DOKUMEN BOCOR – NEGARA-NEGARA ARAB MAKIN INTIM DENGAN ISRAEL


 

Lima dokumen presentasi yang diperoleh oleh “Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional” ICIJ, berisi presentasi oleh pusat Komando AS di Timur Tengah CENTCOM, menyimpulkan bahwa, meskipun negara-negara Arab teluk mengutuk perang di Jalur Gaza, namun mereka diam-diam memperluas kerja sama keamanan dengan militer Israel.

Dokumen itu menjelaskan aktifitas pertemuan selama tiga tahun terakhir yang difasilitasi oleh AS, dimana para pejabat militer senior dari Israel dan enam negara Arab berkumpul untuk serangkaian pertemuan perencanaan di Bahrain, Mesir, Yordania, dan Qatar.

ICIJ telah memverifikasi keaslian dokumen-dokumen tersebut dengan memeriksa ulang detail-detail penting dengan catatan resmi Departemen Pertahanan, dokumen militer yang diarsipkan, dan sumber-sumber terbuka lainnya.

 

Poin-poin Penting Dalam Dokumen

Pada Mei 2024, para pejabat senior militer Israel dan Arab berkumpul di Pangkalan Udara Al Udeid, sebuah fasilitas militer utama AS di Qatar.

Sebuah dokumen perencanaan untuk acara tersebut, menunjukkan bahwa delegasi Israel dijadwalkan terbang langsung ke pangkalan udara tersebut, guna menghindari titik-titik masuk sipil Qatar yang berisiko terekspos ke publik.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa ancaman yang ditimbulkan oleh Iran merupakan kekuatan pendorong di balik hubungan yang lebih erat, yang telah dipupuk oleh Komando Pusat militer AS, yang dikenal sebagai CENTCOM.

Satu dokumen menggambarkan Iran dan milisi sekutunya sebagai “Poros Kejahatan,” dan dokumen lainnya memuat peta dengan rudal yang ditempatkan di atas Gaza dan Yaman, tempat sekutu Iran memegang kekuasaan.

Lima presentasi PowerPoint CENTCOM itu, merinci pembentukan apa yang digambarkan oleh militer AS sebagai “Konstruksi Keamanan Regional.” Selain Israel dan Qatar, konstruksi tersebut mencakup Bahrain, Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Dokumen-dokumen tersebut juga menyebut Kuwait dan Oman sebagai “mitra potensial” yang dijelaskan dalam semua pertemuan.

Bahan-bahan presentasi tersebut ditandai sebagai “tidak rahasia”, dan didistribusikan kepada para negara mitra, dan juga kepada aliansi intelijen “Five Eyes” yang terdiri dari Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat.

Presentasi-presentasi tersebut ditulis antara tahun 2022 dan 2025, sebelum dan sesudah dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023.

Tanggal dan lokasi latihan dan pertemuan militer yang diumumkan kepada publik sesuai dengan rilis resmi militer AS, dan nama, pangkat, serta posisi pejabat militer AS dan asing sesuai dengan catatan publik.

Satu pertemuan khususnya, pada Januari 2025 di pangkalan Angkatan Darat Fort Campbell, sekitar satu jam perjalanan dari Nashville, Tennessee, mencakup sesi-sesi di mana pasukan AS melatih mitra mereka tentang cara mendeteksi dan menetralisir ancaman yang ditimbulkan oleh terowongan bawah tanah Hamas melawan militer Israel di Jalur Gaza.

Dokumen lain menjelaskan adanya “enam negara mitra” yang berpartisipasi dalam pelatihan untuk menghancurkan terowongan bawah tanah tetapi tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut.

Personel CENTCOM juga memimpin rapat perencanaan untuk meluncurkan operasi informasi guna melawan narasi Iran, bahwa Iran adalah pelindung regional Palestina. Dan menurut dokumen tahun 2025, operasi itu bertujuan untuk “menyebarkan narasi kepada mitra tentang kemakmuran dan kerja sama regional.”

Konferensi keamanan Mei 2024 di Pangkalan Udara Al Udeid menggaris-bawahi peningkatan kerja sama dengan pejabat Israel, dan mengadakan diskusi bilateral dengan perwakilan dari masing-masing negara Arab yang hadir.

Konferensi ini juga menyoroti sensitivitas diplomatik yang melekat dalam pertemuan-pertemuan ini.

Sebuah sub judul dalam dokumen bertuliskan “YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN”, yang isinya memberi tahu para peserta bahwa mereka tidak boleh mengambil foto atau memberikan akses ke media.

Sebuah catatan tebal di atas rencana perjalanan mengingatkan staf tentang pantangan kuliner bagi peserta Yahudi dan Muslim: “Dilarang makan daging babi/krustasea.”

Arab Saudi juga memainkan peran aktif dalam kolaborasi ini, berbagi informasi intelijen dengan Israel dan mitra-mitra Arabnya mengenai berbagai isu keamanan.

Dalam pertemuan tahun 2025, seorang pejabat Saudi dan seorang pejabat intelijen AS memberikan “ikhtisar intelijen” kepada para mitra, mengenai perkembangan politik di Suriah, termasuk peran yang dimainkan oleh Rusia, Turki, dan pasukan Kurdi di negara tersebut.

Briefing tersebut juga membahas ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok militan Houthi yang didukung Iran di Yaman, dan operasi ISIS di Suriah dan Irak.

Para perencana militer AS di CENTCOM sedang berupaya untuk membina hubungan yang lebih erat antara Israel dan negara-negara Arab di tahun-tahun mendatang.

Sebuah dokumen pengarahan tahun 2024 berisi rencana tentang pembentukan “Pusat Siber Gabungan Timur Tengah” pada akhir tahun 2026, yang akan berfungsi sebagai markas besar pendidikan dan latihan operasi siber defensif.

Dokumen lain menganjurkan pembentukan “Pusat Fusi Informasi” bagi para mitra untuk “merencanakan, melaksanakan, dan menilai operasi dengan cepat dalam lingkup informasi.”

  

Sikap Munafik Para Petinggi Arab

Meskipun kerja sama keamanan dengan Israel makin meluas & intim secara tertutup, didepan publik para pemimpin Arab mengecam perang Israel di Gaza. Para pemimpin Mesir, Yordania, Qatar, dan Arab Saudi mengatakan kampanye Israel tersebut merupakan genosida.

Para pemimpin Qatar telah mengeluarkan beberapa kecaman paling pedas: Di Sidang Umum PBB bulan September, emir Qatar menyebut konflik tersebut sebagai “perang genosida yang dilancarkan terhadap rakyat Palestina” dan menuduh Israel sebagai “negara yang memusuhi lingkungannya, terlibat dalam pembangunan sistem apartheid.”

Mingingat sensitivitas politik, dokumen-dokumen tersebut menyatakan bahwa kemitraan tersebut “tidak membentuk aliansi baru”, dan bahwa semua pertemuan akan “diadakan secara rahasia.”

 

Hubungan Militer Rahasia dengan Israel

Para pejabat militer AS telah secara terbuka mengakui keberadaan Konstruksi Keamanan Regional (Regional Security Construct) itu, tetapi belum membahas sejauh mana kerja sama Israel-Arab dalam upaya tersebut.

Pada tahun 2022, Jenderal Kenneth “Frank” McKenzie, yang saat itu menjabat sebagai komandan CENTCOM, menggambarkan kemitraan tersebut dalam kesaksian di Kongres sebagai upaya yang “membangun momentum Kesepakatan Abraham,” perjanjian yang membangun hubungan diplomatik antara Israel dan Maroko, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bagaimana inti dari konstruksi tersebut, sebuah rencana pertahanan udara untuk memerangi rudal dan drone Iran, telah bergeser dari teori menjadi kenyataan selama tiga tahun terakhir.

Israel dan negara-negara Arab menandatangani rencana ini pada konferensi keamanan tahun 2022, sepakat untuk mengoordinasikan latihan militer dan menyediakan peralatan untuk mewujudkannya.

Pada tahun 2024, CENTCOM berhasil menghubungkan banyak negara mitra ke sistemnya, menurut dokumen yang bocor, yang memungkinkan mereka untuk menyediakan data radar dan sensor kepada militer AS, yang pada gilirannya dapat melihat data gabungan dari para mitra.

Sebuah dokumen pengarahan menyatakan bahwa enam dari tujuh negara mitra menerima citra udara kawasan tersebut melalui sistem Departemen Pertahanan, dan dua negara berbagi data radar mereka sendiri melalui skuadron Angkatan Udara AS.

Negara-negara mitra juga dihubungkan ke “sistem komunikasi aman” yang dikelola AS sehingga mereka dapat berkomunikasi satu sama lain dan dengan militer AS.

 

Bersekutu Dengan Musuh Islam Akan Selalu Dikhianati

Saat pertemuan para petinggi Hamas di Doha – Qatar diserang Israel pada 9 September lalu, faktanya sistem pertahanan udara AS di pangkalan udara al-Hudeid tidak melakukan apapun untuk melindungi wilayah Qatar.

LetJen. Angkatan Udara AS Derek France menjelaskan dalihnya kepada para wartawan, dengan mengatakan: “Sistem satelit dan radar AS tidak memberikan peringatan dini serangan tersebut, karena sistem pertahanan udaa AS biasanya difokuskan pada Iran dan wilayah lain, yang kami perkirakan akan menjadi sumber serangan.”

Sementara Qatar sendiri juga bingung kenapa sistem radarnya juga gagal mendeteksi peluncuran rudal oleh jet tempur Israel.

 

Pendapat Para Analis

Seorang mantan pejabat pertahanan AS, yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, bahwa keterlibatan ini mencerminkan hubungan pragmatis negara-negara Teluk Arab dengan Israel, dan rasa hormat mereka terhadap kekuatan militer Israel.

“Mereka semua tampaknya berpikir bahwa Israel dapat melakukan apapun yang mereka inginkan, kapanpun mereka mau, tanpa terdeteksi,” kata mantan pejabat tersebut.

Thomas Juneau, seorang profesor di Universitas Ottawa yang berfokus pada isu-isu keamanan Timur Tengah mengatkan, “ada banyak kekhawatiran diantara negara-negara Teluk tentang apa yang akan dilakukan Israel jika Israel lepas kendali”.

“Namun di saat yang sama, mereka bergantung pada AS sebagai penjamin keamanan mereka, dan mereka juga sangat khawatir tentang Iran.”

Emile Hokayem, direktur keamanan regional di lembaga kajian International Institute for Strategic Studies mengatakan, bahwa AS telah lama berharap kerja sama militer akan menghasilkan normalisasi hubungan politik antara Israel dan negara-negara Arab.

Namun, meskipun bekerja sama secara diam-diam dengan para pemimpin militer negara-negara tersebut dapat menghindari diskusi politik yang pelik. Pendekatan ini juga “mengaburkan atau menyembunyikan realitas” ketegangan antara kedua belah pihak, ujarnya.

 

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to DOKUMEN BOCOR – NEGARA-NEGARA ARAB MAKIN INTIM DENGAN ISRAEL

  1. Palallo says:

    Assalamualaikum wr wb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.