HAYAT AL-SHAM SERUKAN ANGGOTANYA PINDAH KE LIBYA

 

Sebuah video beredar luas diMedsos (Timteng) yang menampilkan Abdullah al-Muhaysini, seorang pengkhotbah (ulama) dalam kelompok Hayat Al Sham (HTS),  yaitu sebuah kelompok teroris yang sebelumnya pernah berafiliasi dengan ISIS diIraq dan Al Qaeda diSuriah.

Dalam video itu dia  sedang menyerukan Fatwa yang mendesak agar para anggota HTS diSuriah untuk segera berpindah ke Tripoli  diLibya , dengan alasan untuk mendukung kelompok GNA (Government National Army) yang berhadapan dengan  kelompok LNA (Libya National Army).

Libya saat ini bagaikan kue yang sedang menjadi rebutan beberapa negara , belum jelas apa kepentingan negara negara seperti Turki, Mesir, UEA, Arab Saudi, bahkan AS dan Perancis.  tapi sepertinya sama dengan diSuriah mereka  sedang menjalankan misi Israel dalam pelemahan kekuatan militer Libya  yang sejak terbunuhnya Qadafi telah menjadi negara gagal yang hampir tanpa pemerintahan.

Kehancuran Libya nampaknya akan semakin parah dengan dikirimnya kelompok2 bersenjata bentukan negara negara timteng  itu yang selama beberapa tahun ini ditempatkan diSuriah.

Karena Libya adalah negara mayoritas Suni,  tidak ada proxi Iran disana, dan tidak ada kepemimpinan lagi yang dianggap diktator , tentu semua itu bukan alsan yang relavan lagi untuk campur tangan. Lalu alasan apa lagi yang akan mereka buat atas intervensinya diLibya?  Yang paling masuk akal adalah mereka menjalankan agenda Israel dalam pelemahan negara-negara penentangnya. 

Perpindahan mereka keLibya tampaknya akan dibantu Turki, karena dalam Tweet itu disebut  bahwa dalam 3 bulan terakhir saja, Turki telah mengirim puluhan teroris kelompok HTS keLibya.

Abdullah al-Muhaysini adalah seorang ulama Salafi kelahiran kota Buraidah di Arab Saudi yang dikenal sebagai hakim agama dikalangan kelompok Hayt Tahrir Al Sham yang sejak awal perang Suriah, mulai dibentuk untuk ambil bagian dalam upaya menjatuhkan pemerintahan Presiden Assad.

Kelompok HTS adalah kelompok teroris terkuat diSuriah saat ini yang beroperasi diIdlib, Hama, dan pedesaan Latakia di Suriah. yang pada saat awal dibentuknya bernama Jabhat Al Nusra atau Front El Nusra. 

Kelompok HTS pertama kali dibentuk pada 2012, yang kemudian dalam rekam jejaknya, kelompok HTS mengalami metamorfosa dalam empat fase utama.

Pada fase pertama yang berlangsung antara Januari 2012 dan April 2013, kelompok ini muncul dengan nama Jabhat al-Nusra (JN) dan menjalin hubungan rahasia dengan ISIS di Irak.

Pada Fase kedua dimulai dimulai pada April 2013, ditandai dengan perpecahan  kelompok itu dari ISIS diIraq, dan kemudian melakukan sumpah setia kepada kelompok Al-Qaeda (AQ) diSuriah.

Pada fase ketiga, yaitu  pada Juli tahun 2016 terjadi Perpecahan dengan kelompok Al Qaeda Suriah dan mengumumkan pemutusan hubungan dengan Al Qaeda dan mengubah namanya menjadi Jabhat Fatah al-Sham (JFS).

Fase keempat , dimulai pada Januari 2017, saat mereka melakukan perubahan namanya (rebranding) menjadi   menjadi Hayat Tahrir Al Sham (HTS)  dan perpecahan dengan Al Qaeda diSuriah itu kemudian menjadi semakin serius..

Keputusan berpisah dengan ISIS 2013 itu malah  membuat situasi  lebih rumit bagi faksi-faksi  lainnya untuk mau bekerja sama atau bergabung dengan Jabhat Al Nusra , karena takut atau malu kepada  para penyandang dana mereka (Arab Saudi, Qatar, dan Turki)

Perpecahan antar  kelompok bersenjata diSuriah  bentukan negara negara Timteng itu pernah diupayakan untuk rekonsiliasi dengan dilakukan sebuah pertemuan para petinggi mereka pada tahun 2015. Tapi pertemuan itu tampaknya tidak membuahkan hasil, bahkan salah satu kelompok bersenjata yaitu Ahrar Al-Sham walk out dari pertemuan. Tidak tanggung-tanggung apalagi malu, Arab saudi sendiri yang memprakarsai pertemuan itu diIbukota Riyadh.

Dulu banyak orang tidak percaya bahwa AS dan negara sekutu Arab teluknya adalah yang membentuk kelompok kelompok bersenjata diSuriah, meski sebenarnya sejak awal perang Suriah keterlibatan mereka sudah sangat jelas.

Tapi mungkin sudah takdir,  terjadilah konflik antara Qatar dan negara-negara koalisi dalam liga Arab, sehingga mantan PM Qatar akhirnya membongkar sendiri keterlibatan mereka dalam membentuk , mendanai dan mempersenjatai kelompok kelompok bersenjata diSuriah itu. 

Proyek menjatuhkan  Assad yang merupakan penentang Israel itu oleh AS dan negara-negara teluk sekutunya itu dibungkus dengan dalih sebagai koalisi untuk melawan  dan  menghancurkan ISIS diSuriah. Tapi agenda Israel ini gagal total karena Suriah dibantu Rusia. 

Kemungkinan, seruan fatwa bagi kelompok HTS ini  dikeluarkan karena mereka menyadari bahwa tidak akan mampu bertahan diIdlib dengan melawan pasukan Suriah yang didukung Rusia.

Sepertinya kelompok HTS akan seperti ISIS yang gagal dalam “misinya” di Iraq dan Suriah, dan kemudian dikirim keberbagai negara muslim lain seperti Afghanistan, Libya, Yaman, Sudan, Nigeria . Sebuah proyek adu domba dari Israel untuk melemahkan kekuatan Islam. Dan yang pasti, kelompok-kelompok bersenjata itu tidak akan pernah dikirim untuk mengacaukan Israel yang jelas-jelas  musuh Islam.    

 

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 51 = 55