PENELITIAN COVID-19 DI CHINA DAN KORSEL PADA PASIEN YANG TELAH SEMBUH

Unbeatable virus or false positive? Doctors alarmed after some Covid-19 patients test positive after recovering

Covid-19 adalah virus yang benar-benar jenis baru, faktanya para ahli di Korsel dan China masih dibuat bingung dengan fenomena beberapa pasien yang telah sembuh ternyata bisa kembali dalam status positif.

Mereka meneliti beberapa aspek, yang meliputi kemungkinan bahwa mereka telah terinfeksi kembali, atau kemungkinan ada sisa virus yang aktif kembali dalam tubuh pasien yang telah dinyatakan sembuh.

Aspek lain yang menjadi kebingungan para ahli Korsel dan China itu adalah ditemukannya jumlah antibodi yang sangat minim pada pasien usia muda, dan justru dalam jumlah yang banyak pada usia tua.  Bahkan pada beberapa kasus tidak ditemukan antibobi sama sekali.

Para ahli itu juga masih dihadapkan pada  pertanyaan lain, yaitu apakah timbul kekebalan paska seseorang dinyatakan sembuh. 

 

Hasil pengujian dari Korea Selatan dan China menunjukkan beberapa pasien yang telah sembuh dari infeksi Corona, menunjukkan terindikasi positif  Covid-19 lagi,

Hasil ini akan mengesampingkan ‘strategi mitigasi’ yang diterima secara luas untuk memerangi virus ini, yang kemungkinannya dengan cara penghentian, hingga dengan vaksinasi.

Setelah adanya sekitar 51 pasien yang telah sembuh dikota Daegu dinyatakan kembali positif Covid-19 lagi, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mulai melakukan penelitian atas (dua kemungkinan) yaitu bagaimana mereka bisa terinfeksi kembali, ataukah apakah mungkin virus itu (masih ada dalam tubuh) dan telah aktif kembali (reaktivasi).

“Sementara kami lebih menekankan pada reaktivasi sebagai kemungkinan utama penyebabnya, kami sedang melakukan studi komprehensif tentang hal ini,” kata Direktur Jenderal KCDC Jeong Eun-kyeong, seperti dikutip oleh Bloomberg.

Kemungkinan pertama yaitu telah terjadi “infeksi ulang” yang tentu akan menjadi masalah tersendiri, atau kemungkinan kedua yaitu terjadinya “reaktivasi” (aktifnya kembali sisa) virus, yang juga akan menjadi tantangan yang lebih meresahkan (bagi para ahli).

Selain itu juga masih ada pertanyaan tentang apakah muncul “kekebalan paska-sembuh” terhadap virus ini, dan itu akan menjadi tantangan besar bagi ‘strategi mitigasi’ yang diadopsi di seluruh dunia.

Jika ada risiko tinggi bahwa virus bisa aktif kembali di antara orang-orang yang telah dianggap sembuh, itu berarti diperlukan karantina yang lebih lama,  dan penundaan pembukaan kembali aktifitas bisnis dan ruang publik.

Kemungkinan lain, bahwa ini adalah hasil “positif palsu”, jika tes mengambil residu dari infeksi awal, atau ini hanya merupakan kepanjangan dari “viral load” yang terlewatkan pada saat pengujian, karena kadar virusnya terdeteksi masih di bawah ambang batas.

Korea Selatan sering disebut sebagai salah satu contoh kisah sukses dalam menangani pandemi ini, Korsel bisa menjaga jumlah total infeksi menjadi 10.400 dan jumlah kematian menjadi 204, melalui karantina yang ketat, pengujian yang luas dan langkah-langkah pelacakan kontak pasien.

Berita meresahkan lain datang dari China, tempat virus covid-19 ini pertama kali terdeteksi pada Desember tahun lalu.

Sebuah tim ilmuwan di Universitas Fudan yang menganalisis sampel darah dari 175  pasien yang telah sembuh dari rumah sakit di Shanghai ditemukan bahwa, hampir sepertiganya memiliki tingkat antibodi yang “sangat rendah”, dan dalam  sepuluh kasus bahkan “tidak ada antibodi sama sekali”.

“Apakah pasien-pasien ini berisiko tinggi mengalami rebound atau infeksi ulang, harus dieksplorasi dalam studi lebih lanjut,” kata tim ahli China itu dalam makalah penelitian awal yang dirilis pada hari Senin.

Meskipun kesimpulan itu belum ditinjau atau dievaluasi oleh para ahli lain, para peneliti China itu mengatakan mereka telah melakukan pemeriksaan sistematis pertama dari tingkat antibodi pada pasien Covid-19 yang telah sembuh.

Semua orang yang diperiksa itu telah dinyatakan sembuh dari gejala ringan, dan sebagian besar dari mereka yang berusia muda 15-39 tahun memiliki tingkat antibodi yang rendah. Sebaliknya, pada kelompok usia 60-85 memiliki jumlah antibodi tiga kali lipat, kata para ilmuwan China itu.

Jika beberapa pasien tidak mengembangkan antibodi, maka akan bisa memiliki implikasi serius baik jika nanti dilakukan vaksinasi maupun dalam hal penumbuhan “kekebalan” sendiri.

Semua fakta ini menunjukkan ternyata masih banyak hal yang belum diketahui tentang virus Covid-19 yang telah memaksa hampir separuh umat manusia didunia menjalani karantina dalam sebulan terakhir.

Mengingat kejatuhan ekonomi yang mendalam dari langkah-langkah mitigasi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu lebih penting daripada sebelumnya. Namun bahkan di China, para pejabat tidak yakin bagaimana hal-hal seperti ini akan berjalan dalam jangka panjang.

“Siapa yang bisa tahu apakah virus ini akan menjadi penyakit seperti flu musiman, atau menjadi penyakit kronis seperti hepatitis B, atau hilang begitu saja seperti SARS?” Profesor Wang Chen, penasihat ilmiah senior untuk pemerintah China, mengatakan kepada Science and Technology Daily, Senin.

 

This entry was posted in Info Lain. Bookmark the permalink.

8 Responses to PENELITIAN COVID-19 DI CHINA DAN KORSEL PADA PASIEN YANG TELAH SEMBUH

  1. zan says:

    semakin lama makin yakin mereka bener2 ingin uang digital bakal dilaksanakan dengan cepat dengan pandemi ini.. jadi tahun 2020 uang digital 100% implemented.. menggantikan uang kertas.

    https://id.investing.com/news/cryptocurrency-news/bis-dukung-mata-uang-digital-bank-sentral-ditengah-pandemi-virus-1974227

    apalagi ditambah bentar lagi pilpres amerika, jika yang menang orang dari partail republik, maka WW3 tahap 2 mungkin bisa lebih cepat.. mungkin 2023, dengan konteks “khilafah islam”. semoga saja tidak terjadi secepat itu..

    Wallahualam

  2. Annisa says:

    Negara2 maju sj bngung ya. Kira-kira apa ya min yang bisa menghentikan penyebaran virus aneh ini?

  3. Wawan says:

    Komentar Admin dan teman2 semua, thdp;
    1. Covid 19 buatan zionis.

    2. Tujuan covid 19:
    2.1. Semakin menggenapi Nurbuat dari versi Yahudi, bahwa saat wabah melanda, nantinya akan dipulihkan oleh Sang Al Masih (bagi kita itu palsu, yaitu Dajjal).
    2.2. merontokkan perekonomian dunia, terutama Arab Saudi dan Amerika Serikat.
    2.3. melemahkan pemerintahan Iran, bahkan kalo bisa membunuh Imam Khomeini.
    2.4. melakukan riset utk pengembangan wabah yg lebih mematikan, khususnya di Italia, dan umumnya di seluruh dunia. (Dimana nantinya wabah baru itu akan menjadi “senjata makan tuan”, saat doa Nabi Isa As, membuat wabah lepas, dan membunuh yajuj Majuj).
    2.5. menyudutkan China sbg tersangka.
    2.6. mempercepat atau sbg stimulus, demi terwujudnya Pax Judaica.

    3. Setelah covid 19, akan dilanjutkan dgn agenda berikut nya;
    3.1. memperuncing ketegangan dlm internal pemerintahan Aran Saudi,
    3.2. memaksa banyak negara utk melakukan kebijakan perekonomian yg membuat dunia menuju greatest depression.
    3.3. memaksa penguasa Amerika Serikat utk memulai Perang Dunia 3.
    Wallahu a’lam.

    Gimana komentar Admin dan teman2?

Leave a Reply to Wawan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *