EKONOMI SEBAGAI SENJATA INKONVENSIONAL

Army Special Forces practice conventional, unconventional warfare ...

Militer AS mengkatagori persenjataan untuk menyerang suatu negara dalam 3 katagori besar, Conventional Warfare (CW), Irregular Warfare (IW) . dan Unconventioal Warfare (UW).

Dari cakupan area yang terdampak ada pembagian lagi yaitu Tactical weapons untuk area lebih kecil, dan Strategic Weapons untuk melumpuhkan area yang besar dari suatu negara. Sementara, dari segi target yang disasar ada 3 katagori lagi, yaitu Government, Military, dan Population.

Conventional Warefare adalah penggunaan kekuatan militer untuk menjatuhkan dan mengganti suatu Pemerintahan dan melumpuhkan militernya, tapi Irregular Warfare ditargetkan untuk menjatuhkan dan mengganti Pemerintahan tapi tidak menggunakan persenjataan.

Irregular Warfare tidak berbasis platform tapi lebih berbasis massa, lebih kepada doktrin untuk memecah belah dan mengadu-domba dari dalam suatu negara dengan target menjatuhkan suatu pemerintahan. Sebuah senjata yang paling efisien meski perlu waktu untuk mencapai sukses.

Aspek yang dimanfaatkan dalam Irregular Warfare adalah dinamika atau friksi sosial yang tersedia dimasyarakat negara sasaran, seperti politik kesukuan,  pengaruh agama, adat istiadat dan budaya dan  penggunaan jejaring sosial.

Ketiga jenis senjata CW, IW dan UW itu bisa diterapkan secara terpisah atau diterapkan secara gabungan dalam apa yang disebut Joint operating Concept.

 

Unconventional Warefare atau Senjata Inkonvensional

Unconventional Warfare berbeda lagi, ini lebih kepada penggunaan Instrumen ekonomi dan keuangan, penerapan sanksi ekonomi ataupun embargo ekonomi, sebagai senjata untuk merontokan ekonomi suatu negara dan memiskinkan rakyatnya, dengan tujuan akan timbul kekacauan sosial yang diakhiri pemberontakan untuk mengganti suatu pemerintahan.

Unconventional warfare adalah senjata inkonvensional yang paling tidak manusiawi, karena yang paling terdampak penderitaan adalah “rakyat yang paling miskin” dari suatu negara. Begitu tidak manusiawinya sampai-sampai  fenomena penggunaan Unconventional warfare ini secara khusus diisyaratkan dalam beberapa Hadits yang sudah kita kaji dalam artikel “Binatang yang bisa berbicara”.

Contoh sukses penggunaan gabungan senjata CW dan IW adalah pada saat penjatuhan Saddam Husein dan Muammaf Qadafi. Contoh yang gagal dalam penggunaan gabungan 3 senjata sekaligus  CW dan IW dan UW adalah yang diterapkan di Suriah. Sementara Iran dan Venezuela sudah beberapa tahun ini sedang menjadi target senjata IW dan UW, dan kemungkinan akan mengarah ke penggunaan CW.

Sebuah buku panduan Militer AS setebal 248 halaman yang dibocorkan Wikileaks mengungkap Prosedur standar (SOP) penggunaan Unconventional Warfare ini. Anda masih bisa mendownload buku itu dan mempelajari sendiri apa dan bagaimana yang dimaksud dengan unconventional warfare dan bagaimana cara mereka menerapkannya

Buku ini sangat relevan untuk disimak saat ini karena setelah semua negara terutama negara berkembang rontok ekonominya karena Coronavirus,  maka lembaga-lembaga  keuangan globalis itupun sibuk menajamkan kukunya untuk makin menceramkannya lewat gelontoran hutang ribawinya lengkap dengan persyaratan yang sangat merugikan para debiturnya. 

Dibawah ini adalah sebuah artikel  yang ditulis oleh Whitney webb pada situs mintpresnews.com yang mengulas Buku panduan militer AS itu.

 

 

Dalam sebuah buku panduan (SOP) militer (AS) yang dibocorkan oleh Wikileaks tentang senjata “perang inkonvensional” yang diterapkan oleh Militer AS menyebut, bahwa lembaga keuangan global seperti Bank Dunia (WB), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), digunakan sebagai “unconventional warfarel” dalam bidang finansial. pada saat terjadi konflik (krisis ekonomi) dan dalam perang berskala besar, disamping juga sebagai alat untuk mengarahkan kebijakan dalam kerja sama antara negara”.

Dokumen itu secara resmi berkode “Field Manual (FM) 3-05.130” dan berjudul “Army Special Operations Forces Unconventional Warfare”, yang ditulis pada bulan September 2008.

Secara khusus, dalam sebuah Tweetnya WikiLeaks menyoroti peristiwa pelemahan ekonomi di Venezuela yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Penindasan ekonomi yang dipimpin AS itu dilakukan melalui Sanksi ekonomi  dan cara perang ekonomi yang lain.

Dokumen itu awalnya dirilis oleh WikiLeaks pada bulan Desember 2008 dan telah dianggap sebagai “buku pegangan perubahan rezim”  atas suatu negara oleh militer AS.

Satu bagian yang  menarik dari Laporan Wikileaks setebal 248 halaman tersebut adalah salah satu bab yang berjudul “Financial Instrument of U.S. National Power and Unconventional Warfare.”

Pada bagian ini secara khusus mencatat bahwa pemerintah AS menerapkan kebijakan penggunaan Kekuatan keuangan unilateral dan tidak langsung melalui pengaruh persuasif kepada lembaga keuangan internasional dan domestik mengenai ketersediaan dan persyaratan pinjaman, hibah, atau bantuan keuangan lainnya kepada negara asing dan pelaku keuangan non-negara. Dan  secara khusus menyebut Bank Dunia, IMF dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), serta Bank for International Settlements (BIS) sebagai instrument diplomasi keuangan AS guna  mencapai tujuan-tujuan tersebut.

 

Buku panduan (SOP) ini juga mengatur cara  “manipulasi yang bisa dilakukan oleh negara atas pajak dan suku bunga”, yang dilakukan bersamaan (dititipkan) lewat  “penetapan  hukum dan birokrasi”  guna “mengatur, membuka dan menutup aliran keuangan” (atas suatu negara).

 

Badan Pengendalian Aset Asing Office of Foreign Assets Control”  (OFAC) yang merupakan Unit dari Departemen Keuangan AS akan mengawasi sanksi AS terhadap negara-negara lain itu,  seperti misalnya Venezuela, Suriah dan Iran. Unit ini “memiliki sejarah panjang dalam melakukan perang ekonomi yang penting yang dilakukan oleh ARSOF (Army Special Operations Forces) sebagai Unit  Angkatan Perang inkonvensional UW (Unconventional Warfare).”

 

Buku manual ini selanjutnya mencatat bahwa senjata keuangan ini dapat digunakan oleh militer AS untuk memberikan  “insentif ataupun disinsentif finansial untuk membujuk musuh  atau  sekutu untuk mengubah perilaku mereka di tingkat strategis, operasional, dan taktis medan.

 

Bahwa kampanye perang inkonvensional tersebut dikoordinasikan dengan Departemen Luar Negeri (AS) dan Komunitas Intelijen dalam menentukan “elemen mana dari bidang  UWOA (Unconventional Warfare Operations Area)  yang paling rentan dengan keterlibatan keuangan.”

Peran lembaga keuangan internasional “independen” ini adalah sebagai kepanjangan tangan dari kekuatan pemerintah AS, ini juga diuraikan dibagian lain dalam manual (SOP) ini, dan beberapa fungsi dari lembaga-lembaga keuangan ini dijelaskan secara rinci dalam satu lampiran pada buku panduan ini dalam bab yang berjudul “The Financial Instrument of National Power.” .

Bank Dunia dan IMF disebut sebagai Instrumen Keuangan dan Instrumen Diplomatik Kekuasaan Nasional AS serta bagian integral dari apa yang disebut manual ini sebagai “sistem tata kelola global saat ini.”

Lebih lanjut, manual ini menyatakan bahwa militer AS memahami, bahwa manipulasi kekuatan ekonomi yang terintegrasi dapat dan harus menjadi bagian dari UW (Unconventional Warfare), yang berarti bahwa senjata-senjata ini adalah instrumen reguler dalam kampanye perang inkonvensional yang dilakukan oleh AS.

Hal lain yang menarik adalah bahwa senjata keuangan ini sebagian besar dikelola oleh Dewan Keamanan Nasional AS (NSC), yang saat pada tahun 2019 lalu masih dipimpin oleh John Bolton. Dokumen tersebut mencatat bahwa NSC “memiliki tanggung jawab utama untuk melakukan integrasi terhadap instrumen ekonomi dan militer dari kekuatan nasional AS di luar negeri.”

 

 

Bebas  Tetapi Terkendali

Dalam kasus Bank Dunia (WB) misalnya, institusi tersebut berlokasi di Washington dan presiden organisasinya selalu adalah warga negara AS yang dipilih langsung oleh presiden Amerika Serikat.

Dalam seluruh sejarah Bank Dunia, Dewan Gubernur lembaga tersebut tidak pernah menolak keputusan Washington.

Selain selalu memilih presiden WB, AS juga merupakan pemegang saham terbesar bank tersebut, ini menjadikan AS  satu-satunya negara anggota yang memiliki hak veto.

Memang, sebagaimana dicatat dalam buku manual peperangan yang tidak konvensional, “Karena keputusan besar membutuhkan 85% super majority, AS dapat memblokir setiap perubahan besar” terhadap kebijakan Bank Dunia atau layanan yang ditawarkannya. Selanjutnya, Menteri Keuangan AS, mantan bankir Goldman Sachs dan “raja penyitaan” Steve Mnuchin, berfungsi sebagai gubernur Bank Dunia.

Meskipun IMF berbeda dari Bank Dunia dalam beberapa hal, seperti dalam hal misi dan fokusnya, tapi IMF sebagian besar juga didominasi oleh pengaruh dan pendanaan pemerintah AS. Sebagai contoh, IMF juga berbasis di Washington, dan AS adalah pemegang saham terbesar yang sejauh ini mencapai nilai 17,46% dan juga pembayar kuota terbesar untuk pemeliharaan lembaga IMF dengan nilai US$164 miliar per tahun.

Meskipun AS tidak memilih eksekutif puncak di IMF, tapi AS menggunakan posisinya yang istimewa sebagai penyandang dana terbesar di lembaga tersebut untuk mengendalikan kebijakan IMF dengan cara mengancam akan menghentikan pendanaan ke IMF jika tidak mau mematuhi keinginan  AS.

 

Sebagai konsekuensi dari pengaruh AS yang tidak seimbang terhadap perilaku lembaga-lembaga ini, organisasi-organisasi keuangan ini telah menggunakan pinjaman dan hibah mereka untuk “menjebak” negara-negara yang berhutang dengan memberlakukan program-program “penyesuaian struktural” pada pemerintah-pemerintah yang sedang dililit hutang itu, yang mekanismenya adalah dengan Privatisasi aset Negara secara masal, Deregulasi, dan penghematan yang secara rutin menguntungkan korporasi asing daripada ekonomi lokal.

 

Seringkali, institusi-institusi keuangan global ini menekan negara-negara penghutang untuk menderegulasi sektor keuangan mereka dan melalui hubungan korup dengan para aktor (penguasa) suatu  negara untuk  menimbulkan masalah-masalah ekonomi yang kemudian mereka belokkan dengan dalih akan  “memperbaiki” (ekonomi Negara yang dilanda kesulitan itu).

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to EKONOMI SEBAGAI SENJATA INKONVENSIONAL

  1. ihwanovic says:

    The Rockefeller Foundation sudah membuat simulasi ini sejak Mei 2010. Untuk negara seperti Indonesia, yang sebagian besar masyarakatnya kesulitan menggunakan otaknya untuk berpikir maksimal, sangat mudah menjebak bangsa ini masuk ke dalam perangkap. Apa yang kita harapkan dari orang2 yang untuk sekedar mengantri dan buang sampah pada tempatnya saja masih belum bisa?
    Saat ini kita sedang di masa perang, hanya saja lawan yang dihadapi itu tidak terlihat, dan para penguasa di Jakarta masih saja tidak ada yang sadar dan menganggap ini semua hanya pandemi kesehatan yang tidak ada hubungannya dengan perang senjata biologis.
    Pada akhirnya, bukan virus yang akan membunuh banyak orang di sini, tapi kebodohan dan kelaparan yang akan membuat kita semua saling bunuh.
    Admin sudah ada rencana hijrah ke desa terpencil dalam waktu dekat?

    • The admin says:

      Masalahnya sudah salah dari awal, negara muslim terbesar didunia tapi menggunakan sistem ekonomi dan keuangan bikinan Ya’juj ma’juj. Yang kedua, kita tidak sadar bahwa sejak akhir WW2, Ya’juj ma’juj telah merubah penjajahann dan perbudakan dng sistem kolonialisme menjadi perbudakan dng sistem ekonomi dan keuangan ciptaanya itu, bahkan sampai detik ini kita jg masih tertidur.

      Memang sdh takdir mereka tdk bisa dikalahkan, tapi harusnya minimal kita bisa meredam, jika dulu kita punya pendirian untuk memakai sistem ekonomi Islam, minimal cadangan (devisa) itu dalam bentuk emas dan hanya mau bertanrsaksi dng negara lain dng emas, maka kita tdk akan mengalami atau kenal istilah2 aneh bikinan Ya’juj ma’juj seperti inflasi, deflasi,devaluasi ,revaluasi ,apresiasi, depresiasi dsb itu. Ekonomi Islam tidak mengenal itu.

      Jika mas ihwanovic atau siapapun yg berkompeten dan punya waktu, bisa coba menulis topik ttg istilah2 ekonomi yg tdk dikenal dlm Islam ini, tapi terus mempecundangi kita semua selama 70 thn ini, mungkin anda bisa bikin perbandingan seandainya sistem keuangan berbasis emas.

      Soal hijrah ke kampung, terus terang kita sendiri malah blm menyiapkan apapun untuk menghadapi kesulitan panjang ini hehe…

      • ihwanovic says:

        insya Allah, akan saya buat artikel semenarik dan sesederhana mungkin untuk menerjemahkan istilah2 ekonomi mazhab keynesian ini sebagai panduan, jika sudah selesai saya akan kirim ke email admin, mudah2an cukup menarik untuk bisa diposting juga di web ini insya Allah

  2. zan says:

    tak akan lama lagi semuanya akan pindah ke digital.
    salah satu cara untuk memulihkan perekonomian setelah pandemi corona hanya dengan meninggalkan dollar dan kembali ke dinar dan dirham… atau pindah ke perbudakan dahsyat tahap ketiga..

    https://blockchainmedia.id/ini-penampakan-mata-uang-digital-renminbi-tiongkok/
    https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200416102038-37-152300/penampakan-uang-digital-china-bocor-ke-publik-segera-rilis

    kabarnya the fed juga bakal mengganti ke sistem blockhain juga untuk meninggalkan dollar. jadi jangan kaget kalau nanti gelontoran hutang riba mereka bakal pakai blockhain juga..

    https://agupenatanatoraja.org/2020/04/08/menanti-kelahiran-mata-uang-digital-bank-sentral-as-dan-era-kejatuhan-dollar-as/

  3. Annisa says:

    Jika kita harus menggunakan uang emas atau perak untuk transaksi harian dan transaksi internasional, apakah tidak banyak kesulitan min, sy gak bisa membayangkan dizaman modern ini bisa dilakukan.

    • The admin says:

      Itu hanya masalah teknis, sebagai mekanisme untuk memudahkan transaksi, bisa saja dipakai uang kertas/ uang digital. Tapi beberapa kaidah dasarnya agar menjadi mata uang yg tetap halal harus dipenuhi, yaitu :

      1.Penerbitan mata uang (kertas/digital) itu harus didasarkan pada cadangan emas/perak.
      2.Hanya halal bertransaksi dengan negara/fihak lain yang mata uang kertas/ digitalnya berbasis emas. (Hadits menyebut : Emes ditukar dengan emas, perak dengan perak dengan takaran yg sama).

      Makna dari 2 poin itu adalah : bahwa negara lain yang halal untuk dijadikan lawan transaksi adalah :
      Negara yang siap kapanpun melayani penukarkan/penebusan uang/devisa kita yang dalam bentuk uang kertas/digital yang mereka terbitkan dengan cadangan emas mereka.

      Dengan kedua syarat itu saja dipenuhi, maka tidak akan ada jatuh miskinnya rakyat suatu Negara dalam sekejap karena perubahan Kurs.
      Jika kita melalaikan dua kaidah dasar itu, maka bisa dipastikan kita akan masuk ke jebakan ribawi perbudakan terakhir paling dahsyat itu.

      Saat ini, bermunculan Crypto currency yang tiba-tiba jatuh dari langit, yang tdk jelas siapa pembuatnya dan atas dasar apa mereka menciptakan mata uang itu.
      Coba bayangkan, orang2 dibalik mata uang digital itu dengan gampang bisa mengetikkan angka semau mereka alias bisa menciptakan kekayaan sebesar apapun dari katiadaan, sementara orang2 yg diperbudak harus menyetorkan emas/US$ mereka. Mereka juga bisa seenaknya memainkan Kursnya. Disinilah unsur ribawinya.

      “Budak yang paling bodoh adalah budak yang tidak pernah merasa diperbudak”

  4. Annisa says:

    Setuju min, mknya sy jd pembaca setia aaz biar ga jd budak yg paling bodoh🤣

  5. Tak terdefinisi says:

    Comel gua dihapus ya…

  6. Tak terdefinisi says:

    Apa comel saya kurang berkenan dihati maimin? 😂

    • The admin says:

      Kemungkinan namanya sdh dipakai orang lain, atau emailnya tidak vaild, jadi terfilter sebagai spam. kemarin pake nama apa?

  7. Zhen says:

    Mau meluruskan min apa benar kesimpulan saya ini?
    1.Jadi corona ini bagian dari senjata Yahudi ya..
    2.Dalangnya pasti bersembunyi di bunker buatannya agar aman..
    3.Saya khawatir dgn Rusia yg posisi skrg masuk ranking 2 besar korban corona ini, karena rusia adalah teman bangsa muslim kan tertulis di Alquran..
    Apabila penduduk rusia banyak yg tewas apa bisa menang perang nuklir nya nanti yaa..

  8. Arief Anto says:

    Sepertinya saat ini AS sedang “diserang” luar dalam perekonomiannya. Pandemi, Perang dagang, Kerusuhan pasca kasus George Floyd. Mhn komentar dari admin…

    • The admin says:

      Wabah, krisis ekonomi, kerusuhan dinegara2 peserta WW3 adalah bagian dari membuat frustasi sehabis2nya baik rakyat dan pemimpinnya agar mrk kehilangan akal sehat untuk diadu dlm ww3. Gerakan anti fasisme jg sdh mulai menunggangi demo AS, gerakan ini pernah merebak thn 1930an. Mudah2an pendapat ini salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *