
Secara kolektif saat ini diperkirakan ada 12.512 hulu ledak nuklir diseluruh dunia, yang dimiliki oleh sembilan negara. Namun, terdapat lebih dari dua lusin negara lain yang berpartisipasi dalam pengaturan terkait misi nuklir.
Meskipun dua lusin negara itu tidak memiliki wewenang peluncuran langsung atas hulu ledak nuklir apapun, tapi mereka memainkan peran penting dalam penyimpanan, perencanaan, pengiriman, serta pengendalian dan penggunaannya.
Pada tahun 1971, AS mengerahkan lebih dari 7.000 senjata nuklir di Eropa, termasuk Belgia, Yunani, Italia, Belanda, Turki, Inggris, dan Jerman Barat.
Mulai tahun 1991-1992, AS menarik semua senjata nuklir taktis yang diluncurkan dari darat dan laut dari Eropa, menyisakan 700 bom gravitasi nuklir.
AS kemudian mengkonsolidasikan banyak senjata ini ke sejumlah pangkalan di Eropa yang lebih kecil; antara tahun 1985 dan 1995, dan jumlah pangkalan udara nuklir di Eropa berkurang dari 23 menjadi 16. Pada tahun 2000, tersisa 480 bom nuklir AS di Eropa, yang jumlahnya turun menjadi 180 pada sekitar tahun 2007.
Artikel aslinya dalam bentuk pdf bisa didownload dilink berikut ini.
Nuclear Sharing
Nuclear sharing mengacu pada praktik yang mengizinkan negara-negara NATO non-nuklir untuk ditempati dan mengoperasikan peluncur berkonfigurasi khusus, dalam penggunaan senjata nuklir milik NATO, jika perang nuklir terjadi.
Tujuan yang dikemukakan dari penyebaran nuklir NATO disebutkan:
- Mempertahankan kekuatan nuklir untuk memberikan perlindungan nuklir bagi negara-negara non-nuklir.
- Menjadi tuan rumah permanen bagi senjata nuklir atau sistem pengiriman negara lain.
- Menyediakan sistem pengiriman agar mampu menggunakan senjata nuklir negara lain.
- Menyediakan kemampuan konvensional untuk mendukung misi serangan nuklir negara lain. atau
- Bekerja sama dengan negara lain dalam perencanaan dan penargetan nuklir.
Negara Penyimpan Senjata Nuklir NATO
Ada tujuh negara anggota NATO: Belgia, Jerman, Italia, Belanda, AS, serta Turki dan Yunani, yang ditempati senjata Nuklir NATO, selain juga wajib menyumbangkan Pesawat Berkemampuan Ganda” Dual-Capable Aircraft” (DCA), untuk misi nuklir NATO.
Saat ini ada lima negara NATO dengan memiliki total enam basis yang menyimpan bom nuklir AS di bunker bawah tanah. Beberapa pangkalan lain memiliki bunker penyimpanan kosong yang berstatus tidak aktif.
Enam anggota NATO lainnya: Republik Ceko, Denmark, Hongaria, Polandia, dan dua negara yang tidak diketahui, memainkan peran pendukung dalam postur nuklir NATO melalui misi “SNOWCAT” (“Dukungan Operasi Nuklir dengan Taktik Udara Konvensional”), di samping negara-negara penyumbang DCA.
Semua negara anggota NATO kecuali Prancis, yang juga memiliki senjata nuklir sendiri, berpartisipasi dalam Kelompok Perencanaan Nuklir (NPG) NATO, yang mengatur kebijakan dan pengambilan keputusan kolektif atas misi nuklir NATO.
Setiap tahun, NATO mempraktikkan pengaturan pembagian nuklirnya dalam latihan selama dua minggu yang dikenal sebagai “Steadfast Noon”, yang diselenggarakan oleh negara anggota NATO yang berbeda setiap tahunnya.
Pangkalan udara Kleine Brogel di Belgia
Pangkalan Udara Kleine Brogel di Belgia menampung sekitar 10-15 bom nuklir B61 AS yang akan dikerahkan dengan pesawat F-16MLU Belgia.
Sebanyak 11 tempat perlindungan pesawat dilengkapi dengan Sistem Penyimpanan dan Keamanan Senjata Weapons Storage and Security System (WS3) yang mencakup Weapon Storage Vault” (WSV), yang digerakkan oleh lift, serta perangkat lunak komando, kendali, dan komunikasi terkait yang diperlukan untuk membuka kunci senjata, yang dapat diturunkan ke lantai beton.
Setiap WSV dapat menampung hingga empat bom, dengan kapasitas pangkalan maksimum 44 senjata.
Pangkalan Udara Volkel Di Belanda
Belanda Pangkalan Udara Volkel (51.6577, 5.7016) menampung sekitar 10-15 bom nuklir B61 AS, untuk nantinya dikirim dengan pesawat F-16MLU Belanda.
Terdapat 32 tempat perlindungan pesawat di Pangkalan Udara Volkel, 11 di antaranya dilengkapi dengan Weapons Storage and Security System (WS3) untuk penyimpanan senjata nuklir.
Setiap “elevator-drive Weapon Storage Vault” (WSV) dapat menampung hingga empat bom, dengan kapasitas pangkalan maksimum 44 senjata nuklir.
Selain itu, landasan pacu yang luas untuk pesawat angkut nuklir C-17A telah ditambahkan di sebelah area penyimpanan senjata nuklir.
Pangkalan Udara Büchel di Jerman
Pangkalan Udara Büchel menampung sekitar 10-15 bom nuklir B61 AS, yang jika terjadi krisis akan dikerahkan dengan pesawat Tornado PA-200 Jerman. Ada sejumlah 11 tempat perlindungan pesawat di Pangkalan Udara Büchel yang dilengkapi dengan WS3 untuk penyimpanan senjata nuklir.
Setiap WSV dapat menampung hingga empat bom, dengan kapasitas pangkalan maksimum 44 senjata. Seluruh landasan pacu di Pangkalan Udara Büchel telah dibangun sejak September 2022.
Sementara itu, pesawat Tornado dari Tactical Air Wing 33 ditempatkan di Pangkalan Udara Nörvenich, dan Pangkalan Udara Spangdahlem.
Pangkalan Udara Aviano di Italia
Pangkalan Udara Aviano menampung sekitar 20-30 bom nuklir B61 AS yang saat krisis nuklir akan dikerahkan dengan pesawat F-16C/D AS.
Pangkalan Udara Aviano merupakan markas Wing Tempur ke-31 dengan dua skuadron pesawat berkemampuan nuklir, yaitu: Skuadron Tempur “Buzzards” ke-510 dan Skuadron Tempur “Triple Nickel” ke-555.
Ada sebanyak 18 bunker penyimpanan senjata nuklir bawah tanah dipasang di sejumlah tempat perlindungan pesawat di Aviano pada tahun 1996.
Setiap WSV dapat menampung hingga empat bom, dengan kapasitas pangkalan maksimum 44 senjata. Peningkatan signifikan pada area dengan tempat perlindungan senjata nuklir aktif telah diselesaikan pada tahun 2014-2015.
Pangkalan udara Ghedi di Italia
Pangkalan Udara Ghedi menampung sekitar 10-15 bom nuklir B61 AS yang saat krisis nuklir akan dikerahkan dengan pesawat Tornado PA-200 Italia.
Terdapat 22 tempat perlindungan pesawat di Pangkalan Udara Ghedi, terbagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 11 tempat perlindungan di ujung barat laut dan tenggara lapangan terbang.
Konstruksi yang sedang berlangsung meliputi pembangunan landasan pacu dan area perlindungan baru untuk pesawat F-35A Italia yang telah dipesan oleh Italia.
Pangkalan Udara Incirlik di Turki
Pangkalan Udara Incirlik menampung sekitar 20-30 bom nuklir B61 AS yang saat krisis nuklir akan dikerahkan oleh pesawat AS.
Namun, tidak seperti pangkalan AS lainnya, Turki tidak mengizinkan AS untuk menempatkan pesawat pengebomnya secara permanen di Incirlik. Akibatnya, pesawat AS harus terbang saat krisis untuk mengambil senjata tersebut, atau senjata tersebut harus dikirim ke lokasi lain sebelum digunakan.
Meskipun ada laporan bahwa Pentagon sebelumnya telah meninjau rencana pemindahan senjata nuklir AS dari Turki karena masalah keamanan, misi nuklir tersebut masih aktif sampai kini.
Pangkalan Udara Lakenheath di Inggris
Amerika Serikat menyimpan senjata nuklir diInggris dari tahun 1954, tapi senjata-senjata tersebut ditarik dari Pangkalan Lakenheath pada 2007.
Namun, selama dua tahun terakhir, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS sedang meningkatkan kemampuan Pangkalan Angkatan Udara Lakenheath agar mampu menyimpan bom nuklir.
Potensi penyebaran nuklir AS di Korea Selatan dan Jepang
Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya retorika agresif dari Korea Utara telah menimbulkan kekhawatiran bagi Korea Selatan dan Jepang, mengenai keandalan penangkalan AS dikedua negara.
Kekhawatiran ini memicu kembali diskusi tentang potensi perlunya pengaturan pembagian nuklir “ala NATO” di Jepang & Korea selatan, guna mengatasi masalah keamanan regional.
Sebuah jajak pendapat Chicago Council on Global Affairs yang dirilis pada Februari 2022 menunjukkan bahwa 71% responden Korea Selatan mendukung pengembangan senjata nuklir mereka sendiri, sementara 56% mendukung penempatan senjata nuklir AS di Korea Selatan.
Pada tahun 2023, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol & Presiden AS Joe Biden menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Deklarasi Washington, yang secara eksklusif berfokus pada janji pencegahan nuklir AS yang diperluas.

















