Update Dari Pusat Dunia – Simulasi Korban Sapi Merah

 

Pada agustus 2019 lalu , Sebuah langkah besar telah dilakukan dalam rangka mengembalikan layanan Kuil suci (Bait/Rumah Suci) dengan  dilakukannya studi intensif (Kitab Taurat) yang diterjemahkan  kedalam rincian praktis.

Percobaan-percobaan atas ritual pengorbanan dilakukan dengan membakar seekor sapi muda yang meskipun bukan sapi merah (sesungguhnya), sebelum nantinya dilakukan ritual sebenarnya secara  tepat dengan cara yang dianggap akan memurnikan orang-orang Yahudi.

Sepertinya ritual resminya nantinya  akan dilakukan menjelang dimulainya The 3rd Temple,

 

Perintah yang Penuh Teka-teki

Pada Kitab Bilangan bab 19, tertulis deskripsi yang mendalam tentang mitzvah (perintah Taurat) tentang pengorbanan/ pembakaran sapi merah yang selanjutnya dicampur dengan air untuk dipercikkan kepada orang-orang Yahudi sebagai sarana ritual pemurnian dari bersentuhan dengan mayat.

Terlepas dari deskripsi dalam Al kitab, mitzvah/perintah untuk mengkorbankan sapi merah dianggap yang paling membingungkan dari semua perintah dalam Al kitab. Korban Sapi merah adalah ritual sangat penting untuk pemulihan kembali layanan Kuil (Istana).

Turunnya mitzvah (perintah) mengorbankan sapi betina merah digambarkan oleh Nabi Yehezkiel sebagai tahap dalam penebusan terakhir :

Aku akan memercikkan air bersih ke atasmu, dan kamu akan menjadi bersih: Aku akan membersihkanmu kamu dari segala kenajisanmu dan dari semua pemujaanmu. (Yehezkiel 36:25)

Menurut sejarah dalam tradisi Yahudi, sudah ada sembilan ekor sapi jantan merah (yang dikorbankan) sejak mitzvah (perintah Taurat) diberikan di Gunung Sinai,  dan sapi betina merah kesepuluh akan digunakan di era Mesias (saat kedatangan “AlMasih”). Sapi merah yang terakhir kali dikorbankan disiapkan oleh imam besar Ismael Ben Piavi sekitar tahun 60M dan abunya cukup untuk tiga ratus tahun ke depan.

 

Sains Bertemu Alkitab

Profesor Zohar Amar, seorang profesor di Departemen Studi Tanah Israel di Universitas Bar-Ilan, mempresentasikan hasil studinya  pada Konferensi Lembaga Kuil ke dalam rincian praktis untuk menerapkan kembali mitzvah tentang korban sapi merah. Profesor Amar telah terlibat dalam berbagai bidang penelitian yang menghubungkan Taurat dan sains. Pendekatannya adalah memanfaatkan teknik penelitian kontemporer dalam bidang Studi Yahudi.

“Pembakaran sapi muda merah adalah perintah kitabiah yang dilakukan sampai akhir periode Bait Suci Kedua,” Kata Profesor Amar dalam konferensi itu. “Ini adalah upacara langka yang dilakukan sekali dalam beberapa generasi, dan abunya digunakan untuk menyiapkan air yang disucikan guna melakukan ritual pemurnian. 

Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa praktik pemurnian dengan menggunakan abu sapi merah berlanjut hingga awal abad keempat Masehi. ”

“Rincian pembakaran sapi dan metode mempersiapkan abu muncul secara luas dalam sumber-sumber dari periode Mishnaic (10-220 CE/Common Era), sampai saat ini subjek baru ini masih dipelajari secara teoritis, ”kata Prof Amar, Dia menjelaskan bahwa dia melakukan penelitiannya bekerja sama dengan Temple Institute.

“Eksperimen simulasi pembakaran sapi merah dilakukan untuk mendapatkan jawaban atas  beberapa pertanyaan dalam penelitian ini, seperti: Berapa banyak kayu yang dibutuhkan untuk membakar sapi merah sepenuhnya menjadi abu, dan berapa banyak abu yang tersisa setelah pembakaran ?. Bagaimana mungkin abu dari pembakaran satu sapi, seperti yang terlihat dalam sumber, dapat memasok keperluan ritual selama bertahun-tahun? “

Percobaan ini dirancang untuk memengetahui jumlah abu yang dihasilkan, dan apakah itu akan cukup untuk memurnikan setiap orang Israel yang hidup saat ini.

“Salah satu model yang digunakan untuk melakukan eksperimen ini adalah ritual kremasi yang dilakukan hingga hari ini di India dan Nepal,” Prof. Amar menjelaskan.

“Desain seluruh percobaan memakan waktu berbulan-bulan, dan implementasinya sendiri dilakukan jauh dari mata publik dan media. Setelah menganalisis hasilnya,  barulah bisa  untuk mempublikasikan hasilnya.

Dalam  percobaan, semua spesifikasi yang disebutkan dalam sumber direkonstruksi, dimulai dengan penggalian  sebuah lubang persegi panjang, di mana ditumpuk  kayu-kayu kering dari pohon pinus, pohon ek, dan pohon ara. “

“Untuk tujuan percobaan ini, seekor sapi muda yang matang dipilih dari ras Baladi yang lazim digunakan pada ritual  Israel kuno,” kata Prof. Amar, dia menekankan bahwa sapi yang digunakan dalam percobaan itu bukan  sapi merah.

“Proses pembakaran berlangsung sekitar sembilan jam, dan abu sapi bersama dengan kayu yang digunakan untuk membakarnya menghasilkan beberapa puluh kilogram abu.

 

Jutaan Umat Yahudi Akan Dapat Dimurnikan

Tahap percobaan selanjutnya adalah menentukan berapa banyak orang yang dapat dimurnikan dengan jumlah abu ini. Untuk ritual pemurnian, sejumput abu kecil ditaburkan di atas tong mata air. Pro. Amar memutuskan bahwa untuk memfasilitasi proses ini, sebuah mesin  harus digunakan untuk menggiling abu menjadi bubuk halus.

Untuk satu tong berisi 250 liter air dengan bukaan 60 sentimeter, Prof Amar memutuskan bahwa dengan menggunakan 0,2 -3 gram abu saja sudah  cukup. Jadi hanya perlu sekitar satu gram abu untuk seribu liter air. Ritual pemurnian sendiri nantinya  hanya membutuhkan satu tetes untuk ditaburkan pada setiap orang atau objek benda.

Untuk keperluan percobaan, Prof. Amar menggunakan tandan hisop tiga cabang  biasa, yang dicelupkan ke dalam satu sentimeter air. Dia kemudian menaburkan air ke dalam wadah sepuluh kali. Dengan menggunakan metode ini, ia menentukan bahwa satu percikan  hanya membutuhkan 1/10 dari tiap milimeter air.

 

Satu Langkah Lebih Dekat Untuk Membangun Kuil Ketiga

Rabi Azariah Ariel telah ditugasi mengawasi pencarian seekor lembu merah oleh Temple Institute.

“Agar kita dapat melakukan mitzvah ini, kita masih menunggu lahirnya  sapi betina merah yang halal,” kata Rabbi Ariel kepada Breaking Israel News. “Ini ada di tangan Tuhan. Kami tahu ini jarang terjadi tetapi kami bahkan tidak memiliki statistik untuk menebak seberapa jarang ini sebenarnya ada di alam. Bahkan peternak yang kami wawancarai tidak tahu betapa jarangnya ini. ”

“Saya  siap menerima informasi, apakah hari ini atau beberapa tahun lagi seekor sapi betina merah itu terlahir,” kata Rabbi Ariel. “Tapi Kami sama sekali tidak tahu (kapan itu) dan itu sepenuhnya ada di tangan Tuhan.”

“Kami masih belum memiliki sapi betina merah yang dapat disertifikasi,” kata Rabi Ariel. “Tapi Kami saat ini sedang mengamati dua anak sapi dari jenis Angus yang berusia lima bulan. Menunggu agar mereka lebih layak , seperti yang dijelaskan Alkitab, mereka harus berusia dua tahun lebih satu hari. Tidak ada cacat, tidak ada lubang di telinga. Jika ada dua helai rambut yang tidak merah, sapi muda itu tidak layak digunakan.

Saat ini masih ada masalah Halachic dengan sapi2 itu, karena ada beberapa  helai rambut yang tidak benar benar merah, meskipun ini mungkin akan membaik dengan bertambahnya usianya. ”

“Proyek ini tentu banyak memberi pelajaran  kepada kami,” kata Rabbi Ariel. “Ini adalah hasil penelitian bertahun-tahun terhadap apa yang  tertulis (dalam Al Kitab). Pasti akan ada lebih banyak uji coba sebelum kita siap untuk melakukan ritual (sebenarnya). Tetapi ini tentu saja membawa kita makin dekat untuk mengaktualisasikan kembali mitzvah (perintah) itu. ”

“Tapi dari pihak kami, persyaratan untuk melakukan ritual itu telah ditetapkan di Gunung Sinai,” kata Rabi Ariel. “Mitzvoth bukan pilihan dan kami tidak bisa hanya diam menunggu mereka turun dari surga. Sebagai orang Yahudi, kita harus melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah.

”Temple Institute di Yerusalem telah bekerja selama tiga dekade untuk mendidik masyarakat dan membuat langkah-langkah praktis untuk mempersiapkan Kuil Ketiga.

 

This entry was posted in Update Dari Pusat Dunia and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 69 = 71