MEREKA TAKUT ANCAMAN IRAN, TAPI NASI SUDAH MENJADI BUBUR

Setelah adanya serangan rudal dan Drone ke fasilitas minyak Aramco milik Saudi September 2019 lalu, akhirnya menyadarkan Arab Saudi akan resiko nyata ancaman Iran, karena faktanya sistem pertahanan udara Patriot AS yang dipasang di Saudi gagal mendeteksi rudal dan Drone Iran itu.

Selama beberapa tahun ini Iran telah berulang kali menyuarakan ancaman bagi  semua anggota Negara Arab teluk, bahwa jika AS dan Israel dan sekutu Arabnya menyerang Iran,  maka yang akan menjadi sasaran pertama Iran adalah Negara-negara Arab teluk yang selama ini merelakan diri menjadi basis militer AS, karena serangan AS itu pasti akan dimulai dari sana.

AS dan Israel tentu tidak menyukai jika negara -negara Arab teluk berhubungan baik dengan Iran, karena retorika bahwa “Iran adalah ancaman besar” bagi mereka, adalah senjata penting yang harus selalu disuarakan AS dan Israel untuk membodohi mereka. Sebuah retorika  penting untuk  mengadu domba Suni-Shiah. Itulah kenapa AS dan Israel selalu menyuarakan bahwa Iran adalah bahaya utama dan musuh bersama yang harus ditangani bersama-sama. 

Tapi. nampaknya, para penguasa Arab teluk yang selama ini bergelimang kemewahan duniawi  itu mulai menyadari, bahwa suksesnya serangan Iran ke fasilitas Aramco milik Saudi, yang tidak bisa dideteksi oleh sistem pertahanan AS yg ada di Saudi itu, telah mengirim pesan bahwa ancaman Iran itu tidak main-main.

Negara Negara Timteng itu sepertinya juga mulai tahu, bahwa ancaman yang sebenarnya  adalah justru dari AS dan Isarel, dan bukan Iran, merekalah sumber distablitas kawasan itu. Tapi kesalahan besar telah mereka lakukan dengan bersekutu dengan musuh Islam itu. 

Untuk itu, mereka kini makin intensif mulai mendekati Iran, tapi apakah itu akan cukup meredam kekhawatiran mereka? tentu tidak sesederhana itu.

Paling tidak sudah ada empat atau lima Negara teluk yang sadar hal itu, yang pertama terlihat adalah Kuwait yang sejak tahun 2014 pemimpinnya mulai mengunjungi Iran.

Kemudian disusul Qatar yang sejak 2017 mulai ingin berhubungan baik dengan Iran. Sejak ada langkah pemimpin Qatar ini, Saudi mulai berang dan  kemudian memicu Saudi untuk melakukan  embargo dagang ke Qatar.

Diam-diam, UEA sebenarnya punya ketakutan yang sama dengan Kuwait dan Qatar, mereka bahkan sudah lama melakukan kontak rahasia dengan Iran, tapi mulai lebih terbuka setelah serangan Iran kefasilitas minyak Saudi September 2019 lalu. Pada bulan oktober 2019 lalu, Putra mahkota Qatar Muhammad Bin Zayed (MBZ) melakukan kunjungan langka ke Iran.

MBZ  adalah orang yang memiliki peran dan pengaruh paling besar diantara para pemimpin Arab dan bukan putra Mahkota Saudi MBS, terutama dalam apa yang mereka sebut sebagai meredam pengaruh Iran dikawasan teluk. MBZnya punya peran paling besar dalam membantu proyek-proyek  AS (Israel) dalam konflik Suriah dan Yaman dimana proxi dukungannya  berhadapan dengan proxi Iran.

Tapi sepertinya MBZ kini mulai sadar, bahwa negaranya akan bisa menjadi gurun kembali dalam beberapa menit oleh serangan Iran jika mereka berdiri bersama AS dan Israel untuk menyerang Iran. Itulah sebabnya sejak 2019 kemarin, UEA mulai mengurangi perannya dalam koalisi Saudi di Yaman.

Kesadaran ini juga mulai nampak pada para pemimpin Iraq, dan bahkan Parlemen Irak secara resmi telah menebitkan resolusi untuk mengusir pasukan AS dan sekutu Eropanya dari wilayahnya, meski tidak ada basis militer AS yang besar disana, dan hanya barak pasukan AS.

Negara kecil Arab teluk lainnya yang mulai mendekati Iran adalah Oman. pada Desember 2019 lalu, Menlu Oman Yusuf bin Alawi telah mengunjungi Iran, meski beberapa minggu sebelumnya Menlu Oman itu bertemu dengan Tuannya dari AS menlu Mike Pompeo.  

Dan kini,  kita melihat ada upaya rahasia dari Arab Saudi untuk berhubungan baik dengan Iran, dan itu tentu saja tidak disukai oleh AS dan Israel, karena bertentangan dengan agenda utama mereka untuk menyerang Iran dengan melibatkan sekutu Arabnya.

Jika Saudi yang merupakan Negara Arab teluk terbesar itu juga ingin berhubungan baik dengan Iran, maka ini sudah dianggap keterlaluan oleh AS dan Israel.  AS dan Israel akan kehilangan salah satu pemeran penting agenda besar mereka, yang selama ini terbukti sangat efektif mereka terapkan di Iraq, Suriah dan Yaman, yaitu adu domba Shiah suni,

Lalu kenapa AS harus segera membunuh  Jendral Soleimani ? , apakah hanya sebagai upaya AS dan Israel untuk melakukan provokasi lebih ketat ke Iran, yang artinya adalah bahwa serangan ke Iran sudah dekat?

Melihat bahwa beberapa Negara sekutu AS diTimteng yang mulai goyah dan ketakutan akan kekuatan Iran itu, maka mulai terkuaklah alasan yang mendasari AS untuk memutuskan Jendral Soleimani harus segera dibunuh.

Menurut beberapa platform intelijen global seperti kelompok Stratford, Soleimani harus segara dibunuh karena dia mengunjungi Iraq dalam rangka sebuah upaya rekonsiliasi dengan Arab Saudi  yang diperantarai oleh Iraq dan Pakistan dalam upaya pemulihan hubungan antara Saudi dan Iran.

Sebuah editorial ‘Rusia today‘ mengungkapkan, bahwa ketika Soleimani dibunuh, dia sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Irak Abdul Mahdi. Soleimani bertugas mengirimkan pesan ke PM Iraq untuk kemudian fihak Iraq akan menyampaikannya ke penguasa Arab Saudi.

 

Tapi situasinya telah menjadi tidak sesederhana seperti yang difikirkan para penguasa Arab teluk itu. Karena satu-satunya upaya yang harus dilakukan untuk menghindari ancaman Iran jika AS dan Israel mulai menyerang Iran, hanyalah jika sebelumnya mereka bisa mengusir Basis-basis militer AS dari negaranya. Dan itu bisa dikatakan hampir mustahil.

 

Pada awalnya, dulu  mereka mau bersekutu dengan AS adalah karena mereka percaya dengan ‘bisikan AS dan Israel’ bahwa Iran adalah negara yang membahayakan mereka. Dan jadilah mereka mau  begitu saja menggadaikan  jaminan perlindungan keamanan negaranya dari musuh Islam itu.

Kini kebodohan itu menjadi keputusan fatal yang sebenarnya justru membuat mereka masuk ke jebakan maut. Mereka telah masuk dalam sebuah dilema seperti yang dibilang pepatah “jika dimakan bapak mati tidak dimakan Ibu mati”.

 

Disatu sisi mereka tidak mungkin bisa begitu saja lepas dari cengkeraman AS yang telah menempatkan basis militernya dinegara mereka dan terus mengajak untuk memerangi Iran, tapi disisi lain mereka mulai sadar, bahwa ikut memerangi Iran hanyalah menjerumuskan mereka kedalam resiko ludesnya Negara mereka sendiri itu.  

 

Tapi kita yakin, AS dan Israel tidak akan peduli apakah negara-negara Arab sekutunya itu mau melibatkan milternya atau tidak, serangan AS dan Israel ke Iran hanyalah soal waktu, apakah tahun ini atau setahun lagi atau dua tahun lagi hanya Allah yang tahu. 

 

Negara-negara Arab teluk itu kini dalam dilema besar, sebuah resiko yang harus ditanggung jika bersekutu secara militer dengan musuh Islam. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

This entry was posted in Analisa Geopolitik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to MEREKA TAKUT ANCAMAN IRAN, TAPI NASI SUDAH MENJADI BUBUR

  1. abu fadl abbas says:

    analisa yang sangat cerdas…tp sepertinya min masih lama amerika punya nyali menyerang iran, konsenwensi berat min

    • The admin says:

      Keputusannya ada dipanitianya Israel, penguasa AS itu hanya hanya boneka mereka, jika Israel memutuskan serang, maka pasti segera akan dilakukan AS, jadi bukan soal nyali AS.
      Secara head to head tentu Iran bukan tandingan AS apalagi jika dikeroyok bersama Israel. Tapi Iran punya agenda yang jauh lebih besar dari sekedar kalah/menang dalam perang, yaitu penyambutan AlMahdi, itulah kenapa mereka punya proxi di Iraq, Suriah,Yaman, Lebanon bahkan sampai Aljazair di Afrika utara. Jadi, taruhkan Iran dikalahkan oleh AS dan Israel, mereka masih punya banyak proxi kekuatan yang akan mendukung kedatangan Al Mahdi. Itu yang sementara ini bisa kita baca dari visi akhirzaman.

      • Seffi says:

        Jika ada hubungan serangan AS keIran dengan munculnya Imam, apa ini berarti ada kemungkinan Imam Mahdi akan keluar sebelum Malhamah?

        • The admin says:

          Ayat/hdits yg menyatakan hubungan langsung munculnya Imam mhadi dan Malhamah tidak ada. Tp analisa kita, Jika Iran mulai diserang, maka itu adalah awal malhamah fase 2. Jika Iran diserang, mk Iran akan menyerang basis militer AS diSaudi dan bisa jadi jg ibukota Riyadh.

          Sementara itu, ada Hadits yg menyebut bhw sebelum kemunculan Al Mahdi akan didahului pembunuhan yang belum pernah terlihat sebelumnya atas suatu suku. Sementara ini kita memaknainya akan ada penggunaan nuklir taktis (skala kecil). Jadi ada kemungkinan bahwa serangan ke Iran ada hubungannya dengan dekatnya kemunculan Al Mahdi.

  2. izmailoc says:

    Spertinya Pertengahan blan Ramadhan ,desa desus terdengar ada yang mngatakan terjadinya dukhan ..tetpi hdisnya tdak brgitu kuat ,hnya mnjadi pringatan shja untk kta agar peka dlm smua aspek

    • The admin says:

      Itu yg sering disampaikan ustad2 Youtube itu ya?. Tadinya mereka memahami Dhuhan itu sbg Meteor, skrng mereka banting setir kePerang nuklir khan. LOL

      • izmailoc says:

        btul itu admin ,ad juga mrka mngtakan dkhan itu ad 3 jenis

        yg pertama -prang nuklr
        atau kdua-meteor
        atau ktga -terjdi prang antr aka alien vs miltary(mnusia)

        mnurut sy stlah trjdinya dkhan >jn aka alien trn k bmi untk mmbri bntuan atau phpusan kpda mnusia yg msih hdup djngka trunya di bndr2 mga

        sy dpt info drpda film the arrval yg ad bnyak sri tu jga trmsuk ddlam kjian al-qrn dn hds ..ttpi ianya bg sy hnya mnjaka shja munkn btl atau tdk..

      • Kafta Kahira says:

        Yaah, mau itu perang nuklir atau meteor atau apapun lah, namanya bencana ga ada yang enak.

Leave a Reply to izmailoc Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *