ANALIS AS : DAVOS 2023 ADALAH KUBURAN TERAKHIR GLOBALISASI

 

Forum Ekonomi Dunia (WEF), adalah sebuah organisasi non-pemerintah dan lobi internasional yang didirikan pada Januari 1971 oleh ekonom Jerman, Klaus Schwab. Awalnya entitas itu disebut “Forum Manajemen Eropa”, tapi kemudian pada 1987 mengubah namanya menjadi Forum Ekonomi Dunia.

Kelompok itu merangkul para eksekutif bisnis, pemimpin, pemikir, dan politisi terkemuka, dan berupaya untuk menjadi “platform global” untuk mempelopori gagasan globalisasi, dan bermimpi memecahkan dilema ekonomi dan politik dunia.

Namun, beberapa analis Barat mulai melihat, bahwa forum tersebut kini telah dengan cepat berubah menjadi klub elitis teknokratis, yang berusaha mendiktekan aturannya untuk seluruh dunia.

 


Dr. Gal Luft director of the Institute for the Analysis of Global Security (IAGS)


 

Direktur Institut Analisis Keamanan Global AS (IAGS) yang berbasis di Washington, DR. Gal Luft, dalam wawancara dengan Sputnik berpendapat, bahwa “Forum Davos tahun ini makin menampilkan keadaan baru dunia yang terpecah belah, penuh kebencian, dan suram.”

“Davos telah menjadi ruang ganti bagi Barat, dan semakin terpisah dari dunia yang lain. Davos tidak lagi mewakili keprihatinan nyata sebagian besar penduduk dunia. Obsesinya terhadap perubahan iklim, keadilan sosial, gender, dan bentuk kesadaran lainnya telah menjadikannya bahan tertawaan dan sasaran hinaan bagi sebagian besar dunia.”
“Ide globalisasi didasarkan pada premis penerimaan luas terhadap institusi global, norma dan aturan, serta aliran barang, uang, dan informasi yang cukup bebas. Masing-masing dari mereka telah dikompromikan selama beberapa tahun terakhir, pertama dengan pemisahan AS-China dan kedua dengan perang di Eropa.”
“Sebaliknya, kita kini malah membuat percabangan global menjadi dua kubu, yaitu kolektif Barat ditambah anggota kehormatan dan sekutu lainnya, dan munculnya institusi baru, yang membentuk aliansi, instrumen keuangan, blok perdagangan dan set prioritas (sendiri),” kata Gal Luft.

“Tidak ada lagi jalan untuk bisa kembali ke sistem pasca Perang Dunia II. Selain itu, kami melihat ada penolakan besar-besaran terhadap beberapa institusi dan individu yang paling terkait dengan globalisasi, seperti media, Davos, industri hiburan, dlst”.

“De-globalisasi juga dapat terjadi dilihat di sepanjang garis kesalahan budaya. Gagasan, etika, dan ‘nilai-nilai’ Barat kini ditolak oleh miliaran orang yang menganggapnya berbahaya dan menuju ketidak-stabilan,” lanjut Gal Luft.

“Forum Itu telah menjadi simbol elitisme dan arogansi, yang menganggap taman sebagai lawan dari hutan, yang menggunakan terminologi Josep Borrell, dan platform untuk memajukan prioritas Barat.”

Meskipun forum Davos kemungkinan akan terus menyatukan para eksekutif dan politisi Barat, tapi forum itu tidak lagi menjadi platform yang benar-benar internasional, dan apa yang oleh beberapa orang disebut “pemerintahan dunia” itu tidak akan terwujud, tegasnya.

“Di tahun-tahun mendatang, dengan kepergian Klaus Schwab yang tak terelakkan lagi dari panggung Davos, forum itu akan kehilangan relevansinya, dan hanya akan menjadi klub eksklusif yang terlalu mahal, dengan tiket masuk $250.000,” kata Luft.

 

Rusia Tidak Sejalan Dengan Arah Davos

Konstantin Babkin, presiden Asosiasi Industri mesin pertanian Rusia (Rosagromash) dan ketua bersama Forum Ekonomi Moskow (MEF), mengatakan, bahwa “forum di Davos adalah kongres para penganut globalisme”.

“Orang-orang (di Davos) itu ingin melihat agar dunia bersatu dibawah penguasaan korporasi global, bahkan ingin mendominasi struktur resmi negara.” kata Babkin.

“Apa yang terjadi di Ukraina bertentangan dengan gagasan mereka tentang dunia ideal. Banyak perusahaan multinasional kini harus meninggalkan Rusia. Jadi, Rusia kini telah berada diluar kendali perusahaan-perusahaan Barat itu. Ini bertentangan dengan gagasan mereka tentang keadaan ideal (yang mereka mau),” lanjut Babkin.

“Sementara para pendukung Davos bersikeras, bahwa perlu untuk mendukung Ukraina dan untuk memastikan bahwa Rusia mau mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Barat, tapi tampaknya banyak Negara kini telah bosan dengan retorika permusuhan ini,” tambahnya.

“Alangkah indahnya jika (dunia) memiliki model yang berbeda, Negara-negara yang berbeda, masyarakat yang berbeda, budaya yang berbeda.” Akan ada model Iran, model India, model China, model Barat, dan penolakan terhadap globalisme.”

“Saya pikir ini adalah hal yang baik, dan Rusia perlu mengembangkan ekonominya sendiri. Saya juga dapat menyarankan Iran, dan China, dan negara bagian besar lainnya, dan asosiasi negara bagian. Saya pikir model dunia yang dipromosikan Davos sangat tidak stabil.”

Menurut Babkin, tatanan dunia global yang berpusat pada Barat akan berantakan, dimana negara-negara lain akan memilih untuk mengadopsi status non-blok, dan menerapkan skenario pembangunan mereka sendiri, baik dalam hal kebijakan keuangan, perdagangan luar negeri, dan kebijakan pajak mereka.

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to ANALIS AS : DAVOS 2023 ADALAH KUBURAN TERAKHIR GLOBALISASI

  1. otnas says:

    persiapan akhir zaman menuju perang akbar di magedo _diawali di sisi utara di padang rumput luas di ukrain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *