
Pelaksanaan rencana Israel untuk mengumpulkan seluruh warga Gaza dikota Rafah nampaknya telah dimulai.
Warga Palestina dari seluruh penjuru Gaza, sepertinya akan digiring untuk memasuki wilayah selatan Gaza termasuk kota Rafah, yang akan dijadikan semacam kamp konsentrasi bagi seluruh warga Gaza.
Kamp konsentrasi baru itu akan disamarkan sebagai area “distribusi bantuan kemanusiaan”, guna menggiring warga kelaparan dari seluruh Gaza untuk memasukinya.
Mekanisme pemindahan ke Kamp konsentrasi
Citra satelit menunjukkan pos-pos terdepan dan gudang yang dibangun oleh Israel di bagian selatan Gaza, area ini dibangun setelah berbulan-bulan pasukan Israel meratakan seluruh area di Rafah, dan menggusur warganya.
Rencana tersebut telah dirilis April lalu, dengan nama operasi “Gideon Chariot” (Kereta Gideon), yang memindahkan paksa seluruh warga Gaza ke area seluas 45 km² disisi selatan “Koridor Morag” di Rafah. Sebuah garis batas baru yang diciptakan Israel untuk mencapai tujuan itu.
Koridor Morag akan menjadi satu-satunya zona dimana bantuan kemanusian akan diizinkan oleh Israel.
Dengan area hanya 45 km² untuk dihuni 2,2 juta orang, maka kepadatan penduduk akan sekitari 49.000 per km², artinya ini bukan zona kemanusiaan, dan lebih mirip penjara terbuka.
Kelaparan sebagai senjata pemaksa
Rencana distribusi bantuan kemanusiaan yang kini dikelola AS dan Israel, sepertinya tidak bertujuan untuk memberikan bantuan, seperti yang diklaim.
Tujuan utamanya adalah, untuk memaksa seluruh penduduk Jalur untuk bergerak ke selatan dan terkumpul di kamp konsentrasi itu.
Saat ini, makanan dalam jumlah kecil yang didistribusikan hanya setiap minggu. Untuk mendapatkannya, seseorang harus menempuh perjalanan jauh yang berbahaya & melelahkan ke selatan, menuju Rafah.
Ini adalah metode yang licik untuk mencapai tahap pertama dari rencana Israel yang akan meliputi: memusatkan populasi Gaza di selatan & merebut seluruh Gaza, dan semuanya dilakuan tanpa perlu intervensi militer yang intens.
Rencana itu sendiri rupanya dirancang sejak lama bahkan sebelum serangan Israel ke Gaza, dan telah mendapat persetujuan penuh dari seluruh kabinet, sebelum pelaksanaan.
Namun saat ini, rencana ini disajikan dengan melibatkan kedok AS (pelibatan tentara bayaran AS), yang tentunya ditujukan untuk memberi Israel perlindungan internasional, legitimasi palsu, dan guna mengurangi rasa malu negara-negara yang terlibat dalam sandiwara ini.
Tentara bayaran berkedok badan kemanusiaan
Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF=Gaza Humanitarian Foundation) yang didukung AS, kini menjadi tokoh sentral dari seluruh rencana bantuan kemanusiaan baru yang diinginan Israel. Badan baru ini rupanya sengaja dibentuk untuk melayani rencana Israel atas warga Gaza.
GHF sengaja dibentuk guna menggeser peran badan kemanusiaan PBB untuk Gaza UNRWA, kemungkinan utuk meningkatkan privasi Israel atas apa sebenarnya terjadi di Gaza.
Rencananya, GHF akan mengoperasikan empat pusat bantuan yang akan melayani hingga 2 juta orang, di bawah koordinasi penuh bersama militer Israel.
Meskipun dikatakan badan itu independen dan netral, namun itu hanyalah pemanis bibir saja. Karena faktanya personil dari badan itu terdiri dari para tentara bayaran AS.
Dunia mengecam, namun siapa yang bisa mengatur Israel?
Kelompok hak asasi memperingatkan, bahwa GHF menciptakan sistem bantuan militer, yang mengabaikan bahkan menyingkirkan peran lembaga Palestina dan lembaga kemanusiaan lain.
Kepala Badan kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengutuk rencana tersebut sebagai “pertunjukan sampingan yang sinis” dan sebagai “dalih untuk melakukan kekerasan lebih lanjut.”
Fletcher memperingatkan, bahwa rencana itu aka memicu pengungsian massal, dan membatasi bantuan ke beberapa bagian Gaza, dan menggunakan kelaparan sebagai alat tawar-menawar.
Ia menuduh Israel “dengan sengaja dan tanpa malu-malu memaksakan kondisi yang tidak manusiawi pada warga sipil,” dan meminta DK PBB bertindak tegas guna mencegah genosida dan menegakkan hukum humaniter internasional.
Kemungkinan rencana Israel lebih jauh
Gaza telah luluh lantak, Israel telah menghancurkan seluruh fasilitas yang mendukung kehidupan di Gaza, dan jelas tujuan akhir Israel adalah ingin mengusir seluruh warga Palestina yang ada di Gaza.
Namun warga Gaza tidak punya pilihan lain, tidak satupun negara Arab yang menawarkan opsi untuk mau menerima mereka.
Bisa juga kemungkinan untuk memberi akses bagi warga Gaza guna “bermigrasi secara sukarela” dari Gaza melalui penyeberangan Karam Abu Salem lalu ke bandara Ramon di Israel selatan, untuk mengurangi populasi Gaza. Tapi itu hanya bisa dilakuakn bagi mereka yang masih punya sisa duit.
Dari gambar besar yang kita utarakan dalam artikel tentang “Israel Raya”, jelas bahwa rencana ini akan memungkinkan penguasaan permanen Israel secara keseluruhan atas Jalur Gaza.

















