Kongres AS Akan Bahas RUU Yang Mengabaikan Perjanjian Nuklir 1987

Tom Cotton and Donald Trump are pictured. | AP Photo

Senator Tom Cotton salah seorang pendukung RUU dan Donald Trump

Media AS melaporkan bahwa Kongres sedang mempersiapkan beberapa RUU yang akan mengharuskan Pentagon untuk melanggar Perjanjian senjata nuklir jarak menengah antara AS dan Rusia yang disepakati  tahun 1987.

Senat AS akan segera memperdebatkan sebuah peraturan  dalam bentuk  undang-undang tentang kebijakan pertahanan baru, yang akan menyisihkan dana $65 juta dan juga meminta militer untuk bisa menggunakan kembali  rudal dengan jarak antara 500 dan 5.500 kilometer.

Dengan kata lain RUU itu  akan memerintahkan militer untuk mulai mengembangkan rudal jarak menengah yang dilarang oleh  perjanjian 1987 yang dilakukan presiden  Ronald Reagan dengan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev selama bertahun tahun-tahun  dalam era Perang Dingin.

Para pendukung RUU itu mengatakan bahwa  langkah tersebut diperlukan karena Presiden Rusia Vladimir Putin dianggap  telah melanggar perjanjian tersebut. Tapi fihak lawan  (Rusia) khawatir hal itu bisa meningkatkan kemungkinan konfrontasi nuklir pada saat hubungan antara kedua negara sedang berada pada titik terendah pasca Perang Dingin.

RUU tersebut juga cenderung akan menimbulkan gesekan baru antara anggota parlemen dan Donald Trump yang kemarin telah  menuduh Kongres secara tidak langsung mencampuri urusannya dengan Rusia. Pada hari rabu alalu Trump mengecam Kongres  karena memasukkan “ketentuan yang jelas-jelas tidak konstitusional” dalam sebuah undang udang  yang memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia,  undang-undang yang dia katakan dia mau tandatangani “demi persatuan nasional”.

“Sekaranglah saatnya rudal jarak pendek dan menengah tidak memiliki pembatasan, Tapi disisi lain mungkin bisa  membuatlangkah yang salah perhitungan yang bisa  menyebabkan hal (fatal) yang tidak terpikirkan,” Senator Patrick Leahy salah satu pendukung RUU mengatakan  kepada Politico.com.

This entry was posted in Analisa Geopolitik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =