
Presiden Erdogan, Jumat 21/8, mengeluarkan surat perintah penangkapan baru untuk PM Netanyahu, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara terkait serangan Israel di Suriah.
Surat perintah penangkapan baru tersebut menuduh Netanyahu melakukan “genosida” atas pencegatan armada kapal yang membawa sekitar 430 aktivis ke Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada bulan Mei, yang memicu kecaman internasional.
Turki sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan pejabat tinggi Israel lainnya, atas tuduhan “genosida” di Gaza.
Menteri Kehakiman Turki, Akin Gurlek, menulis di X, bahwa fihaknya telah meminta kementerian dalam negeri untuk mengeluarkan “red notice” Interpol untuk Netanyahu, dan seorang warga Israel lainnya, yang bernama Afek Moskovitch, sebagai bagian dari kasus yang lebih besar lainnya yang melibatkan 35 orang.
Red notice adalah permintaan kepada kepolisian di seluruh dunia untuk menemukan dan menahan sementara seseorang sambil menunggu ekstradisi. Interpol kemudian meninjau permintaan yang diajukan oleh negara-negara anggota, sebelum memutuskan apakah akan mengeluarkan red notice.
Tanggapan Israel
Sebagai tanggapan, kantor perdana menteri Netanyahu mengatakan, bahwa Erdogan “sekarang berupaya memperluas agresinya terhadap Israel ke Suriah. Israel tidak akan mentolerirnya.”
Pernyataan Israel tersebut mengulangi tuduhan Israel sebelumnya terhadap Erdogan, yang menyebutnya sebagai “diktator anti-Semit yang telah membantai Kurdi, melindungi teroris Hamas, menduduki separuh Siprus, dan memenjarakan sejumlah besar jurnalis dan politisi yang menentangnya.”
“Upaya Erdogan untuk mengintimidasi para pemimpin dan tentara Israel, satu-satunya negara demokrasi sejati di Timur Tengah, tidak akan berhasil,” tambah pernyataan itu.
Negara Muslim pertama Yang akui Israel
Hubungan antara Turki dan Israel merupakan perpaduan kompleks antara kerja sama historis yang mendalam, dan “persaingan” strategis modern yang sengit. Persaingan dalam tanda kutip.
Dahulu kedua negara merupakan sekutu militer dan ekonomi yang erat sebagai kekuatan non-Arab di Timur Tengah, kini hubungan mereka “seperti” memburuk menjadi persaingan geopolitik yang tegang, didorong oleh ambisi regional yang bertentangan, perbedaan sikap terhadap Gaza dan Hamas, serta jejak yang saling membantu menurunkan presiden Assad, sampai bersaing di Suriah paska-Assad.
Sejak perang dunia 2, belum pernah terjadi sekalipun konflik bersenjata langsung antara Israel & Turki, bahkan pada 1949 Turki tercatat sebagai “negara muslim pertama yang mengakui negara Israel”.
Pada tahun 1990an kedua negara menjalin kerja sama militer, pertahanan, dan intelijen yang sangat kuat, dalam apa yang disebut “Aliansi Erat”, termasuk latihan militer bersama.
Era perang Suriah – “Musuh dari musuhku adalah temanku”
Pada era perang Suriah menghadapi kelompok pemberontak dan teroris, dokumen intelijen dan investigasi jurnalistik global, termasuk laporan dari The New York Times dan catatan yudisial FBI membuktikan, bahwa pada periode 2011 hingga 2014, badan intelijen Turki (MİT) mengetahui adanya aliran jihadis & logistik tersebut, namum sengaja menutup mata (deliberate negligence).
Berikut adalah rekonstruksi logika geopolitik mengapa pemerintah Turki membiarkan “koridor jihadis” tersebut terjadi secara sadar:
Para analis mengatakan, tujuan utama Presiden Erdogan saat itu adalah menggulingkan Bashar al-Assad dengan segala cara.
Turki melihat faksi pemberontak moderat (seperti FSA) terlalu lemah untuk menumbangkan militer Suriah. Di atas kertas, intelijen Turki melihat kelompok garis keras Islamis (termasuk embrionya ISIS) sebagai kekuatan tempur paling efektif di lapangan untuk menghancurkan rezim Assad. Oleh karena itu, membiarkan pejuang ISIS dan logistik mengalir ke Suriah lewat perbatasan Turki-Suriah dianggap menguntungkan bagi strategi Turki.
Para milisi asing ini tidak mengalir secara buta bagi mata Turki. Investigasi intelijen Barat membuktikan adanya infrastruktur transit yang matang di dalam wilayah Turki. Tempat-tempat berkumpul (Staging Points) seperti diKota perbatasan Gaziantep dan Antakya yang berubah menjadi hub logistik terbuka, lengkap dengan safe houses, rumah sakit lapangan untuk merawat milisi yang terluka, hingga pasar gelap penjualan senjata.
ISIS membiayai sebagian operasinya dengan menyelundupkan minyak mentah dari ladang Suriah yang mereka kuasai, kepada para perantara di wilayah Turki. Minyak senilai jutaan dolar per hari ini mengalir melewati pos pemeriksaan resmi yang dijaga aparat Turki.
Hubungan terakhir kedua negara
Dalam beberapa tahun ini Turki mengklaim memboikot perdagangan dengan Israel, namun faktanya Turki masih menyalurkan minyak Azerbaijan menuju Israel. Jalur pipa raksasa itu Azerbaizan –Turki itu dinamai “Baku-Tbilisi-Ceyhan” (BTC).
Dari pelabuhan Turki, minyak mentah tersebut dimuat ke dalam kapal-kapal tanker, yang kemudian berlayar langsung menuju pelabuhan minyak Haifa atau Ashkelon di Israel.
Sampai sekarang, Turki menerima komisi atau biaya transit sebesar $1,27 untuk setiap barel minyak yang disalurkan dari Azerbaijan ke Israel.

















