Muslim Rohingnya, Genosida Sistematis Yang Terabaikan

Rakhanie 6972b

Pembantaian muslim Rohingnya di Myanmar adalah genosida sistematis yang dilakukan suatu negara tapi  diabaikan oleh dunia internasional. Tidaklah aneh jika Negara negara barat dan mainstream medianya tidak mempopulerkannya karena mereka bagian dari semua ini, bagaimana tidak San Suu Kyi adalah orang yang mereka anugerahi nobel perdamaian. Lebih aneh lagi Negara negara muslim disekitarnya seperti Malaysia dan Indonesia hanya bisa mengeluarkan kutukan tak berguna tanpa ada tindakan politik apapun dalam kancah ASEAN apalagi dunia. hebaaat…

Para  pengamat  menilai tingkat “kebarbaran” yang terjadi Myanmar  setingkat dengan yang dilakukan para teroris diSuriah, bedanya diSuriah  ada kepentingan terselubung Israel dengan Koalisi NATO dan beberapa negara arab tetangga Suriah untuk  mengganti pemimpinnya, sehingga mereka “terpaksa”  harus membuat propaganda hitam terhadap Assad.   Di Myanmar genocida terhadap saudara2 muslim itu ditutup secara rapat, yang kelihatan dan disorot media hanya mengalirnya pengungsi sejak beberapa tahun terakhir.

Perbedaan lain adalah kalau diSuriah pembantaian oleh NATO dan sekutu arabnya dilakukan dengan mendanai kelompok2 teroris dan  pemberontak, tapi di Miyanmar dilakukan langsung oleh tentara pemerintah.

Selain itu kalau diSuriah para pelaku keganasan kemanusiaan itu masih mendapat perlawanan dari pasukan pemerintah Suriah , tapi diMyanmar tentara pemerintah melakukannya terhadap orang2 yang tidak bersenjata. Akhir akhir ini ada upaya untuk mempersenjatai beberapa pria Rohingnya yang belum jelas siapa pendananya, tapi jelas upaya ini  hanya untuk membuat pengalihan  isu bahwa tentara Myanmar menyerang teroris. Karena jangankan untuk membeli senjata dan amunisi, untuk hidup saja mereka sangat sulit , mereka adalah warga minoritas terpinggirkan diMyanmar yang hanya diperalat ketika pemilu.

Berdasarkan Konvensi Jenewa PBB  , genosida digambarkan dalam beberapa definisi. antara lain  adalah  : Tindakan yang  bermaksud untuk menghancurkan secara keseluruhan atau sebagian  kelompok nasional, etnis, ras atau agama  dan termasuk membunuh anggota kelompok . Menyebabkan kerugian fisik atau mental yang serius bagi anggota kelompok.  Dengan sengaja menimbulkan kondisi  kehidupan suatu kelompok yang disengaja untuk menghasilkan kerusakan fisik secara keseluruhan atau sebagian. Tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran baru di dalam kelompok. Dan  memindahkan anak secara paksa ke kelompok lain.

Dari visi  setiap definisi itu pemerintah Myanmar jelas  telah melakukan genosida sistematis terhadap 1,3 juta populasi Muslim Rohingya  yang sebagian besar diabaikan oleh masyarakat internasional, terlepas dari pengakuan PBB bahwa pembunuhan massal, penghilangan , penyiksaan, pemerkosaan geng, pemukulan brutal, pemalsuan properti, dan pengusiran  paksa memang sedang  terjadi dan meningkat frekuensi dan keganasannya.

Laporan PBB tahun 2017 tentang “tindakan kekerasan” Myanmar terhadap negara bagian Rakhine  utara menggambarkan kekerasan tersebut sebagai  “kejahatan terhadap kemanusiaan,” dan bahwa “bobot  dan skala dari tuduhan ini menimbulkan reaksi kuat masyarakat internasional,” namun dunia internasional khususnya para pemimpin dan media Barat terus mengabaikan pemusnahan sistematis Muslim Rohingya  di Myanmar.

 

Anak-anak Rohingya ini telah menjadi sasaran keganasan dan keganasan yang tak tertahankan. Bagaimana bisa  atas nama Kebencian  seorang bisa  menusuk bayi yang sedang menangis minta susu ibunya. Dan sang ibu yang  menyaksikan pembunuhan anaknya  itu sedang diperkosa oleh pasukan keamanan yang seharusnya melindunginya, “kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad Al Hussein.

 

Anehnya kekejaman yang ditimpakan Negara Myanmar kepada rakyatnya  yang harusnya melindungi keamanan mereka tersebut tidak menarik berita mainstream media dunia. Mereka hanya memberitakan mengalirnya pengungsi Rohingnya.

 

Secara berfikir bodoh saja para pemimpin dunia terutama pemimpin negara2 mayoritas muslim terdekat  itu harusnya tahu , bahwa adanya banjir pengungsi yang pergi hanya dengan baju dibadan itu adalah  mengindikasikan terjadi ancaman keselamatan jiwa yang serius. Tapi tidak ada upaya politik apapun yang dilakukan atas situasi yang sangat darurat itu, dan hal itu sudah berlangsung beberapa tahun.

 

Kekejaman itu  diantaranya  adalah pembantaian bayi dan anak kecil dengan pisau, penghancuran persediaan makanan yang disengaja, dan pembakaran dan penjarahan seluruh desa. Dari 101 wanita Muslim Rohingya yang diwawancarai oleh PBB  lebih dari separuh mengatakan bahwa mereka telah diperkosa atau diserang secara seksual.

 

Sattar Islam Nirob adalah salah seorang pengungsi Muslim Rohingya berusia 28 tahun di salah satu dari tiga kamp pengungsi yang didirikan di dalam perbatasan Bangladesh. Dia dan keluarganya telah berlindung di kamp pengungsian Kutapalong  yang sekarang menampung 13.766 pengungsi Muslim Rohingya di samping itu ada lebih dari 65.000 orang yang berlindung di kamp pengungsian lainnya, kata Nirob.

Map showing Maungdaw's location in Rakhine State

Nirob mengatakan bahwa serangan terbaru yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar mendorong jumlah pengungsi Muslim Rohingya yang meningkat dengan cepat bergerak menuju perbatasan Bangladesh. Kemarin dia memperkirakan akan ada lebih dari 3000 orang yang menunggu, lebih tepatnya  memohon untuk mendapat status pengungsi, sementara dia memperkirakan 1.200 orang telah ditangkap oleh petugas patroli perbatasan Bangladesh karena berusaha menyeberang tanpa izin.

Kemarin, pasukan keamanan Banglades secara paksa mengirim kembali 90 orang Muslim Rohingya yang mencoba melarikan diri dari Myanmar, dan kemudian mulai menembakkan mortir dan senapan mesin ke arah mereka, menurut Al Jazeera.

Tetapi  walapun beberapa  orang  muslim Rohingya  berhasil masuk ke negara tetangganya  Bangladesh, tapi  kamp-kamp pengungsi yang menanti mereka  digambarkan sebagai kamp yang mengerikan.

Dia menjelaskan kepada saya kondisi di dalam kamp Kutapalong  sambil bercucuran  air mata saat ia menceritakan bahwa dia menyaksikan bayi yang  kelaparan dan mengalami dehidrasi sampai mati karena kekurangan air dan persediaan susu .

Ketika  Nirob ditanya apakah dia merasa situasinya tidak ada harapan, dia mengatakan bahwa dia tidak punya  harapan kepada  masyarakat internasional, dengan mengatakan, “Jika pemerintah AS dan PBB dapat bekerja sama untuk menekan pemerintah Myanmar, ini akan sangat memperbaiki situasi bagi semua pengungsi Rohingya. ”

Meskipun optimisme Nirob masih ada  dalam menghadapi musuh yang tak terlukiskan (ganasnya) itu, upaya untuk menekan pemimpin de facto Myanmar San Suu Kyi yang adalah seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian  telah pupus. Dia (San Suu Kyi)  tidak hanya mencegah PBB untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, tapi dia juga memfitnah Muslim Rohingya sebagai “teroris” dan  atau pendukung terorisme.

 

Sejarah  Pemdek Orang Rohingnya

Abad ke-8: Orang Rohingya yang berasal Asia Selatan, tinggal di sebuah kerajaan independen di Arakan, sekarang dikenal sebagai  Rakhine city  di Myanmar modern.

Abad ke-9 sampai 14: Orang Rohingya mulai mengenal  Islam melalui pedagang Arab. Hubungan erat dijalin antara Arakan dan Bengal.

1784: Raja Burma (sekarang Myanmar)  Bodawpaya menaklukkan Arakan dan ratusan ribu pengungsi melarikan diri ke Bengal.

1790: Hiram Cox  seorang diplomat Inggris  dikirim untuk membantu para pengungsi  yang kemudian mendirikan kota Cox’s Bazar di Bangladesh  di mana masih banyak Rohingya yang tinggal hari ini.

1824 sampai 1942: Inggris menguasai Burma yang sekarang dikenal sebagai Myanmar dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi pendudukan Inggris di India. Banyak  Pekerja masuk  ke Burma dari bagian lain dari India (yang dikuasai Inggris)  untuk pekerjaan proyek proyek infrastruktur.

1942: Jepang menyerang Burma dan  mendorong Inggris keluar Burma. Ketika Inggris mundur kaum nasionalis Burma menyerang komunitas Muslim yang mereka fikir mendapat keuntungan dari pemerintahan kolonial Inggris.

1945: Inggris membebaskan Burma dari pendudukan Jepang dengan bantuan nasionalis Burma yang dipimpin oleh Aung San dan pejuang Rohingnya. Tapi Kelompok Rohingya merasa dikhianati karena Inggris tidak memenuhi janji untuk member otonomi otonomi Arakan (Rakhine state).

1948: Terjadi Ketegangan yang meningkat antara pemerintah Myanmar yang baru merdeka dengan  orang Rohingya . Banyak di antara orang Rohingnya menginginkan Arakan untuk bergabung dengan Pakistan yang mayoritas Muslim. Pemerintah membalas dengan mengucilkan Rohingya, termasuk membersihkan pegawai pemerintah dari orang Rohingya.

1950: Beberapa orang Rohingya menolak pemerintah dengan pemberontakan yang dipimpin oleh kelompok bersenjata yang disebut Mujahid. Tapi pemberontakan berangsur-angsur mereda.

1962: Jenderal Ne Win dan Partai Program Sosialis Burma merebut kekuasaan dan mengambil kebijakan garis keras melawan Rohingya.

1977: Junta militer memulai Operasi “Nagamin”  atau operasi “Dragon King”, yang mereka katakan dimaksudkan untuk membersihkan penduduk asing. Lebih dari 200.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh karena  ditengarai adanya kekerasan oleh tentara. Tapi tentara membantah melakukan itu.

1978: Bangladesh melanggar kesepakatan yang diperantarai PBB  dengan Burma tentang  repatriasi pengungsi  di mana kemudian sebagian besar Rohingya kembali ke Burma.

1982: Undang-undang imigrasi yang baru mendefinisikan bahwa orang-orang yang bermigrasi selama pemerintahan Inggris sebagai imigran ilegal. Dan Pemerintah Burma menerapkan ini pada semua orang Rohingya.

1989: Tentara mengubah nama Burma menjadi Myanmar.

1991: Lebih dari 250.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari apa yang mereka katakan sebagai  kerja paksa, pemerkosaan dan penganiayaan agama doleh tentara Myanmar. Tentara mengatakan bahwa mereka hanya melaksanakan tugas di Rakhine.

1992 sampai 1997: Sekitar 230.000 Rohingya kembali ke Arakan, yang sekarang dikenal sebagai Rakhine di bawah perjanjian repatriasi yang baru lainnya.

2012: Terjadi Kerusuhan antara Muslim Rohingya dan oaring Rakhine yang beagarama Budha menewaskan lebih dari 100 orang yang kebanyakan korbannya orang Rohingya. Puluhan ribu orang dibawa ke Bangladesh. Hampir 150.000 orang dipaksa masuk kamp-kamp di Rakhine.

2016: Kelompok militan Rohingya Harakah al-Yaqin menyerang pos-pos penjagaan perbatasan, menewaskan sembilan tentara. Tentara membalas yang membuat lebih dari 25.000 orang melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh karena   pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran oleh tentara. Tapi pemerintah Aung San Suu Kyi membantah kekejaman yang dilakukan tersebut.

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Muslim Rohingnya, Genosida Sistematis Yang Terabaikan

  1. Truth seeker says:

    Apa benar konflik ini bukan dilatar belakangi oleh agama melainkan bisnis minyak yg melihat kan perusahaan milik pemerintah Myanmar dan perusahaan internasional? Tolong dikaji.

    • The admin says:

      Dari Sejarah pendek orang Rohingnya (sudah kita tambahkan dalam artikel) memang sangat mengenaskan. Walaupun sudah tinggal di Burma (Myanmar) sejak abad 8 tapi mereka tidak pernah diterima oleh komunitas Budha disana , tragisnya mereka juga tidak diterima di Bangladesh.

      Mereka dimusuhi umat Budha diMyanmar sejak abad 18, karena tetap dianggap orang asing walaupun sudah tinggal di Rakhine (Arakan) sejak abad 8. Jadi bukan karena dibukanya ladang gas yang baru dibuka beberapa tahun lalu.
      Belum ada info kenapa umat Budha yang kita kenal rendah hati, santun, penuh kasih sayang dan toleran itu tidak tercermin pada umat Budha di Myanmar dan bisa begitu beringas terhadap minoritas Rohingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =