
Dalam eskatologi ketiga agama Abrahamik atau agama samawi, “era penyaringan” atau “era pemisahan”, merujuk pada periode ujian berat di akhir zaman untuk memisahkan antara orang-orang kafir dan munafik, dengan mereka yang beriman.
Hasilnya adalah dua kelompok ekstrim yang satu sama lain tidak saling mensifati, golongan kafir & munafik tanpa beriman sedikitpun masuk dalam “kelompok hitam”, dan golongan beriman tanpa munafik sedikitpun dalam “kelompok putih”.
Kajian ini juga untuk merespon sebuah fenomena besar akhir zaman yang terabaikan dari fokus umat Islam, yaitu upaya terus –menerus selama 6 tahun ini oleh AS & Israel untuk menarik para penguasa negara mayoritas Muslim kedalam apa yang dinamakan “Abraham Accords”.
Tentang Abraham Accords
Sebuah upaya gencar selama 6 tahun terakhir oleh aliansi AS-Israel untuk menarik Islam dalam aliansi mereka, telah luput dalam konsen umat Islam, terutama dalam tataran pemimpin sehingga larangan itu diabaikan saja, meskipun resikonya fatal: “dianggap keluar dari Islam”.
Perjanjian Abraham (Abraham Accords) dibentuk pada 2020, tidak lain adalah sebuah instrumen untuk menjaring para penguasa negara mayoritas Muslim agar mau masuk dalam persekutuan “Judeo-Christian”, karena dianggap tinggal satu lagi agama samawi yang diperlukan untuk membentuk aliansi agama yang dibawa Nabi Ibrahim.
Peringatan lebih keras tentang resiko bersekutu dengan aliansi Judeo-Kristian itu tertulis dalam Surat al-Maidah: 51-53, yang telah kita tulis kajiannya sepuluh tahun lalu, selain juga dalam surat al-Baqarah: 120, dan al-Maidah: 81.
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu sehingga engkau mengikuti agama (faham) mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.” (QS. Al Baqarah:120)
Untuk lebih mendalam memahami gerakan “Abraham Accords” ini, kita sarankan membaca sejarah “Judeo-Christian alliance” itu, sejarah berdirinya Zinonisme sejak dideklarasikan 1879, dan lebih bagus lagi sejak sejarah munculnya faham “restorianisme” di US dan UK sekitar abad 17-19, yang menjadi cikal bakal berdirinya faham Zionisme.
Karena dari sejarah itu kita akan lebih mudah mencerna keanehan berdirinya negara Israel 1948 oleh bantuan militer Inggris, juga feomena aneh seluruh kebijakan luar negeri negara-negara Kristen barat yang hanya didedikasikan untuk kepentingan Israel, sampai saat ini.
Gambaran singkat “era pemisahan”
Dalam Islam, era pemisahan (al-Tamyiz) dikenal sebagai masa fitnah atau ujian besar, terutama menjelang kedatangan Dajjal. Tujuannya adalah menyaring umat manusia, sehingga jelas mana yang memiliki iman sejati dan mana yang kafir & munafik.
Prosesnya ditandai dengan munculnya berbagai cobaan sosial, ekonomi, dan spiritual yang sangat berat.
Ujung dari proses ini adalah terbaginya manusia menjadi dua kubu (kemah): kemah orang beriman tanpa kemunafikan dan kemah orang munafik tanpa iman.
Eskatologi Kristen mengenal masa Kesengsaraan Besar (Great Tribulation). Ini adalah periode di mana dunia mengalami penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ujung dari proses ini adalah penyaringan antara mereka yang tetap setia kepada Kristus hingga akhir (the remnant) dan mereka yang mengikuti sistem dunia/ Antikristus.
Dalam Yudaisme, masa ini disebut sebagai “Jejak Kaki Mesias” (Ikvot ha-Mashiach). Ini adalah era kekacauan moral dan fisik sebelum kedatangan Mashiach.
Prosesnya ditandai dengan Kehancuran nilai-nilai sosial, penderitaan ekonomi, dan perang besar (Gog dan Magog).
Ujung dari proses ini adalah proses pembersihan spiritual (purification) bagi bangsa Israel dan dunia, di mana hanya mereka yang menjaga integritas spiritual yang akan masuk ke era penebusan.
Era Penyaringan dalam eskatologi Islam
Istilah Al-Tamyiz (التَّمْيِيز) secara bahasa berarti “pembedaan” atau “pemisahan”.
Dalam konteks eskatologi Islam, proses penyaringan memiliki landasan kuat baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits sebagai proses penyaringan antara yang haq dan yang bathil, antara orang beriman dengan orang kafir & munafik.
- Landasan Ayat Qur’an
Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata “Yamiza” (يَمِيزَ), yang sepadan dengan “al-tamyiz”, untuk menjelaskan proses pemisahan umat manusia diakhir zaman:
مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى ٱلْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia memisahkan (yamiza) mereka yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 179)
Ali Imran:179 menegaskan bahwa “era pemisahan” adalah proses mutlak sebagai sebuah sunnatullah (ketentuan) Allah yang akan terjadi di akhir zaman, agar kualitas iman seseorang teruji dan terpisah dari sifat munafik.
Ayat lain yang mendukung isyarat akan terjadinya proses pemisahan adalah surat al-Anfal:37.
لِيَمِيْزَ اللّٰهُ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيْثَ بَعْضَهٗ عَلٰى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهٗ جَمِيْعًا فَيَجْعَلَهٗ فِيْ جَهَنَّمَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَࣖ
“Agar Allah memisahkan (yamiza) golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya (yang buruk) ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Anfal: 37)
- Landasan Hadits
Ada banyak hadits yang mengisyaratkan akan terjadinya proses pemisahan ini, kita akan mulai dari hadits yang paling lengkap dari riwayat Abu Dawud:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، حَدَّثَنِي الْعَلاَءُ بْنُ عُتْبَةَ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الأَحْلاَسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الأَحْلاَسِ قَالَ ” هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَىْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِيَ الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لاَ تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لاَ نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لاَ إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ ” .
Yahya bin Utsman bin Said Al-Himsi menceritakan, bahwa Abu Al-Mughira menceritakan kepada saya, bahwa Abdullah bin Salim menceritakan kepada saya, bahwa Al-Ala bin Utaibah menceritakan dari Umayr bin Hani Al-Ansi, ia berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Kami sedang duduk di hadapan Rasulullah (ﷺ) dan beliau menyebutkan fitnah, banyak sekali yang beliau sebutkan hingga beliau menyebutkan fitnah Al-Ahlas.
Maka ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa fitnah Al-Ahlas itu?” Beliau menjawab: Itu adalah pelarian dan peperangan.
Kemudian ada fitnah yang menyenangkan, pelariannya disebabkan oleh seorang lelaki dari keluargaku, yang mengaku bahwa dia adalah bagian dariku, padahal dia bukan bagian dariku, dan sesungguhnya sahabat-sahabatku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian orang-orang akan bersatu (mengelompok) di bawah seorang lelaki, seperti tulang pinggul di atas tulang rusuk.
Kemudian akan ada fitnah Al-Duhaimah (kegelapan) yang tidak akan membiarkan seorangpun dari umat ini kecuali akan melayangkan tamparan kepadanya, dan ketika dikatakan bahwa fitnah itu telah berakhir, maka fitnah itu akan berlanjut.
Di dalamnya (masa itu) seorang lelaki akan menjadi mukmin di pagi hari dan kafir di sore hari, sehingga orang-orang akan berada di dua kelompok: kelompok iman yang tidak ada kemunafikan di dalamnya dan kelompok kemunafikan yang tidak ada iman di dalamnya. Ketika itu terjadi, maka tunggulah Dajjal pada hari itu atau hari berikutnya.” (HR.Abu Dawud No. 4242 – Kitab Fitnah dan Malhamah).
Dalam hadits diatas, proses penyaringan (Al-Tamyiz) digambarkan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan “ujian” yang disebut sebagai “Fitnah Akhir Zaman”.
Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud itu, terdapat tiga tahapan fitnah besar yang menyaring manusia:
- Fitnah Al-Ahlas (Penderitaan lama berupa pengungsian & peperangan )
- Fitnah As-Sarra’ (Ujian kesenangan)
- Fitnah Ad-Duhaima (Ujian yang gelap)
Fitnah al-Ahlas adalah tahap awal penyaringan berupa konflik internal, kesengsaraan akibat perang, pengungsian, dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.
Tujuan Penyaringan: Menguji kesabaran dan keteguhan prinsip seorang mukmin, baik dalam level penguasa/ pemimpin umat maupun dalam level umat, untuk tidak ikut dalam pertumpahan darah sesama Muslim, atau bersekutu dengan musuh Islam untuk membantai Muslim lain.
Fitnah As-Sarra’ adalah munculnya masa “kemakmuran atau kesenangan” yang semu.
Fitnah atau ujian ini digambarkan dimana akan muncul dari bawah kaki seseorang dari keturunan Nabi (terlihat sebagai pemuka agama), namun dia bukanlah pengikut Nabi yang sebenarnya.
Cirinya ditandai dengan munculnya banyak orang yang “menjual agamanya” demi kepentingan duniawi, harta, atau jabatan, serta banyaknya orang mengerumuninya, digambarkan dalam hadits diatas bagaikan “tulang pinggul diatas tulang rusuk”.
Ujung dari ujian ini, akan berkumpulnya orang-orang yang terperdaya sepenuhnya oleh tipu daya itu.
Fitnah Ad-Duhaima adalah tahap penyaringan yang paling krusial sebelum munculnya Dajjal. Hadits menyebutkan fitnah ini “tidak membiarkan seorangpun kecuali akan ditamparnya” atau terkena dampaknya. Kalimat ini selaras dengan isyarat Allah dalam surat ad-Duhan: 10-11, yang menyebut akan adanya “azab pedih yang menyelimuti seluruh manusia”.
Kita bisa memahami fitnah ini sebagai peristiwa malhamah (perang besar akhirzaman/ perang nuklir) yang telah kita bahas di kajian lain.
- Ujung dari ketiga fitnah itu adalah terjadinya pemisahan total manusia menjadi Dua Kemah/kubu,
-
-
-
- Kemah/kubu yang “Beriman murni”, dan
- Kemah/kubu yang “Kafir/ Munafik murni”.
-
-
- Hadits diatas juga mengisyaratkan, bahwa proses pemisahan ekstrim ini terjadi sedemikian sehingga orang yang tadinya beriman “mukmin”, bisa secara mendadak bisa menjadi kafir.
Ini tentu menggambarkan situasi ketika orang sulit untuk membedakan mana yang benar & mana yang bathil, karena yang menebar fitnah (ujian) terlihat seperti orang yang lurus (mengaku keturunan/ pengikut Nabi/ terlihat berilmu), dan juga karena menggiurkannya ujian duniawi yang ditawarkan.
Hadits sahih lain yang mengisyaratkan akan terjadinya “proses pemisahan” adalah dari sahih Muslim berikut:
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ، – يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ – عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ، عَنْ رِبْعِيٍّ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ . فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ . قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا . قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ . قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ” تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ ” . قَالَ حُذَيْفَةُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ . قَالَ عُمَرُ أَكَسْرًا لاَ أَبَا لَكَ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ . قُلْتُ لاَ بَلْ يُكْسَرُ . وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ يُقْتَلُ أَوْ يَمُوتُ . حَدِيثًا لَيْسَ بِالأَغَالِيطِ . قَالَ أَبُو خَالِدٍ فَقُلْتُ لِسَعْدٍ يَا أَبَا مَالِكٍ مَا أَسْوَدُ مُرْبَادًّا قَالَ شِدَّةُ الْبَيَاضِ فِي سَوَادٍ . قَالَ قُلْتُ فَمَا الْكُوزُ مُجَخِّيًا قَالَ مَنْكُوسًا .
Diriwayatkan dari Hudhaifah: Kami sedang duduk di hadapan Umar dan dia berkata: Siapa di antara kalian yang mendengar Rasulullah (ﷺ) berbicara tentang fitnah? Beberapa orang berkata: Kami yang mendengarnya. Maka dia berkata: Mungkin yang kalian maksud adalah fitnah seorang lelaki terhadap keluarganya atau tetangganya, mereka menjawab: Ya. Dia (Umar) berkata: Fitnah semacam itu akan dihapuskan dengan shalat, puasa, dan sedekah.
Tetapi siapa di antara kalian yang mendengar Nabi (ﷺ) menyebutkan fitnah yang akan datang seperti gelombang lautan? Hudhaifah berkata: Orang-orang terdiam, saya menjawab: Saya. Dia (Umar) berkata: Ya, sungguh, ayahmu juga sangat saleh. Hudhaifah berkata: Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) berkata: “Fitnah akan diperlihatkan kepada hati-hati seperti tikar anyaman, dan setiap hati yang terpengaruh akan ditandai dengan tanda hitam, tetapi setiap hati yang menolak akan ditandai dengan tanda putih. Hasilnya adalah akan ada dua jenis hati: satu putih seperti batu putih yang tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi ada; dan yang lainnya hitam dan kelam seperti bejana (panci) yang terbalik, tidak mengenal yang baik dan tidak menolak yang buruk, kecuali apa yang telah dipengaruhi oleh hawa nafsunya.”
Hudhaifah berkata: Saya memberitahunya (Umar): Di antara kamu dan fitnah itu ada pintu tertutup, tetapi ada kemungkinan akan dibuka. Umar berkata: Apakah itu akan dibuka? Kamu telah dijadikan yatim piatu (Ayahmu yang saleh milik Allah). Seandainya itu dibuka, mungkin juga akan ditutup. Saya berkata: Tidak, itu akan dibuka, dan saya memberitahunya: Sesungguhnya pintu itu menunjukkan seorang yang akan dibunuh atau mati.
Tidak ada kesalahan dalam hadits ini. Abu Khalid berkata: Saya bertanya kepada Sa’d, wahai Abu Malik, apa yang kamu maksud dengan istilah “Aswad Murbadda”? Dia menjawab: Tingkat tinggi keputihan dalam kegelapan. Saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan “Alkoozu Mujakhiyyan”? Dia menjawab: Sebuah bejana (panci) yang terbalik (gelap/hitam). (HR.Muslim No. 144 – Kitab Iman)
Hadits riwayat Muslim diatas menegaskan, bahwa fitnah besar akhirzaman yang akan terjadi, tidaklah termasuk fitnah-fitnah kecil yang biasa terjadi dalam hubungan keluarga atau bertetangga, melainkan sebuah fitnah dahsyat yang mempengaruhi seluruh umat manusia.
Sama dengan hadits riwayat Abu dawud sebelumya, yang riwayat Muslim ini juga mengisyaratkan akan adanya “pemisahan” umat manusia.
Digambarkan bahwa fitnah/ ujian besar itu akan mengelompokkan manusia dalam 2 kelompok (akan ada 2 jenis hati), yaitu kelompok putih seperti batu putih yang tidak akan terpengaruh oleh fitnah, dan kelompok hitam dan kelam seperti bejana (panci) yang terbalik.
Hal lain yang bisa difahami adalah, bahwa fitnah/ujian itu akan mulai dibuka terhitung sejak meninggalnya Umar bin Khatab.
3. Era Penyaringan dalam kehidupan nyata
Dalam dunia nyata, era pemisahan bisa dipisahkan dalam dua kelompok besar:
- Pemisahan dalam tataran negara.
- Pemisahan dalam tataran umat.
3.1. Pemisahan pada level negara
Pemisahan pada level negara, telah terlihat dimulai sejak 2020 ketika tiga negara AS, Israel dan UEA menginisiasi pembentukan “Abraham accords” atau “Perjanjian Abraham”.
Dari namanya saja jelas ada kaitan dengan simbol 3 agama samawi: Islam, Kristen & Yahudi.
Tujuan utamanya adalah penyatuan tiga agama langit itu, tentu bukan dalam arti dijadikan satu agama, namun sebagai menggiring negara-negara terutama Islam untuk “sefaham” dengan setiap kebijakan Israel, terutama dalam rangka “Messianic Agenda” Israel, guna menyiapkan “ekosistem kondusif” terutama diTimur tengah, untuk menyambut “al- Masih” mereka.
Penggunaan kata “Abraham” (Ibrahim) mungkin mereka rasa paling pas, guna menggandeng terutama negara-negara Islam untuk merasakan atmosfir palsu yang sama, bahwa ketiga agama berasal dari “bapak” yang sama.
Sampai kajian ini ditulis, sudah ada 5 negara mayoritas muslim yang resmi berabung: UEA, Bahrai, Maroko, Sudan, dan Kazahkstan.
Dalam tataran negara ini, dengan munculnya “Abraham Accords”, maka sudah mulai nampak terang negara-negara mana saja yang “mengelompokkan diri” untuk menjadi sekutu Israel, yang siap mengamini setiap agenda akhir zaman Israel. Inilah “penyaringan utama pada level negara”.
Pada level negara ini, telah terjadi pengerucutan “sangat nyata”, dimana tinggal ada dua wilayah/ negara Islam yang telah diisyaratkan Nabi, yang kini terang-benderang tegas menentang musuh Islam Israel, yaitu dari wilayah Yaman & Iran. Jelas mereka telah masuk “kelompok putih”.
Sementara, sudah ada lima negara muslim yang menegaskan diri ‘masuk kelmpok hitam”, sedang yang lain masih dalam zona abu-abu, karena proses pemisahan memang sedang berlangsung.
3.2 Pemisahan pada level Umat
Ujian pada tataran umat akan menimpa seluruh umat manusia, baik yang beriman maupun tidak, baik yang berilmu agama tinggi maupun tidak, itu digambarkan dalam kalmat hadits riwayat Abu Dawud diatas sebagai:
…“Di dalamnya (masa itu) seorang lelaki akan menjadi mukmin di pagi hari dan kafir di sore hari, sehingga orang-orang akan berada di dua kelompok: kelompok iman yang tidak ada kemunafikan di dalamnya dan kelompok kemunafikan yang tidak ada iman di dalamnya”
Yang kita amati paling tidak sejak awal periode milenial adalah, “ujian ekonomi” menjadi ujian paling berat yang dialami oleh setiap orang termasuk orang beriman.
Pada negara yang tidak dilanda perang, sebenarnya yang terjadi bukan ujian dalam bentuk “kesulitan ekonomi”, namun lebih pada sulitnya lolos dari ujian “keserakahan ekonomi”.
Faktor ini membuat seseorang bahkan yang beriman sekalipun akan masuk dalam apa yang disebut hadist diatas sebagai “golongan hitam”. Ujian ini bisa menimpa umat dari level ekonomi terbawah sekalipun, sampai umat dari level ekonomi mampu, atau bahkan yang memegang jabatan sekalipun. Juga dari kalangan yang kurang berilmu, sampai mereka yang berilmu.
Dua hadits dari riwayat Abu Dawud & Muslim itu mengisyaratkan bahwa ujung dari era pemisahan ini adalah, bahwa manusia akan terbagi dalam dua kelompok ekstrim: “kelompok hitam dan kelompok putih”.
…“Hasilnya adalah akan ada dua jenis hati: satu putih seperti batu putih yang tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi ada; dan yang lainnya hitam dan kelam seperti bejana (panci) yang terbalik, tidak mengenal yang baik dan tidak menolak yang buruk, kecuali apa yang telah dipengaruhi oleh hawa nafsunya”… (HR. Muslim)
4. Puncak Era Penyaringan
Puncak atau batas waktu terakhir era penyaringan, adalah saat Dajjal sudah muncul dialam nyata. Dijelaskan oleh Nabi sebagai sebagai pembersihan kota suci Madinah dari orang-orang kafir dan munafik.
Kita belum tahu kenapa hanya kota suci Madinah yang dibersihkan, dan sementara ini belum kita temukan hadits yang menyebut peristiwa pembersihan serupa untuk kota suci Makkah.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا، ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلَاثَ رَجَفَاتٍ، فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ.
Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Tidak ada satu negeripun yang tidak akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu pintu masukpun dari pintu-pintu gerbangnya kecuali di sana terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Kemudian, Madinah akan berguncang sebanyak tiga kali, sehingga Allah mengeluarkan darinya orang-orang kafir dan munafik.” (HR Bukhari: 1881).
Dalam proses pembersihan terakhir ini, Bumi Madinah akan berguncang 3 kali, dan orang-orang yang memiliki penyakit kemunafikan di hatinya akan tertarik keluar dari barisan orang beriman, untuk menjadi pengikut Dajjal.
Hasilnya adalah, terpisahnya kelompok putih dari kelompok hitam, yang akan bersama Imam Mahdi, dan kemudian menyambut turunnya Nabi Isa AS.
5. Pemisahan terakhir
Pemisahan paling akhir adalah ditujukan untuk memisahkan orang-orang kafir dan munafik yang akan mengalami dahsyatnya kiamat.
Prosesnya akan terjadi ketika Allah mengirimkan angin lembut yang akan mencabut setiap manusia yang beriman meski seberat biji sawipun.
Sementara waktunya akan terjadi paska khilafah terakhir yang akan dipimpin Imam Mahdi yang berpusat di Makkah/ Madinah, dan khalifah Nabi Isa yang akan berpusat di Yerusalem.
Haditsnya cukup banyak namun ada dua versi, ada yang menyebut angin itu akan berasal dari Yaman, namun ada juga yang menyebut angin itu akan berhembus dari Syam. Kita kutipkan dua yang dari riwayat Muslim:
عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ وَأَبُو عَلْقَمَةَ الْفَرْوِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلْمَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ رِيحًا مِنْ الْيَمَنِ أَلْيَنَ مِنْ الْحَرِيرِ فَلَا تَدَعُ أَحَدًا فِي قَلْبِهِ قَالَ أَبُو عَلْقَمَةَ مِثْقَالُ حَبَّةٍ و قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah adl-Dlabbi telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dan Abu Alqamah al-Farwi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Sulaim dari Abdullah bin Salman dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah kelak akan menghembuskan angin yang sangat lembut, selembut sutera dari arah Yaman, ia tidak akan melewatkan seorangpun yang di dalam hatinya terdapat – Abu Alqamah berkata- seberat biji-bijian, -sedangkan Abdul Aziz berkata; seberat biji sawi sekalipun keimanan kecuali Allah akan mewafatkannya.” (HR. Muslim No. 168 – Kitab Iman)
ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلَا يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ … فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِي خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلَامِ السِّبَاعِ لَا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمْ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلَا تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَهُمْ فِي ذَلِكَ دَارٌّ رِزْقُهُمْ حَسَنٌ عَيْشُهُمْ ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ
“Rasulullah bersabda: “Kemudian Allah melepaskan angin dingin yang berhembus dari Syam. Maka tidak seorangpun dari manusia yang beriman kecuali dicabut nyawanya… sehingga yang tersisa hanya manusia jahat yang tidak memiliki keimanan. Mereka tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk hingga syetan muncul dan berkata: ”Mengapa kalian tidak memenuhi seruanku saja?” Mereka menjawab: ”Apa yang kalian perintahkan pada kami?” Syetan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah berhala. Maka merekapun mengikuti saran tersebut. Sedangkan mereka berada dalam kehidupan yang serba berkecukupan, kemudian ditiuplah sangkakala (hari kiamat).” (HR Muslim 14/175)
Allahualam, mudah-mudahan bermanfaat.
REFERENSI
Cara mensikapi ujian/ fitnah akhir zaman
إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُخِلَ يَعْنِي عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ
“Sesungguhnya, menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir, sebaliknya pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun dipagi hari ia dalam keadaan kafir.
Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berjalan cepat. Maka, patahkan busur kalian, putus-putuslah tali kalian, dan pukullah pedang kalian dengan batu, jika salah seorang dari kalian kedatangan fitnah-fitnah ini, hendaklah ia bersikap seperti anak terbaik di antara dua anak Adam (bersikap seperti Habil, bukan seperti Qabil).” [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Fitan, Ahmad, dan Hakim]
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عُثْمَانَ الشَّحَّامِ، قَالَ حَدَّثَنِي مُسْلِمُ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ يَكُونُ الْمُضْطَجِعُ فِيهَا خَيْرًا مِنَ الْجَالِسِ وَالْجَالِسُ خَيْرًا مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ خَيْرًا مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي خَيْرًا مِنَ السَّاعِي ” . قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَأْمُرُنِي قَالَ ” مَنْ كَانَتْ لَهُ إِبِلٌ فَلْيَلْحَقْ بِإِبِلِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ غَنَمٌ فَلْيَلْحَقْ بِغَنَمِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَلْحَقْ بِأَرْضِهِ ” . قَالَ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَىْءٌ مِنْ ذَلِكَ قَالَ ” فَلْيَعْمِدْ إِلَى سَيْفِهِ فَلْيَضْرِبْ بِحَدِّهِ عَلَى حَرَّةٍ ثُمَّ لِيَنْجُ مَا اسْتَطَاعَ النَّجَاءَ ” .
Dari Abu Bakrah, Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Akan ada fitnah di mana orang yang berbaring lebih baik daripada yang duduk, dan yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari (menuju fitnah tersebut).” Dia bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang memiliki unta, hendaklah ia tetap bersama untanya, barangsiapa yang memiliki domba, hendaklah ia tetap bersama dombanya, dan barangsiapa yang memiliki tanah, hendaklah ia tetap bersama tanahnya.” Dia bertanya: “Jika ada yang tidak memiliki salah satu dari itu, apa yang harus dia lakukan?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia mengambil pedangnya, menggesekkan ujungnya pada batu, dan kemudian melarikan diri jika ia bisa.” (HR.Abu Dawud No. 4256 – Kitab Fitnah dan Pertanda)
Fitnah/ ujian juga menimpa para pemimpin
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ فَرُّوخَ، أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، أَخْبَرَنِي ابْنٌ لِقَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي أَنَسِيَ أَصْحَابِي أَمْ تَنَاسَوْا وَاللَّهِ مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ قَائِدِ فِتْنَةٍ إِلَى أَنْ تَنْقَضِيَ الدُّنْيَا يَبْلُغُ مَنْ مَعَهُ ثَلاَثَمِائَةٍ فَصَاعِدًا إِلاَّ قَدْ سَمَّاهُ لَنَا بِاسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيهِ وَاسْمِ قَبِيلَتِهِ .
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah menceritakan kepada kami Ibn Abi Maryam, telah memberitakan kepada kami Ibn Farukh, telah memberitakan kepada kami Usamah bin Zaid, telah memberitakan kepada kami seorang anak dari Qabisa bin Dhu’ayb, dari ayahnya, berkata Hudhayfah bin al-Yaman: “Demi Allah, saya tidak tahu apakah para sahabat saya telah lupa atau berpura-pura lupa. Demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan seorang pemimpin dari fitnah hingga dunia ini berakhir, yang pengikutnya mencapai tiga ratus orang atau lebih, kecuali dia telah menyebutkan nama, nama ayahnya, dan nama sukunya kepada kami.” (HR.Abu Dawud No. 4243 – Kitab Fitnah dan Malhamah).
Penebar fitnah bisa berbaju agama
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، – يَعْنِي ابْنَ الْمُغِيرَةِ – عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ نَصْرِ بْنِ عَاصِمٍ اللَّيْثِيِّ، قَالَ أَتَيْنَا الْيَشْكُرِيَّ فِي رَهْطٍ مِنْ بَنِي لَيْثٍ فَقَالَ مَنِ الْقَوْمُ فَقُلْنَا بَنُو لَيْثٍ أَتَيْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ حَدِيثِ حُذَيْفَةَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ ” فِتْنَةٌ وَشَرٌّ ” . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَعْدَ هَذَا الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ ” يَا حُذَيْفَةُ تَعَلَّمْ كِتَابَ اللَّهِ وَاتَّبِعْ مَا فِيهِ ” . ثَلاَثَ مِرَارٍ . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَعْدَ هَذَا الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ ” هُدْنَةٌ عَلَى دَخَنٍ وَجَمَاعَةٌ عَلَى أَقْذَاءٍ فِيهَا أَوْ فِيهِمْ ” . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْهُدْنَةُ عَلَى الدَّخَنِ مَا هِيَ قَالَ ” لاَ تَرْجِعُ قُلُوبُ أَقْوَامٍ عَلَى الَّذِي كَانَتْ عَلَيْهِ ” . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ ” فِتْنَةٌ عَمْيَاءُ صَمَّاءُ عَلَيْهَا دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ النَّارِ فَإِنْ تَمُتْ يَا حُذَيْفَةُ وَأَنْتَ عَاضٌّ عَلَى جِذْلٍ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتَّبِعَ أَحَدًا مِنْهُمْ ” .
Diriwayatkan dari Hudhayfah: Kami datang kepada Al-Yashkuri dengan sekelompok orang dari Banu Layth. Dia bertanya: Siapa mereka? Kami menjawab: Banu Layth. Kami datang kepadamu untuk menanyakan tentang hadits Hudhayfah. Dia kemudian menyebutkan hadits tersebut dan berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: Akan ada fitnah dan keburukan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah setelah keburukan ini ada kebaikan? Beliau menjawab: Pelajarilah Kitab Allah, Wahai Hudhayfah, dan ikutilah isinya. Beliau mengatakannya tiga kali. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah setelah keburukan ini ada kebaikan? Beliau menjawab: Akan ada gencatan senjata (perdamaian) yang menipu dan komunitas dengan noda di matanya.
Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa maksudmu dengan komunitas yang menipu? Beliau menjawab: Hati-hati orang-orang tidak akan kembali kepada keadaan semula.
Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: Akan ada keburukan yang buta dan tuli, dimana terdapat penyeru di pintu-pintu neraka. Jika engkau, Wahai Hudhayfah, mati dengan berpegang pada sebuah batang kayu, itu lebih baik bagimu daripada mengikuti salah satu dari mereka. (HR. Abu Dawud No. 4246 – Kitab Fitnah dan Pertanda-Pertandanya)
Akan ada empat fitnah
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ، عَنْ بَدْرِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ عَامِرٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” يَكُونُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَرْبَعُ فِتَنٍ فِي آخِرِهَا الْفَنَاءُ ” .
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Al-Hafiri, dari Badr bin Utsman, dari Amir, dari seorang lelaki, dari Abdullah, dari Nabi ﷺ bersabda: “Akan ada dalam umat ini empat fitnah, dan di akhir fitnah tersebut adalah kehancuran.” (HR.Abu Dawud No. 4241 – Kitab Fitnah dan Malhamah).
Hadits era pemisahan
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، حَدَّثَنِي الْعَلاَءُ بْنُ عُتْبَةَ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الأَحْلاَسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الأَحْلاَسِ قَالَ ” هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَىْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِيَ الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لاَ تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لاَ نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لاَ إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ ” .
Yahya bin Utsman bin Said Al-Himsi menceritakan, bahwa Abu Al-Mughira menceritakan kepada saya, bahwa Abdullah bin Salim menceritakan kepada saya, bahwa Al-Ala bin Utaibah menceritakan dari Umayr bin Hani Al-Ansi, ia berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Kami sedang duduk di hadapan Rasulullah (ﷺ) dan beliau menyebutkan fitnah, banyak sekali yang beliau sebutkan hingga beliau menyebutkan fitnah Al-Ahlas.
Maka ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa fitnah Al-Ahlas itu?” Beliau menjawab: Itu adalah pelarian dan peperangan.
Kemudian ada fitnah yang menyenangkan, pelariannya disebabkan oleh seorang lelaki dari keluargaku, yang mengaku bahwa dia adalah bagian dariku, padahal dia bukan bagian dariku, dan sesungguhnya sahabat-sahabatku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian orang-orang akan bersatu di bawah seorang lelaki yang seperti tulang pinggul di atas tulang rusuk.
Kemudian akan ada fitnah Al-Duhaimah (kegelapan) yang tidak akan membiarkan seorangpun dari umat ini kecuali akan melayangkan tamparan kepadanya, dan ketika dikatakan bahwa fitnah itu telah berakhir, maka fitnah itu akan berlanjut.
Di dalamnya (masa itu) seorang lelaki akan menjadi mukmin di pagi hari dan kafir di sore hari, sehingga orang-orang akan berada di dua kelompok: kelompok iman yang tidak ada kemunafikan di dalamnya dan kelompok kemunafikan yang tidak ada iman di dalamnya. Ketika itu terjadi, maka tunggulah Dajjal pada hari itu atau hari berikutnya.” (HR.Abu Dawud No. 4242 – Kitab Fitnah dan Malhamah).
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ، – يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ – عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ، عَنْ رِبْعِيٍّ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ . فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ . قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا . قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ . قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ” تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ ” . قَالَ حُذَيْفَةُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ . قَالَ عُمَرُ أَكَسْرًا لاَ أَبَا لَكَ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ . قُلْتُ لاَ بَلْ يُكْسَرُ . وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ يُقْتَلُ أَوْ يَمُوتُ . حَدِيثًا لَيْسَ بِالأَغَالِيطِ . قَالَ أَبُو خَالِدٍ فَقُلْتُ لِسَعْدٍ يَا أَبَا مَالِكٍ مَا أَسْوَدُ مُرْبَادًّا قَالَ شِدَّةُ الْبَيَاضِ فِي سَوَادٍ . قَالَ قُلْتُ فَمَا الْكُوزُ مُجَخِّيًا قَالَ مَنْكُوسًا .
Diriwayatkan dari Hudhaifah: Kami sedang duduk di hadapan Umar dan dia berkata: Siapa di antara kalian yang mendengar Rasulullah (ﷺ) berbicara tentang fitnah? Beberapa orang berkata: Kami yang mendengarnya. Maka dia berkata: Mungkin yang kalian maksud adalah fitnah seorang lelaki terhadap keluarganya atau tetangganya, mereka menjawab: Ya. Dia (Umar) berkata: Fitnah semacam itu akan dihapuskan dengan shalat, puasa, dan sedekah.
Tetapi siapa di antara kalian yang mendengar Nabi (ﷺ) menyebutkan fitnah yang akan datang seperti gelombang lautan? Hudhaifah berkata: Orang-orang terdiam, saya menjawab: Saya. Dia (Umar) berkata: Ya, sungguh, ayahmu juga sangat saleh. Hudhaifah berkata: Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) berkata: “Fitnah akan diperlihatkan kepada hati-hati seperti tikar anyaman, dan setiap hati yang terpengaruh akan ditandai dengan tanda hitam, tetapi setiap hati yang menolak akan ditandai dengan tanda putih. Hasilnya adalah akan ada dua jenis hati: satu putih seperti batu putih yang tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi ada; dan yang lainnya hitam dan kelam seperti bejana (panci) yang terbalik, tidak mengenal yang baik dan tidak menolak yang buruk, kecuali apa yang telah dipengaruhi oleh hawa nafsunya.”
Hudhaifah berkata: Saya memberitahunya (Umar): Di antara kamu dan fitnah itu ada pintu tertutup, tetapi ada kemungkinan akan dibuka. Umar berkata: Apakah itu akan dibuka? Kamu telah dijadikan yatim piatu (Ayahmu yang saleh milik Allah). Seandainya itu dibuka, mungkin juga akan ditutup. Saya berkata: Tidak, itu akan dibuka, dan saya memberitahunya: Sesungguhnya pintu itu menunjukkan seorang yang akan dibunuh atau mati.
Tidak ada kesalahan dalam hadits ini. Abu Khalid berkata: Saya bertanya kepada Sa’d, wahai Abu Malik, apa yang kamu maksud dengan istilah “Aswad Murbadda”? Dia menjawab: Tingkat tinggi keputihan dalam kegelapan. Saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan “Alkoozu Mujakhiyyan”? Dia menjawab: Sebuah bejana (panci) yang terbalik (gelap/hitam). (HR.Muslim No. 144 – Kitab Iman)
Ciri-ciri era sarat fitnah
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ، حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ حَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ” . قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَّةُ هُوَ قَالَ ” الْقَتْلُ الْقَتْلُ ” .
Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah: Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Waktu akan menjadi pendek, ilmu akan berkurang, fitnah akan muncul, dan sifat kikir akan dicampakkan ke dalam hati manusia, serta pembunuhan akan menjadi umum.” Ia ditanya: “Wahai Rasulullah, apa itu?” Ia menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. Abu Dawud No. 4255 – Kitab Fitnah dan Pertanda)










Dubes Iran koq malah menemui mantan ketua NU Aqil Siraj bukan ketemu ketua saat ini. apakah ini masuk ciri era pemisahan sdng berlangsung. mohon pencerahan aaz.
Bagi yg sensitif akan bisa melihat, bahwa proses penyaringan/ pemisahan ini sedang terjadi diseluruh dunia, pemimpin, ulama, umat, bahkan juga terjadi dinegara-negara sekuler sekalipun sedang mangalami proses penyaringan ini.
Di Negara-negara Islam akan makin terlihat mana pemimpin yang memihak musuh Islam (AS-Israel) dan mana yg membela Islam. Demikian juga dikalangan ulama akan makin terlihat memilih jalurnya masing masing, mereka tidak lagi mempermasalahkan aliran atau sekte, tapi akan memihak kebenaran. Dikalangan umat demikian juga.
Mekanisme penyaringan seperti yg kita lihat bisa seperti: BOP, aliansi militer, penempatan Kedubes di Yerusalem, sampai menandatangani perjanjian Abraham. Selain itu perang di Iran juga menjadi mekanisme penyaringan baru, dimana makin kelihatan dari mereka yg mendukung Iran atau mendukung musuh Islam.