
Masjid Menara Putih di Damaskus – Suriah
Sebuah lembaga riset dan pendidikan Israel bernama “Alma”, menulis sebuah skenario yang memprediksi apa yang bakal terjadi atas pemerintahan baru di Suriah.
Menurut “Alma”, kebijakan-kebijakan Suriah dibahwa rezim Ahmed Husein Al-Shara (Abu Muhammad al Jolani) menimbulkan “tantangan dan musuh” yang signifikan dari dalam, dan memperkirakan bahwa al-Shara tidak akan bertahan lama di Suriah.
“Alma” membahas tentang adanya risiko tinggi hingga sangat tinggi terhadap keselamatan dan pemerintahan Al-Shara, terutama dari ancaman elemen-elemen ekstremis di lingkaran militer yang tidak sefaham dengan al-Shara, selain juga tantangan dari mantan sekutunya ISIS.
Negosiasi keamanan antara al Shara dengan AS & Israel dipandang sebagai “garis merah” yang tidak bisa diterima oleh para ekstremis, yang akan meningkatkan risiko pembunuhan atau kudeta internal, yang akan berbuntut keruntuhan pemerintahan, disintegrasi, dan kekacauan.
Skenario ini akan mengarah pada perang antar-milisi, penguatan ISIS, dan pembangunan kembali infrastruktur teroris di Suriah selatan.
Selain itu, “Alma” juga menyoroti intervensi eksternal Turki, dan apa yang mereka sebut “poros Syiah”, dapat mengubah keseimbangan kekuatan dan menimbulkan risiko baru bagi perbatasan Isrel.
Suriah sebagai salah satu negeri “pusat akhir zaman” akan terus kita cermati, dan tidak ada salahnya untuk mengetahui jalan fikiran & prediksi dari para pemikir Israel, minimal untuk tujuan menambah wawasan.
Gambaran Umum
Pada 10 November, Presiden AS Trump menjamu Presiden Suriah Ahmad al-Shara di Gedung Putih. Pertemuan berfokus pada upaya untuk memajukan perjanjian keamanan antara “Suriah dan Israel”, dimanaAS berharap perjanjian ini dapat difinalisasi pada akhir tahun 2025.
Rezim Al-Shara menghadapi berbagai tantangan internal: kesulitan tata kelola, kesulitan ekonomi, ketegangan minoritas, dan banyaknya milisi heterogen (didalam tubuh tentara Suriah yang baru), serta faktor-faktor lain yang merusak stabilitas.
Sejak Al-Shara berkuasa, rezimnya telah bekerja intensif untuk mengonsolidasikan tata kelola dan menindak mereka yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap stabilitas.
Al-Shara menegakkan otoritas dan ketertiban umum melalui pasukan keamanan internal, seringkali dilkukan dengan agresif yang hebat, seperti yang terjadi diwilayah minoritas Alawi di Suriah barat laut pada Maret 2025, dan di wilayah Druze di Sweida pada Juli 2025.
Sebaliknya, realitas ini menghadirkan kesenjangan pengetahuan dan ketidak-pastian yang mendalam tentang masa depan, serta berpotensi besar mengalami kemunduran dan keruntuhan. Suriah tetap menjadi “stabilitas di tengah ketidakstabilan”.
Musuh dari Dalam
Dari perspektif rezim, tindakannya terhadap minoritas Alawi (Maret 2025) dan minoritas Druze (Juli 2025) merupakan bagian dari kebijakan penguatan pemerintahan.
Namun dalam praktiknya, tindakan pembantaian dan kekejaman dilakukan terhadap warga sipil dari populasi tersebut, oleh orang-orang al-Shar’a.
Dilain sisi ada suku Kurdi dalam jumlah besar yang juga mengganggu stabilitas. Tapi karena posisi geografis, kekuatan militer, dan dukungan AS, rezim al Shara memilih melakukan negosiasi untuk integrasi, alih-alih melakukan pembersihan brutal seperti yang dilakukan terhadap suku Alawi dan Druze.
Meskipun demikian, pertempuran harian antara pasukan Kurdi dan pasukan rezim terus berlanjut.
Al-Shara juga menghadapi musuh domestik lainnya, terutama ISIS. Dalam beberapa bulan terakhir, organisasi ini telah mengintensifkan aktivitasnya di Suriah, terutama di timur, dan juga di selatan, dengan meningkatkan aksi bom bunuh diri dan serangan terhadap target rezim dan agama.
Salah satu serangan tersebut adalah bom bunuh diri yang mematikan di Gereja Ortodoks Yunani “Elias” di Damaskus pada 22 Juni 2025, yang menewaskan puluhan orang.
Aktivitas rezim al Shara yang paling signifikan terhadap ISIS dimulai pada 8 November 2025, setelah Suriah bergabung dengan AS dalam “koalisi internasional melawan ISIS”.
Dengan dipimpin oleh Kementerian Dalam Negeri Suriah dan Direktorat Intelijen Umum, 61 serangan telah dilakukan terhadap target ISIS di Aleppo, Homs, Idlib, Damaskus, Deir ez-Zor, Raqqa, dan gurun Suriah.
Menurut laporan, puluhan anggota, termasuk tokoh senior ISIS ditangkap, dan senjata, amunisi, dan depot logistik ditemukan.
Selain itu, kehadiran Iran dan Hizbullah di Suriah, dan aktivitas poros Syiah yang lebih luas, serta kelompok Palestina (Hamas dan Jihad Islam), tidak dianggap bersahabat dengan rezim tersebut.
Ancaman Pemunuhan Terhadap Al-Shara
Dalam beberapa bulan terakhir, telah terjadi beberapa laporan upaya pembunuhan terhadap Al-Shara. Beberapa laporan menggambarkan rencana dan upaya pembunuhannya di Damaskus dan Daraa. Namun, rezim Suriah secara terbuka membantah upaya tersebut.
Meskipun demikian, “Alma” menilai bahwa memang ada ancaman objektif terhadap al-Shara yang sangat tinggi, terutama terkait organisasi ekstremis yang belum menerima perubahan pemerintahan dan tatanan baru di Suriah, kedekatan dengan Barat, dan negosiasi dengan Israel.
Jelas bahwa tidak semua orang di seluruh Suriah mendukung Al-Shara sebagai presiden Suriah, maupun arah yang akan dia tuju, setidaknya untuk saat ini dan setidaknya secara kasat mata.
Ditambah lagi dengan “garis merah” di mata para ekstremis dalam lingkaran dekat Al-Shara, ekstremis didalam militer dan keamanan dalam negeri, dan tentu saja ISIS.
Proses negosiasi dengan Israel, terkadang dilakukan secara langsung, yang bertujuan mencapai kesepakatan keamanan terkait Suriah selatan di bawah sponsor AS, menjadi salah satu faktor.
Meski ini bukanlah kesepakatan damai dan normalisasi, melainkan baru kesepakatan tentang pengaturan keamanan di Suriah selatan, dan semua ini berada di bawah koordinasi AS.
Didalam tentara Suriah yang baru, ada 4 dari 6 komandan senior di staf umum yang memiliki latar belakang “jihadis”, dan di antara 21 komandan divisi, ada 13 orang yang berasal dari latar belakang yang sama.
Penilaian “Alma” adalah bahwa ancaman terbesar dan paling langsung terhadap Al-Shara datang dari para pendukung dan rekannya sendiri, mereka yang memegang pandangan ideologis radikal dan menentang tindakannya untuk dekat dengan barat, dan khususnya “dialog dengan Israel”.
Hari Paska Al-Shara
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kemungkinan bahwa para penentang Al-Shara akan berupaya menggulingkannya melalui kudeta atau upaya pembunuhan, & itu merupakan skenario yang realistis.
Ada beberapa perkembangan potensial utama dalam kasus semacam itu, yang dapat disebut “hari paska Al-Shara”: mulai dari keruntuhan, disintegrasi, dan kekacauan hingga munculnya penguasa baru.
Tantangan utama bagi komunitas internasional pada umumnya, dan bagi Israel pada khususnya, berasal dari skenario keruntuhan, disintegrasi, dan kekacauan, yang, menurut penilaian “Alma”, lebih mungkin terjadi jika Al-Shara digulingkan dari kekuasaan dengan kekerasan.
Skenario Kekacauan
Dalam perebutan kekuasaan itu, “semua akan melawan semua”, dan Suriah akan menjadi wilayah tak bertuan: disintegrasi tentara Suriah yang baru, yang terdiri dari sekitar 130 milisi berbeda, beberapa di antaranya memiliki DNA jihadis ekstremis, yang baru saja menjadi “divisi” baru yang berganti nama.
Dalam pertempuran teritorial, ISIS dapat kembali menguat, berpotensi merebut kembali wilayah-wilayah termasuk Provinsi Hauran (wilayah perbatasan dengan Israel dan Yordania yang pernah dikuasai ISIS).
Keinginan untuk membantai kaum minoritas selalu ada. Peristiwa pada bulan Maret dan Juli 2025, melawan kaum Alawi dan Druze, merupakan “bukti kemampuan” dan hanya sebuah awal. Dalam skenario seperti itu, ISIS juga akan ikut serta.
“Alma” memperkirakan bahwa jika tidak ada intervensi eksternal, akan terjadi pertumpahan darah yang sangat kejam dan berskala sangat besar.
Aktor lain yang mungkin mengeksploitasi kekacauan adalah poros Syiah, yang tidak pernah sepenuhnya meninggalkan Suriah.
Terdapat infrastruktur teror potensial di sekitar 50 desa di Suriah selatan (“Golan File”/milisi lokal). Mereka dapat memanfaatkan ketidakstabilan ini untuk membangun kembali platform serangan terhadap Israel, dengan roket, mortir, tembakan anti-tank, IED, dan drone.
Ini termasuk Hamas dan Jihad Islam, yang dapat beroperasi melalui penduduk Palestina di Suriah selatan.
Dengan potensi kekacauan yang terjadi keesokan harinya, terdapat kemungkinan bahwa, di bawah naungan Iran, akan ada upaya milisi Syiah dari Irak untuk merebut sebagian jalur perbatasan di Suriah timur di Al Bukamal, di Al-Mayadeen dan atau kemungkinan pergerakan milisi Syiah dari Irak menuju wilayah Al-Tanf, & dari sana ke Suriah selatan baian barat.
Campur Tangan Turki
Turki telah beroperasi selama bertahun-tahun dalam proyek penggulingan Assad, dan penobatan rezim baru yang merupakan anak didik mereka.
Akankah Turki meninggalkan proyek yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun dan terlibat secara mendalam dalam implementasinya? Ada kemungkinan Turki akan menginvasi Suriah untuk memberikan bantuan militer kepada rezim yang berkuasa yang terancam, jika dianggap efektif.
Dengan skenario seperti itu, “Alma” memperkirakan Turki akan berhenti di wilayah Damaskus dan tidak akan melanjutkan ke Suriah selatan, untuk menghindari ketegangan yang lebih besar dengan Israel.
Karena adanya potensi invasi Turki, ada kemungkinan bahwa semua ekstremis yang ingin menghindari kontak dengan Turki akan didorong ke Suriah timur dan selatan menuju perbatasan Israel.
Suriah adalah “stabilitas dari ketidakstabilan,” dan sangat sulit memperkirakan jangka waktu antara saat ini dan potensi skenario “hari paska al Sharaa”, jika memang terjadi.
Kepentingan lsrael Melindungi Druze “paska era al-Shara”
“Alma” menilai, baha dengan probabilitas tinggi, banyak kelompok ekstremis Islam Sunni akan bersatu demi tujuan bersama, guna membalas dendam kepada Druze, dan “menyelesaikan apa yang telah mereka mulai pada Juli 2025.”
Druze di Suriah merupakan tantangan utama Israel dalam menciptakan kerangka operasional yang lengkap untuk pertahanan, penyelamatan, dan bantuan oleh IDF, mengingat kekacauan yang mungkin terjadi pada “hari berikutnya”.
Di wilayah Suwayda, yang terletak 80 km dari perbatasan Israel, ada sekitar 500.000 orang Druze tinggal, dan di samping itu, sementara di wilayah selatan Damaskus terdapat sekitar 150.000.
Juga masih ada dua konsentrasi Druze yang signifikan lainnya di Suriah: sekitar 50.000 orang Druze tinggal di wilayah Gunung Hermon, dan diprovinsi Idlib ada sekitar 30.000 orang Druze.
Langkah Israel jika kudeta digagalkan
Jika skenario kudeta gagal, “Alma” berpendapat bahwa Israel harus segera menegaskan kembali kendali atas zona penyangga, dan membangun zona pertahanan fisik di wilayahnya terhadap setiap serangan darat.
Militer Israel harus segera melindungi Komunitas Druze di Dataran Tinggi Golan hanya berjarak ratusan meter dari pagar pembatas. Dan kaum Druze di wilayah di sisi Suriah didekat Gunung Hermon.
Ini guna menghindari pembantaian terhadap kaum Druze di Sweida, seperti yang terjadi musim panas lalu.
Koridor udara yang aman harus dibangun untuk menyambut kedatangan pengungsi Druze dari wilayah Damaskus ke Sweida, dan dari Sweida ke arah barat menuju Israel.
Persiapan harus dilakukan untuk menampung populasi Druze di “kamp pengungsi/pengungsi” sementara di satu sisi, dan untuk membangun koridor pasokan kemanusiaan ke Sweida di arah yang berlawanan di sisi lain.
Tantangan di sini signifikan karena wilayah antara perbatasan Israel-Suriah dan wilayah Druze di Suriah selatan sebagian besar dihuni oleh Muslim Sunni, yang dianggap bermusuhan.
Selama perang saudara, sebagian wilayah ini dikuasai oleh ISIS, dan kemungkinan besar sel-sel ISIS masih ada di sana hingga saat ini.


















