cepat. Ini bukan konsep Islam,” kata al-Hakeem.

 

 

2.Pandangan Otoritas Agama di Turki , November 2017

Otoritas Direktorat agama Turki (Diyanet)  menyatakan Bitcoins adalah tidak Islami dan  memperingatkan warganya agar tidak memperdagangkan  mata uang digital  paling populer di dunia ini.

“Membeli dan menjual mata uang virtual tidak sesuai dengan agama  karena nilai  mereka terbuka terhadap adanya spekulasi, mereka dapat dengan mudah digunakan dalam aktivitas ilegal seperti pencucian uang dan mereka tidak berada di bawah pengawasan dan pengawasan negara,” Demikian dikatakan Direktorat Agama Turki (Diyanet),

Ditambahkan bahwa Bitcoin juga belum diberi wewenang oleh negara Turki (untuk melakukan transaksi).

Agar mata uang menjadi halal, maka harus bersifat deflasi yang berarti tahan terhadap inflasi dan memiliki harga pasar yang stabil.

 

 

3.Pandangan Ulama Besar Mesir Sheikh Shawki Allam, Januari 2018

Mufti (Ulama) Agung Mesir Shawki Allam telah mengeluarkan fatwa baru yang melarang perdagangan salah satu  kriptocurrency terkemuka di dunia dan menyatakannya dilarang dalam Islam.

“Bitcoin dilarang di Syariah karena hal itu menyebabkan kerugian bagi individu, kelompok, dan institusi,” Kata Mufti Besar Mesir Shawki Allam mengatakan pada hari Senin, seperti dikutip oleh suratkabar Ahram.

Ulama Mesir itu membandingkan pertukaran perdagangan kriptocurrency dengan perjudian, yang dilarang dalam Islam “karena tanggung jawab langsungnya dalam kehancuran finansial bagi individu.”

Dia menambahkan bahwa bitcoin dapat berdampak negatif terhadap keselamatan hukum bagi orang-orang yang memperdagangkannya, dan memberikan  kemudahan dalam transaksi  pencucian uang dan perdagangan selundupan.

 

 

Kajian Hadist Larangan Perdagangan Uang

Untuk memahami hal ini paling tidak harus menelaah dua buah Hadist berikut.

 

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

 

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سَلَّامٍ الْحَبَشِيُّ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ أَبِي كَثِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَبْدِ الْغَافِرِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ جَاءَ بِلَالٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ لَكَ هَذَا فَقَالَ كَانَ عِنْدِي تَمْرٌ رَدِيءٌ فَبِعْتُهُ بِهَذَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّهْ عَيْنُ الرِّبَا عَيْنُ الرِّبَا فَلَا تَقْرَبَنَّهُ وَلَكِنْ بِعْ تَمْرَكَ بِمَا شِئْتَ ثُمَّ اشْتَرِ بِهِ مَا بَدَا لَكَ

Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’id] berkata; telah menceritakan kepada kami [Mu’awiyah bin Abu Salam Al Habasyi] berkata; aku mendengar [Yahya bin Abu Katsir] berkata; aku mendengar [Uqbah bin Abdul Ghafir] berkata; aku mendengar [Abu Sa’id Al Khudri] berkata;

“Bilal datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa kurma, lalu beliau bersabda: “Dari mana engkau dapatkan kurma ini?” maka Bilal menjawab; “Aku mempunyai kurma yang jelek, lalu aku menjualnya (menukarkan) dengan kurma ini, ” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Celakah kamu, ini adalah riba, ini adalah riba, Jangan sampai engkau mendekatinya. Akan tetapi juallah dahulu kurma milikmu sesukamu, setelah itu belilah apa yang engkau inginkan dengan uang penjualan tersebut.”(HR. Ahmad No.11167)

 

Kesimpulan dari kedua Hadist tersebut adalah  :

  1. Bahwa ada dua jenis benda yang boleh (disunahkan) untuk dijadikan alar tukar (mata uang)  yaitu Logam mulia dan bahan makanan pokok.
  2. Bahwa suatu mata uang harus secara fisik bisa dilihat dan dipegang dengan tangan.
  3. Bahwa suatu mata uang harus mempunyai nilai Intrinsik, yaitu mengandung nilai sesuai harganya.
  4. Bahwa antar mata uang hanya boleh dipertukarkan tanpa mengambil keuntungan. Artinya mata uang tidak boleh diperjual belikan, Jika mengambil keuntungan transaksi itu menjadi Riba. (Disimbolkan bahwa mengambil keuntungan dalam pertukaran Kurma baik dengan Kurma jelek) .
  5. Bahwa antar mata uang hanya boleh dipertukarkan dengan nilai yang tetap.(disimbolkan takaran tetap sama). Misalnya,  di Amerika Serikat  1 gram emas bisa ditebus dengan 20US$ sedang  1 gram emas diIndonesia harus ditebus dengan Rp500.000 , maka Kurs US$ itu harusnya tetap di RP.10.000/US$.
  6. Jika memperjual belikan mata uang yang halal saja adalah Riba, maka sudah pasti memperjualkan uang Digital yang bahkan bukan mata uang  nyata dan mengandung unsur perjudian (khayalan keuntungan) adalah Haram.

 

Wa Allahualam.

This entry was posted in Extend, recent post, Islamic View and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 76 = 80